
Setelah ribut dengan pria bangsawan tersebut, Anggeline pergi meninggalkan pria yang menurutnya gila. Ia pergi bersama kakek yang telah di tolong nya menuju kediaman kakek tersebut.
Setelah sampai di tempat tinggal kakek tua itu, Anggeline menatap bangunan yang ada di depannya, nampak kumuh dan tidak layak di huni. Ingin sekali ia menangis melihat hal itu, ingin sekali membantu. Tapi saat dirinya sendiri susah di dunia barunya, ia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kakek, apakah ini rumah kakek?" tanya Anggeline dengan nada lembut.
"Banar nak, ini rumah kakek. Maaf jika gubuk kakek seperti ini," ucapnya, tanpa ada kesedihan sedikit pun di matanya tentang keadaan nya yang memprihatinkan Karena menurutnya rumah nya adalah hal ternyaman baginya. Walaupun jelek dan tidak layak asalkan itu miliknya, ia akan merasa nyaman, tenang dan bahagia.
Anggeline yang melihat wajah tua itu tetap mengulas senyum, ia juga ikut tersenyum. Entah kenap ia juga ikut bahagia.
"Ayo masuk," ajaknya membawa Anggeline untuk masuk ke gubuk kecilnya.
Anggeline mengangguk dan setelah itu mengikuti langkah kakek masuk kedalam rumah tersebut. Rumah yang sebenarnya tidak layak di katakan bukan rumah.
Saat masuk ke dalam, Anggeline melihat sekeliling. Lagi-lagi ia menghela nafas. Sungguh miris sekali pikirnya.
"Kek, apa kakek tinggal sendiri disini?" tanya Anggeline yang tidak melihat seorang pun di sana.
"Ya, kakek tinggal sendirian disini," Jawabnya dengan langkah pelan mengambil air minum untuk Anggeline. "Minumlah, hanya ini yang kakek punya," ucapnya sambil menyerahkan air minum di gelas bambu.
Anggeline menerimanya dan meneguknya hingga habis. Rasa haus karena habis cekcok dengan pria bangsawan membuat lehernya terasa kering. Ia pun meletakkan gelas bambu di meja usang. Kakek tua yang melihat Anggeline nampak kehausan menawari nya lagi minuman, namun dengan cepat ia menolak, karena tidak enak merepotkan kakek tua tersebut.
"Jika boleh tahu siapa nama mu nak?" tanya kakek tua tersebut.
"Anggeline, kakek," jawabnya
Anggeline, nama yang bagus." Kakek itu mengangguk. "Jika boleh kakek tahu, apakah kamu baru di tempat ini?" tanya kakek itu yang nampak asing dengan wajah Anggeline.
Anggeline mengangguk, membenarkan pertanyaan kakek tua itu bahwa memang dirinya baru di tempat ini. "Ya, aku memang baru tiba di tempat ini, kek," jelasnya.
.
__ADS_1
.
.
Setelah berbincang cukup lama dengan kakek tua itu, malam pun tiba. Dan Anggeline akhirnya bermalam di rumah kakek atas permintaan nya, karena tidak mungkin baginya malam itu untuk mencari penginapan.
"Tidurlah, ini sudah malam," perintah kakek agar Anggeline segera istirahat. Karena ia yakin gadis itu pastilah lelah setelah tiba di wilayah manusia.
"Baik, kek," jawab Anggeline dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Sedangkan kakek sendiri tidur di lantai hanya beralaskan kain lebar yang sudah usang.
Pagi hari, Anggeline bangun. Pandangannya melihat ke ruangan tersebut. Nampak sepi. "Di mana kakek?" gumam Anggeline yang tidak menemukan keberadaan sang kakek.
Ia pun turun dari tempat tidur, dan keluar dari rumah. Terlihat sang kakek sedang mengambil kayu di halaman depan. Anggeline yang melihat tubuh renta itu bekerja keras, menatap nya dengan diam.
"Kasihan kakek," gumamnya dan menghampiri.
"Kek," panggilnya saat berada di samping kakek. Anggeline pun membantu kakek mengambil kayu tersebut.
"Sudah bangun?" Anggeline mengangguk. "Aku bantu, kek," ucapnya menawarkan diri. Dan kakek pun mengangguk.
..
..
"Kakek di rumah saja, biar aku yang pergi. Aku akan menjual sayuran ini," ucapnya mengambil sayuran yang ada di keranjang. Sayuran yang di petik kakek di halaman belakang. Ya, demi mencukupi kebutuhan dan bertahan hidup, kakek tua itu menanam sayur di belakang rumahnya dan setelah panen akan menjualnya di kota untuk dapat menghasilkan uang.
"Kakek jadi merepotkan mu," ucapnya tidak enak hati
"Tidak apa-apa kek, aku senang membantu mu," ucap dengan senyuman manis. "Kalau begitu Anggel pergi dulu, kek," pamitnya dan di angguki.
"Hati-hati dijalan. Jika sayurannya sudah habis lekas pulang,"
__ADS_1
"Baik kek," jawabnya dan mengendong keranjang itu dan pergi.
.
.
.
Anggeline berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke kota. Keringat di dahi beberapa kali ia seka, dan sesekali ia berhenti untuk menghilangkan lelah.
Glek....Glek...
Anggeline meneguk air dalam botol bambu yang yang berikan kakek sebelum berangkat. Dan setelah sampai di kota, Anggeline langsung menjual dagangannya di pasar. Berharap dagangan nya laris manis hari ini. Namun hingga siang hari satu pun dagangan belum laku sama sekali, hingga membuatnya beberapa kali menghela nafas.
"Jika satu pun dagangan ini tidak laku, bagaimana dengan kakek? Mungkin kakek benar-benar mengharapkan hasil dari sayuran ini," gumamnya sambil melihat sayurannya yang sudah mulai layu.
Anggeline terus menawarkan sayurannya. Namun tidak ada seorang pun yang mampir untuk membeli. Hingga akhirnya sore pun tiba. Ia pun memasukkan kembali sayuran itu kedalam keranjang untuk di bawa pulang kembali.
Saat dirinya berjalan untuk pulang, ia melihat sebuah pengumuman terpampang di depan sebuah rumah makan. Sebuah pengumuman menjadi pelayan di rumah makan tersebut. Melihat itu, Anggeline berniat untuk melamar. Berharap ia dapat di terima.
"Apa aku coba saja ya? Siapa tahu bisa di terima," gumamnya dan masuk kedalam rumah makan tersebut. Tapi sebelum itu ia meletakkan keranjang nya di depan rumah makan tersebut.
"Pak titip keranjang ini ya," Dua penjaga yang berjaga di depan pintu mengangguk, dan setelah itu Anggeline masuk untuk menemui petugas yang mengurus lamaran pekerjaan di rumah makan tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung