
Anggeline yang melamar kerja menjadi seorang pelayan di rumah makan tersebut akhirnya di setujui. Dan ia pun akan berkerja pada esok harinya.
"Terimakasih, tuan."
Setelah di terima, ia pun pergi dan akan kembali ke rumah kakek untuk memberitahukan bahwa dirinya akan bekerja esok hari. Dan ia juga akan meminta sang kakek untuk tidak bekerja lagi, hanya perlu menanam sayur untuk kebutuhan sendiri.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Anggeline akhirnya tiba di rumah kakek.
"Kakek!" teriaknya memanggil.
Kakek yang mendengar langsung menjawab panggilan tersebut. "Kakek ada di belakang,"
Anggeline yang mendengar suara kakek ada di belakang rumah langsung menghampiri. Sedangkan sang kakek yang melihat kedatangan Anggeline langsung berdiri menyambut.
"Kamu sudah pulang?" tanya kakek di angguki nya.
Anggeline meletakkan keranjang nya dan di dalamnya sayurannya masih utuh seperti saat dirinya berangkat. Anggeline yang melihat tatapan kakek kearah keranjang, mendekati dan mengelus lengan itu.
"Kek, maafin Anggel karena tidak bisa menjual habis sayurannya," ucap Anggeline dengan nada sedih. Sebenarnya ia tidak enak hati kepada kakek, karena sebelumnya telah berkata akan menjual sayuran tersebut hingga habis. Tapi kenyataannya tidak sama sekali.
Kakek yang melihat ada kesedihan di wajah Anggeline mengusap kepalanya dengan lembut. "Tidak apa-apa, mungkin belum rezeki," ucapnya agar Anggeline tidak sedih lagi.
Anggeline pun menatap wajah keriput itu dengan senyuman, dan setelah itu berkata. "Oh ya kek, aku tadi melamar pekerjaan di sebuah rumah makan. Dan aku pun di terima. Jadi mulai sekarang biarkan Anggel yang mencari uang, kakek hanya perlu di rumah saja."
Kakek pun hanya bisa mengangguk, dan akhirnya mulai hari itu juga Anggeline akan menjadi tulang punggung di keluarga barunya. Bertahan hidup di wilayah manusia dengan keterbatasan, tanpa adanya kekayaan seperti yang di miliki pada kehidupan sebelumnya.
.
.
.
Pagi hari Anggeline telah bersiap untuk berangkat bekerja. Hari ini pagi-pagi sekali dia sudah berjalan kaki menuju kota untuk memulai hari pertamanya bekerja sebagai pelayan di rumah makan. Dan setelah sampai, ia langsung di bimbing untuk melayani para tamu yang singgah di rumah makan tersebut. Anggeline yang sebenarnya gadis yang cerdas langsung dengan mudah mengerti. Dan kini ia sedang melayani seorang pria bangsawan yang ternyata adalah seorang pria yang beberapa hari lalu memperhatikannya dari kejauhan bersama orang kepercayaan nya.
__ADS_1
"Silahkan, tuan," ucap Anggeline mempersilahkan tuan tersebut untuk menyantap makanan yang baru ia sajikan.
Pria yang kini di layani Anggeline menatapnya dengan pandangan tidak bisa di artikan. Dalam hati ia tersenyum karena bisa bertemu dengan gadis itu lagi. "Akhirnya aku melihat mu lagi," gumamnya dalam hati.
Anggeline yang di tatap seperti merasa tidak nyaman. Ia mengerutkan kening. Wajah sumringahnya kini berubah menjadi dingin saat tatapan pria asing itu menatapnya penuh Dengan keanehan. "Kenapa pria ini menatap ku seperti itu?" gumamnya dalam hati tidak senang.
Tidak ingin terus di perhatikan, Anggeline pun pamit undur diri. "Saya permisi dulu, tuan. Silahkan anda sekalian menikmati hidangannya," ucapnya dengan nada yang sedikit tidak senang. Berbeda dengan sebelumnya yang ramah dan penuh senyum.
Pria yang bersama dengan pria yang terus menatap Anggeline, memanggilnya saat melihat tuannya terus menatap Anggeline yang kini telah pergi.
"Tuan," panggilnya dengan pelan. Namun di abaikan. Pria muda itu menghela nafas, pikirnya ada apa dengan tuannya ini. "Tuan," panggilnya lagi dan akhirnya tuannya itupun dadar dari lamunan nya.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
Pria muda itu tersenyum, dan berkata. "Gadis itu telah pergi tuan. Jadi lebih baik kita nikmati makanan nya sebelum makanan ini dingin," ucapnya membuat pria itu merona. Ia tahu pasti bawahannya itu berpikir bahwa dirinya menyukai gadis yang belum di kenalnya itu.
"Jika anda ingin mengetahui siapa gadis itu, saya akan mencari tahu tentangnya," ucapnya membuat senang tuannya itu. Itulah yang di inginkannya. Entah kenapa sejak melihat Anggeline ia sangat tertarik degan gadis yang menurutnya sangat manis. Walaupun wajah Anggeline seperti gadis pada umumnya, entah kenapa seolah Anggeline memiliki magnet yang membuat dirinya tertarik padanya.
"Baik, tuan," jawabnya dan setelah itu keduanya pun makan bersama.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, pria muda yang tertarik dengan Anggeline kini telah mengetahui informasi siapa Anggeline. Namun informasi itu tidak membuat nya puas, karena tidak bisa mengetahui dari mana asal gadis itu dan hanya bisa mengetahui bahwa belum lama ini Anggeline tinggal bersama dengan seorang kakek tua yang tinggal di lingkungan pinggiran kota.
"Apa hanya ini informasi yang kamu dapat?"
"Benar, tuan. Hanya itu informasi yang saya dapatkan. Dan hari pertama kita melihat gadis itu, itulah hari pertama gadis itu berada di wilayah manusia," jelasnya membuat tuannya mengangguk.
.
__ADS_1
.
.
Di rumah makan tempat Anggeline bekerja. Angelina yang kini sedang membawa makanan di atas nampan, tiba-tiba tubuhnya di tabrak oleh seorang wanita bangsawan yang saat itu sedang tidak memperhatikan jalan, hingga akhirnya membuat makanan yang di bawa Anggeline tumpah dan berserakan di lantai.
"Auuh....Panas, panas," rintih wanita bangsawan yang memiliki nama Leona sambil mengusap pakaiannya yang terkena kuah sup.
Merasakan panas di tubuhnya, ia menatap kearah Anggeline yang diam di depannya tanpa meminta maaf.
"Hei, apa kau tidak punya mata?" marahnya dengan mata melotot.
"Punya," jawab Anggeline santai, seolah dirinya tidak bersalah. Tapi kenyataannya, memang dirinya tidaklah salah.
"Jika ku punya mata kenapa menabrak ku? Lihat, pakaian mahal ku jadi kotor dan basah," kesalnya karena melihat pakiannya mahalnya menjadi kotor. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus minta maaf dan ganti rugi."
Anggeline yang mendengar wanita terus mengoceh menaikkan satu alisnya. pikirnya, apakah wanita itu gila sampai meminta ganti rugi padanya? Bukankah sudah jelas bahwa gadis itulah yang menabraknya. Tapi kenapa dia yang harus ganti rugi. Enak saja.
"Maaf nona, disini saya tidaklah salah. Andalah yang menabrak saya lebih dulu. Jadi jika anda meminta saya untuk meminta maaf dan mengganti kerugian anda, saya tidak akan melakukannya," jawabnya masih dengan nada santai.
Leona yang mendengar tentu saja semakin marah. Wajahnya yang cantik kini merah padam karena marah mendengar ucapan Anggeline. "Berani sekali kau menyalahkan ku. Kau tidak tahu siapa aku. Aku adalah seorang putri dari keluarga____," Belum juga Leona menyelesaikan ucapannya, Anggeline lebih dulu menyela.
"Saya tidak ingin tahu siapa anda, dan dari mana asal anda. Saya tahu nya anda saat ini telah bersalah tapi tidak mau mengakuinya. Seorang gadis bangsawan yang tidak mencerminkan sikap bangsawan. Sungguh memalukan," jawab Anggeline membuat semua orang yang ada di rumah makan itu saling berbisik. Seorang pelayan rendah dengan keberanian tinggi melawan putri dari keluarga bangsawan Britt.
Aksi Anggeline yang berani melawan seorang putri bangsawan membuat keributan di rumah makan itu, dan akhirnya sang pemilik rumah makan pun keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan saat mengetahui Anggeline bermasalah dengan seorang putri bangsawan Britt, ia pun langsung meminta maaf dan meminta Anggeline juga meminta maaf, walaupun ia tahu Anggeline tidak bersalah.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1