
Melihat Anggeline bermasalah dengan seorang wanita yang di ketahui adalah putri dari keluarga bangsawan Britt, pemilik rumah makan itu meminta Anggeline untuk segera meminta maaf, agar nantinya tidak mendapatkan masalah dari keluarga yang cukup terpandang itu.
"Nona, maafkan pelayan saya ini. Dan tolong jangan di perpanjang lagi permasalahan ini. Saya akan meminta padanya untuk segera meminta maaf kepada anda," jelasnya agar Leona tidak membuat susah Anggeline.
Anggeline yang mendengar bosnya meminta maaf, dan memintanya untuk segera meminta maaf pada wanita angkuh dan sombong itu tentu saja menatapnya tidak senang. Bagaimana bisa dirinya yang tidak bersalah malah meminta maaf? Bukankah seharusnya wanita itu yang meminta maaf padanya karena telah berani menabrak dan memarahinya? Sungguh dunia memang selalu keji terhadap orang yang tidak memilik derajat sedikitpun.
Anggeline yang tidak terima akhrinya membuka suara, "Pak, bagaimana bisa anda meminta ku untuk meminta maaf padanya. Seharunya dia lah yang meminta maaf pada ku karena telah menabrak dan membuat makanan yang ku bawa tumpah," protesnya tidak terima jika dirinya harus meminta maaf.
Pemilik rumah makan tersebut yang mendengar langsung memberi pelototan kepada Anggeline, meminta nya untuk diam, dan jangan banyak bicara.
"Sttt....Jangan protes. Minta maaf saja jika ingin hidup mu tenang," ucapnya dengan suara pelan.
Pemilik rumah makan sebenarnya memiliki niat baik kepada Anggeline, berharap Anggeline meminta maaf agar setelah ini tidak terjadi sesuatu dengan nya. Tapi melihat Anggeline yang tidak terima dan menolak serta protes, membuat ia geram. Ingin sekali ia menjewer telinga pelayan nya yang keras kepala itu.
"Sudahlah, minta maaf saja. Apa susahnya sih minta maaf dan setelah ini kau akan aman," bisik nya lagi membuat Leona mengerutkan kening melihat dua orang yang saling berbisik. Ia tidak senang karena di abaikan. Bukannya Anggeline secepatnya meminta maaf padanya, tapi yang di lihat mereka malah mengobrol sendiri. Dan itu benar-benar membuatnya geram.
"Apa kalian akan terus mengabaikan ku dan tidak meminta maaf?" tanya Leona dengan nada yang sedikit meninggi.
Pemilik rumah makan dan Anggeline pun langsung diam, dan kini menatap Leona yang menatapnya dengan tajam. Dengan cepat pemilik rumah makan itu langsung meminta maaf lagi karena mengabaikan nya.
"Maaf, nona. Saya hanya meminta Anggeline untuk segera meminta maaf pada anda,"
Anggeline yang mendengar beralih menatap Anggeline dengan tatapan tidak suka. "Jadi sekarang apa kau akan meminta maaf, atau akan terus diam seperti ini?" tanya Leona dengan tangan di lipat di dada.
__ADS_1
Anggeline yang di tanya menatap nya dengan dingin. Ia tetap tidak akan meminta maaf pada gadis sombong seperti itu. "Heh, jangan harap aku akan meminta maaf pada mu. Karena sampai kapan pun aku tidak akan meminta maaf pada gadis sombong seperti itu,"
Jawaban Anggeline benar-benar membuat semua orang terkejut. Namun tidak dengan seorang yang baru datang. Dia malah tersenyum melihat keberanian gadis itu.
"Manis sekali dia," batinnya dalam hati mengagumi sikap Anggeline.
Leona yang mendengar tentu saja semakin marah, ia tiba-tiba mendorong bahu Anggeline hingga mundur beberapa langkah. "Berani sekali kau! Kau akan menyesal karena telah menantang ku!"
"Aku tidak takut sama sekali dengan mu, ataupun keluarga mu. Walaupun aku ini hanya seorang rakyat kecil biasa," jawabnya malah menantang.
Leona benar-benar tidak bisa menahan amarahnya. Ia pun memanggil bawahannya yang berada di luar, "Pengawal!!" teriaknya dengan keras, membuat beberapa pengawal yang di bawanya langsung masuk menghadap nona mudanya.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya seorang pengawal, yang sepertinya ketua di kelompok itu.
"Tangkap wanita itu dan buat dia berlutut di bawah kaki ku," perintahnya membuat semuanya terkejut.
"Anggeline, cepat minta maaf," suruh bosnya itu, namun semuanya tidak di gubris olehnya dan malah menantang wanita di depannya ini.
Beberapa pengawal yang di bawa Leona maju hendak menangkap Anggeline. Namun sebelum tangan mereka menyentuh tubuh Anggeline, suara seseorang menghentikannya.
"Berhenti!" teriaknya membuat semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara, tak terkecuali Anggeline.
Anggeline yang melihat siapa itu mengerutkan kening. Dalam hati, sebenarnya siapa pria itu, berani menghentikan mereka yang ingin menangkap nya.
__ADS_1
Pria itu berjalan mendekati Anggeline dan Leona. Dan saat berada di antara mereka, pria itu menatap bergantian keduanya. Leona dan yang lainnya mengetahui siapa pria itu langsung menundukkan kepala memberi hormat. Berbeda dengan Anggeline yang tidak mengenal siapa pria tersebut, ia tidak menunduk atau pun memberi hormat.
"Hormat hamba, Yang Mulia," sapa mereka semua dengan hormat.
Anggeline hanya menatapnya saja. Namun dalam hati ia bertanya siapa pria itu? Kenapa semuanya memberi hormat pada pria yang tidak dia sukai nya, karena pernah menatapnya dengan pandangan rumit.
"Siapa pria ini? Kenapa semuanya memberi hormat padanya?" batinnya terus bertanya-tanya.
Pria yang memiliki nama Morcant Wals, seorang raja dari ras manusia. Pria yang memiliki ketampanan yang tak kalah dengan Alfred dan Arsenio mengangguk, menerima rasa hormat itu. Dan setelah bertanya tentang apa yang terjadi, sampai membuat keributan di sebuah rumah makan.
"Kenapa ada keributan? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi di sana.
Leona yang sebenarnya menyukai Morcant langsung memasang wajah sedihnya, mengatakan jika dirinya di lukai oleh seorang pelayan dengan menumpahkan sup di tubuhnya.
"Yang Mulia, gadis itu telah membuat saya terluka. Lihatlah pakaian yang saya kenakan menjadi kotor seperti ini." ucapnya memasang wajah semelas mungkin. "Dan ini semua karena dia tidak melihat jalan dengan benar, dan berakhir menabrak saya dan menumpahkan sup itu ke tubuh saya," adunya seolah dirinya benar dan Anggeline yang salah.
Anggeline yang mendengar tetap diam, tidak mencoba membela dirinya. Dan ia malah bersedekap dada menyaksikan drama yang di buat oleh gadis di depannya.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung