
Saat melihat seseorang datang tepat di hadapannya, Anggeline benar-benar terkejut. Pikirnya siapa wanita yang ada di depannya? Tidak mungkinkan wanita itu juga ingin membunuhnya. Memikirkan hal itu, ia mengumpat kesal. Bisa-bisa nya dirinya selalu bertemu dengan kesialan.
"Benar-benar nasib yang buruk,"
Anggeline bangun dan berdiri, menatap wanita cantik di depannya. Seolah menunjukan bahwa dirinya sangat berani dan tidak takut dengan siapapun yang ingin mencelakainya.
"Siapa kau?" tanyanya dengan nada yang tidak senang karena perjalanan kabur di gadang oleh orang yang tidak di kenal.
"Ikut dengan ku," jawab Malaysia membuat Anggeline mengerutkan kening, bingung dengan maksud yang di katakan wanita aneh yang tidak di ketahui siapa namanya.
"Memang nya kau siapa? berani sekali memerintah ku untuk mengikuti mu. Aku tidak mau dan jangan harap aku mau. Oh ya, jangan coba-coba untuk memaksa ku. Jika kau berani memaksa, aku akan memukul mu," tolaknya dengan mengancam. Berharap wanita di depannya takut dengan nya. Tapi semua pikirannya salah, Melysina yang mendengar tidak takut sama sekali. Bahkan dia tidak bergeming, dan tetap diam sambil matanya terus menatap diri Anggeline.
"Kenapa dia diam? Mungkinkah dia sangat ketakutan dengan ancaman ku dan membuatnya menjadi bodoh?" pikirnya menganggap Melysina adalah wanita lemah sepertinya tanpa adanya kekuatan.
"Lebih baik kau menurut, sebelum mereka menyadari jika kau kabur dari mereka berdua," ucapnya mengingatkan bahwa masih ada Arsenio dan Alfred yang mengerikan.
Anggeline diam, membenarkan apa yang dikatakan wanita yang tidak di kenalnya itu. Namun jika dia menuruti apa yang di katakan wanita asing itu dan mengikutinya, apakah nyawanya ini masih akan tetap menempel di tubuhnya atau malah sebaliknya, pergi ke alam baka. Anggeline menatap wanita di depannya dengan intens, seolah meneliti apakah wanita ini baik atau tidak. Namun saat tidak menemukan apakah wanita asing di hadapannya ini baik atau tidak, ia teringat dengan Alfred dan Arsenio yang bisa membunuhnya kapan saja karena telah berani kabur dari mereka. Membayangkan itu, ia bergidik ngeri. "Sungguh sangat menyeramkan," gumam nya pelan.
"Cepat putuskan dan jangan menunda waktu lagi,"
Melysina tidak ingin berlama-lama karena takutnya Arsenio dan Alfred menyadari jika Anggeline tidak berada di sana lagi.
Anggeline tidak semudah itu mau untuk ikut dengan orang asing. Dia tidak ingin salah mengambil keputusan dan berakhir dengan kesengsaraan. "Tidak! Aku tidak akan ikut dengan mu. Jangan mengganggu ku dan lebih baik kau pergi dari sini," jawabnya menolak dan lebih baik dirinya pergi sendiri.
Anggeline berbalik dan setelah itu pergi meninggalkan Melysina yang terus menatap, "Sangat keras kepala," gumamnya melihat Anggeline menolak perintahnya.
Melysina tidak semudah itu membiarkan Anggeline pergi, dia menyusul dan akan membawa paksa Anggeline untuk pergi dari hutan wilayah serigala.
__ADS_1
Anggeline yang telah pergi mencoba berlari dengan cepat untuk menghindari orang-orang yang menginginkan nya. Namun sialnya, sejauh di melangkah dan berlari tetap saja ia di pertemukan dengan orang-orang aneh. Ya, lagi-lagi dia berhasil di hadang oleh Melysina lagi.
"Sialan! Ada apa dengan wanita ini? Kenapa terus mengejar ku?" kesalnya dalam hati melihat Melysina sudah ada di hadapannya.
"Hei, sebenarnya kau itu mau apa? Kenapa mengikuti ku? Bukankah sudah ku katakan aku tidak mau ikut dengan mu, jadi jangan memaksa sialan!" kesalnya dengan emosi.
"Aku hanya ingin kau ikut dengan ku, itu saja," jawabnya membuat Anggeline mendengus kesal.
Bukankah sudah di katakan bahwa dirinya tidak mau, kenapa wanita si depannya ini selalu memaksa dan memaksa.
Belum juga Anggeline berkata dengan kata penolakan, muncul satu orang wanita lagi yang di yakini pasti bawahan wanita yang sejak tadi memaksa nya.
"Ratu, lebih baik secepatnya kita tinggalkan tempat ini. Karena Arsenio dan Alfred telah mengetahui jika wanita itu tidak ada di sana," jelas Ellen dan di angguki Melysina.
Melysina menatap Anggeline, "Paksa wanita itu untuk ikut dengan kita," perintahnya dengan pelan dan tidak dapat di dengar oleh Anggeline. Anggeline yang tidak tahu apa yang di ucapkan wanita pada bawahan mengerutkan kening, apa lagi saat melihat bawahan wanita tersebut melangkah ke arahnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya melangkah mundur.
"Jangan mendekat!" perintahnya tetap melangkah mundur. Namun Ellen yang mendengar tersenyum kecil dan tetap mendekati nya. "Sialan! Dasar wanita gila," umpatnya dan berbalik, mencoba lari dari dua wanita yang di pikirnya sangat gila.
Namun Ellen tidak membiarkan begitu saja. Dia berjalan secepat kilat dan setelah itu memukul tengkuk Anggeline dari belakang, membuat Anggeline langsung pingsan. Dan setelah itu membawanya pergi dari hutan tersebut menuju istana peri.
Sedangkan Arsenio dan Alfred yang mengetahui Anggeline tidak ada disana tentu saja terkejut, mereka pun menghentikan pertarungan, karena Alfred sendiri malah pergi meninggalkan pertarungan lebih dulu untuk mencari keberadaan Anggeline yang hilang lagi.
"Sialan! Kemana wanita itu?" kesalnya mencari keberadaan Anggeline, namun tidak di temukan nya, karena Anggeline sendiri kini telah berada di istana peri bersama Melysina.
Di istana peri, Anggeline kini berada di sebuah kamar. Ia masih belum sadarkan diri dari pingsannya. Dan setelah menunggu cukup lama, mata indah itu bergerak, tanda si empu telah sadar.
__ADS_1
Ugh,
Lenguh-nya sambil memegang lehernya terasa sedikit sakit. Dan setelah berhasil sadar, ia duduk dengan matanya melihat sekeliling. Nampak asing, pikirnya ada dimana dirinya saat ini.
"Dimana ini?" gumamnya bingung. Ia pun berpikir, mengingat apa yang terjadi. Dan saat mengingat semuanya, ia pun tahu dimana saat ini dirinya berada. Mungkin dirinya saat ini ada di tempat dua wanita gila itu. "Kenapa nasib ku sial sekali," gumamnya memikirkan nasib buruknya.
Saat meratapi nasib sialnya, terdengar pintu di buka. Ia melihat ke arah pintu tersebut, dan saat tahu siapa itu, Anggeline mendengus kesal. Lagi-lagi dua wanita gila itu. Sedangkan Melysina yang melihat wajah kesal Anggeline tersenyum kecil, pikirnya sungguh lucu dan menggemaskan wanita manusia itu. Benar-benar sangat imut.
"Kau sudah bangun?" tanya Melysina menghampiri.
Anggeline yang mendengar memutar matanya malas, "Apa dia buta? Bukankah aku sudah melotot seperti ini, apa matanya buta?" ucapnya dalam hati.
Melysina yang tidak mendengar jawaban Anggeline tidak mengambil hati, ia menghampiri dan duduk di sampingnya. Dan setelah itu memerintah Ellen yang membawa makanan untuk menyerahkan kepada Anggeline.
"Makanlah," perintahnya.
Anggeline yang melihat makanan ada di hadapannya, melihat dan setelah itu beralih menatap dua wanita tersebut. Dalam hati dia bertanya. Ada apa dengan dua wanita ini? Kenapa dia nampak sangat baik. "Tidak mungkin kan mereka akan meracuni ku dengan makanan ini?" Batinnya penuh kewaspadaan.
Seolah tahu apa yang di pikirkan Anggeline, Melysina berkata. "Aku tidak memberi racun di dalam nya. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku tidak memiliki niat buruk pada mu, dan hanya ingin membantu."
Mendengar itu, Anggeline mengerutkan kening. Benarkah yang di katakan wanita cantik di depannya? Dan jika itu benar, berarti dirinya harus berterima kasih karena telah menolongnya dari dua pria gila itu. Namun sebelum itu, Anggeline akan memastikan terlebih dahulu, apakah wanita itu benar-benar tulus membantunya ataukah ada niat lain di baliknya.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung