
Anggeline akhirnya tidak bisa menolak permintaan Morcant. Ia duduk di depannya dan saling berhadapan. Morcant sendiri terus tersenyum kecil karana senang tawarannya tidak di tolak lagi. Ia mengambilkan lauk dan di letakkan di piring Anggeline. Dan hal itu sangat terlihat romantis.
"Makanlah," ucapnya hanya di angguki Anggeline.
Anggeline yang melihat perilaku itu merasa tidak nyaman. Mereka terbilang tidak dekat, tapi perlakukan itu seolah memperlihatkan bahwa mereka sangat-sangat dekat.
"Terimakasih, tapi saya bisa mengambilnya sendiri,"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kita membantu," jawab Morcant dengan lembut.
Kedua nya kini saling menikmati makanan yang mereka santap. Dari banyak orang yang melihat, mereka mengira Morcant dan Anggeline adalah sepasang kekasih. Dari pandangan mereka semua ada yang senang dan ada yang tidak senang, terutama tidak senangnya terhadap Anggeline yang mereka pikir tidak tahu malu menggoda raja ras manusia, dan itu benar-benar menjijikkan.
Anggeline yang sedang makan langsung berhenti, ia menoleh ke arah para pengunjung. Dan di lihatnya banyak tatapan yang tertuju padanya. Ia pun menghela nafas karena tahu akan seperti ini. "Sudah aku duga," gumamnya dalam hati.
Namun tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang membuatnya merinding, entah apa itu ia tidak tahu. Dengan cepat Anggeline melihat sekeliling, mencari sesuatu tersebut. Tapi tetap saja tidak menemukan, hanya menemukan tatapan para wanita yang terang-terangan menatapnya tidak suka.
"Aku merasa ada yang memperhatikan ku dengan hawa membunuh? Tapi siapa dan di mana?" gumamnya berpikir dengan diam.
Morcant yang melihat Anggeline berhenti makan, dan diam, memanggilnya.
"Nona," panggilnya dan langsung membuat Anggeline sadar dari lamunan nya.
"Tidak, hanya saja kenapa nona diam. Apakah ada sesuatu yang anda pikirkan?"
__ADS_1
Anggeline yang tidak ingin Morcant tahu, langsung menggeleng. "Tidak, tidak ada yang saya pikirkan. Hanya saja saya teringat dengan keluarga," jawabnya berbohong, tidak ingin Morcant tahu bahwa seperti ada yang mengawasinya dengan tajam.
"Keluarga?" Morcant mengangguk mengerti. Dan mereka pun melanjutkan makan malam bersama.
Baru saja mereka selesai, seorang pria dengan mata biru tiba-tiba datang dan menarik tangan Anggeline. Anggeline yang tangan nya di tarik oleh seseorang langsung mendongak menatap pria itu, begitupun dengan Morcant yang terkejut melihat kedatangan seseorang tersebut.
"Pulang," perintahnya sambil menyeret Anggeline.
Anggeline yang tidak mengenal siapa pria itu tentu saja memberontak, mencaba lepas. Tapi cengkraman pria itu terlalu kuat, membuat tubuhnya terseret mengikuti langkah pria asing, yang sebenarnya adalah Alfred yang saat ini dalam penyamarannya.
Morcant yang melihat Anggeline tidak ingin mengikuti pria itu, menyusulnya. Dan menghentikan langkah mereka.
"Berhenti!" perintahnya menatap tangan Anggeline yang di genggam oleh Alfred. "Lepaskan dia," sambungnya memberikan tatapan tajam pada pria asing di depannya.
"Memang siapa kau, berani menghentikan ku," ucap Alfred tanpa takut sedikit pun.
Alfred bukannya takut, ia malah tersenyum menyeringai. "Jadi kau raja rasa manusia?"
"Benar. Sekarang lepaskan dia. Jika tidak aku akan memberi mu pelajaran," ancamnya, namun malah di tertawai Alfred.
"Hahahaha......Kau pikir aku takut dengan ancaman mu ini? Walaupun kau raja di wilayah ini, aku sama sekali tidak takut dengan mu," jawabnya malah menantang.
Mendengar pria asing yang berani kepadanya, Morcant menatap diam. Sebenarnya siapa pemuda ini? Kenapa berani terang-terangan mendatang di wilayahnya dan malah menantangnya?
__ADS_1
"Tuan, ku harap kau tidak menyesal setelah ini,"
"Sama sekali tidak menyesal," jawab Alfred dengan santai.
Anggeline yang terus di tahan Alfred sangat-sangat kesal dengan pria yang tidak di kenalnyalnya itu. Pikirnya pemuda itu sungguh sangat lancang terhadap nya. Dan itu tidak bisa di bairkan.
"Lepas! Lepaskan aku,"
Alfred menoleh ke arah Anggeline yang memberontak. Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu bukanlah senyum yang tulus, melainkan senyum yang mengerikan. Seolah di balik senyum itu mengisyaratkan bahwa akan ada sesuatu yang mengerikan.
"Jika kau terus memberontak, aku akan membunuh mu saat ini juga," ancamnya dengan nada dingin, tidak senang Anggeline menolaknya.
Morcant yang tidak tahan melihat Anggeline di ancam seperti itu, mengepalkan tangan. Ia memerintah pengawal banyangan nya untuk menyerang dan menangkap pria tersebut. Dan dalam sedetik, muncul beberapa pengawal bayangan yang berdiri di depan dengan senjatanya di tangannya.
Alfred yang melihat kembali tertawa, mungkinkah raja ras manusia seorang penakut? Sampai memanggil pengawal bayangan hanya untuk menangkapnya. Lucu sekali, pikirnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung