DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 36


__ADS_3

Alfred benar-benar marah dengan apa yang katakan seorang tetua itu, seolah ibunya tidak di anggap di dunia bawah ini. Padahal untuk dirinya sendiri, ia menganggap Laviantha adalah ibunya, terbukti dari dia menambah kata ibu saat menyebut nama itu. Walaupun, Laviantha tidak pernah menganggapnya atau memperdulikannya, Alfred tidak pernah memperlakukan ibu dari adik nya tidak sopan. Bahkan, jika Laviantha marah padanya dan tidak senang padanya. Ia lebih baik diam atau lebih baik pergi, tidak ingin satu kata keluar dan menyakiti hati wanita yang melahirkan adiknya dan istri yang mendampingi ayahnya.


Tetua yang melihat kemarahan raja mereka menjadi diam. Mereka tahu saat ini Alfred benar-benar marah. Mereka tidak menyangka akan seperti ini, dan akhirnya hanya bisa menunduk tanpa berani menatap wajah pria yang mengerikan itu.


"Angkat kepala kalian! Dimana keberanian kalian tadi?" ucapnya dengan suara yang menggelegar, hingga membuat para penjaga yang berjaga dari jarak jauh mendengar suara mengerikan itu, membuat tubuh mereka gemetar.


Tidak seorang pun mengangkat kepalanya, mereka tetap menunduk bagaikan anak yang di marahi ibunya. Melihat mereka diam dan tidak berkutik, Alfred duduk kembali dan berpangku tangan, memejamkan mata, menetralkan emosinya.


Di ruangan itu menjadi hening, tidak ada yang berbicara. Dan cukup lama tidak ada yang berkata, suara seorang pemuda dari arah pintu membuat semuanya menoleh dan menatap nya.


"Apakah kau marah-marah lagi kakak ku sayang?"


Azel mendekat dan duduk di samping kakaknya, menatap satu persatu pria tua yang selalu membuatnya muak.


"Apa mereka yang membuat mu emosi dan amarah mu hingga terasa sampai luar istana?" tanyanya lagi tapi tidak di tanggapi sedikit pun oleh kakaknya. Tahu akan sifat kakaknya, Azel hanya mendengus kesal.


"Kalian," tunjuknya dengan telunjuknya. "Apa kau masih belum menyerah dengan pendapat kalian untuk menjadikan ku raja di dunia bawah ini? Apa kalian tidak tahu bahwa aku sama sekali tidak tertarik dengan tahta ini. Jadi jangan buat hal yang sia-sia dan membuat kakak ku marah. Lebih baik kalian diam, dan hormati kakak ku sebagia raja. Tidak usah pedulikan kata ibu ku yang selalu meminta kalian untuk membujuk kakak menyerahkan tahta ini pada ku. Karena, walaupun kalian berhasil, aku juga tidak akan menerimanya. Bagi ku tahta ini lebih cocok di duduki oleh kakak," ucapnya membuat mereka mendongak, menatap tuan yang di dukungnya.

__ADS_1


Melihat tatapan itu, Azel membuang muka, muak. Dan setelah itu berkata kepada Alfred yang membuat semua terkejut setengah mati. Pikirnya apa apaan pangeran kedua itu, bagaimana bisa meminta sang raja untuk membunuh mereka jik mereka masih ngotot meminta nya untuk turun tahta.


"Kak, jika mereka terus berulah, lebih baik kau bunuh mereka saja. Hancurkan tubuhnya, dan jangan biarkan tubuh itu hidup kembali. Jika perlu binasakan saja selama-lamanya. Karena menurutku tindakan yang mereka lakukan sangatlah kelewat batas."


Mereka para tetua langsung menelan ludah, dan memohon pengampunan, berharap rajanya tidak menyetujui pendapat yang di berikan pangeran kedua.


"Yang Mulia, ampuni kami. Jangan bunuh kami. Kami tahu salah, jangan hukum kami. Kami menyesali apa yang kami katakan, dan tidak akan meminta anda untuk turun dari tahta lagi. Kami akan mendukung anda dan mendampingi Anda dalam memerintah ras demon. Mohon Yang Mulia mengampuni kami," ucapnya bersujud dihadapan Alfred.


Alfred yang melihat merasa malas, ia hanya diam sambil matanya tak lepas dari apa yang mereka lakukan. Sedangkan, Azel yang melihat terkikik geli, sudah pasti para tetua itu ketakutan dengan ancamannya. Karena ia tahu seperti apa kekejaman kakaknya jika memang benar-benar marah. Bahkan ibunya sendiri tidak berani berhadapan langsung jika kakaknya itu marah dan hanya bisa mengandalkan orang lain untuk menghadapi Alfred, si raja demon.


Azel yang mendengar kakaknya mengusir mereka tanpa memberi mereka hukuman, tidak terima. Dia protes, tapi di abaikan dan tetap meminta mereka pergi dari hadapannya.


"Pergilah, jangan muncul di hadapan ku hari ini jika tidak ingin mati," ucapnya lagi dan langsung membuat para tetua terimakasih, setelah itu dengan cepat pergi meninggalkan raja nya.


Azel yang melihat mereka pergi tidak terima, bagaimana bisa kakaknya melepas mereka dengan mudah. Dia tahu, apa yang di katakan mereka tidak lah sungguh-sungguh. Mereka tetap akan membangkang dan tidak menganggap Alfred rajanya, baginya dirinya lah yang pantas menjadi raja di ras demon karena darah yang mengalir di tubuhnya sama-sama dari ras demon, bukan ras lain.


"Kak, kenapa kakak melepaskannya?"

__ADS_1


"Memang apa yang kau inginkan?" Ucapnya malas karena di otaknya hanya kepikiran Anggeline dan Anggeline. Ingin sekali ia lari dan pergi. Tapi jika dirinya pergi semua itu akan menguntungkan pihak yang sebenernya menginginkan apa yang di milikinya.


Alfred tahu para tetua itu menginginkan dirinya turun dari tahta dan menyerahkan kepada adiknya, Karana Azel akan mudah di pergunakan. Setelah Azel memimpin ras demon, mereka akan dengan mudah mendepak Azel dan memberikan tahta itu kepada pria yang di dukungnya. Pria yang tak lain adalah adik dari Laviantha. Azagel Artha. yang ingin menguasai dunia bawah.


Kerakusan pria bernama Azagel akan kedudukan membuat pria itu melakukan apapun, bahkan dengan beraninya dia membunuh ayahnya. Dan semua itu hanya Alfred yang tahu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui. Bahkan Laviantha dan Azel pun tidak mengetahui bahwa sebenarnya ayah dan suami mereka di bunuh oleh pria yang di anggap baik bak seorang malaikat. Tapi sebenernya dia adalah iblis dari para iblis yang keji.


Alfred tidak mengatakannya kepada Azel maupun Laviantha karena tidak adanya bukti Azagel membunuh ayahnya. Oleh sebab itu ia hanya diam, menunggu pria itu bergerak untuk menjatuhkannya. Tapi tidak semudah itu ia akan turun dan menuruti perintah para tetua gila itu. Ia akan menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan dan membunuh, membalaskan dendam ayahnya kepada Azagel, musuh yang lebih kuat dari Alfred Wallace palsu.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2