DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 24


__ADS_3

Kedua pemimpin wilayah itupun saling berhadapan, Melysina dengan senyuman manisnya dan Alfred dengan wajah dinginnya.


"Yang Mulia, lebih baik kita masuk dulu. Kita bicarakan semuanya di dalam," ucap Melysina agar pembicaraan mereka merasa nyaman.


Melysina tidak ingin berkonflik dengan ras vampir. Karena, jika dia membuat masalah dengan ras vampir, sudah di pastikan ras vampir akan membinasakan rasnya.


Alfred yang di tawari tidak menjawab satu katakan pun. Namun kakinya tetap melangkah masuk mendahului Melysina. Tapi sebelum mereka benar-benar masuk kedalam istana, Melysina menghentikan langkahnya.


"Yang Mulia, bisakah anda menarik kembali kelelawar anda?"


Alfred menoleh, dan melihat para penjaga yang di serang kelelawarnya. Dan tanpa berkata, ia menjentikkan jarinya kembali, membuat kelelawar penghisap darah menghilang dalam sekejap. Dan setelah itu ia berjalan masuk meninggalkan Melysina yang menghela nafas.


"Dasar pria vampir gila," kesalnya dalam hati melihat sikap Alfred yang acuh dan datar.


Melysina pun menyusul Alfred dan duduk di kursi sebelah Alfred sambil tangannya menuangkan air dalam cangkir kecil.


"Silahkan, Yang Mulia," ucapnya lupa bahwa Alfred tidak meminum air biasa.


Alfred yang di tawari minuman biasa melirik sekilas dan mengabaikan kembali, tidak tertarik sedikitpun dengan minuman itu, terasa ingin muntah melihatnya saja.


"Apa kau ingin membunuh ku meminum minuman itu?" ucapnya dengan nada dingin.

__ADS_1


Melysina yang mendengar mengerutkan kening, bingung. Namun saat mengingat Alfred tidak minum minuman biasa dan hanya minum darah, ia pun menghela nafas dan meminta maaf, "Maaf saya lupa akan hal itu," ucapnya meletakkan kembali cangkir yang ia pegang sebelumnya. "Tapi saya tidak memiliki minuman yang anda sukai, Yang Mulia. Jadi maaf jika saya tidak menyediakan nya untuk anda," sambungnya membuat bibir Alfred menyeringai.


"Benarkah kau tidak memiliki?" tanyanya membuat Melysina langsung menatapnya tajam.


"Apa yang anda katakan, Yang Mulia? Jangan harap saya menyetujui permintaan anda." ucapnya waspada, berharap Alfred tidak meminta hal itu.


Alfred tersenyum kecil, lucu sekali ratu peri itu. Walaupun terlihat manis, namun Alfred tidak tertarik sedikitpun. Hanya Anggeline lah yang menurutnya menarik dimata nya.


Sambil menjaga jarak dari pria mengerikan itu, Melysina bertanya kembali, kenapa pria itu datang tiba-tiba di tempatnya. "Yang Mulia, jika boleh saya tahu, apa yang membuat anda datang kemari?"


"Aku mencari seseorang. Dan seseorang itu pastinya berada di sini," ucapnya membuat Melysina langsung menangkap maksud yang di katakan Alfred.


"Apakah dia mengetahui, jika aku yang menyelamatkan Anggeline?" ucapnya dalam hati, berpikir. Namun demi melindungi Anggeline dari pria mengerikan itu, Melysina menutupi semuanya dan pura-pura tidak mengerti maksud ucapan Alfred.


Alfred yang mendengar melirik sekilas dan kemudian menjawab pertanyaan itu, "Aku yakin kau tidak sebodoh itu Mel," ucapnya dengan nada santai.


"Tapi saya benar-benar tidak mengerti maksud anda, Yang Mulia," jawabnya lagi masih kukuh untuk tidak mengatakan jika sebelumnya Anggeline pernah bersamanya.


"Jadi kau tetap tidak mau mengakui?"


"Tidak ada yang perlu di akui, Yang Mulia. Saya memang tidak mengerti maksud anda tidak tahu tentang seseorang yang anda cari itu,"

__ADS_1


"Baiklah, jika kau tidak menjawab. Tapi setelah ini jangan salahkan aku, jika wilayah mu rata dengan darah," ancamnya berharap Melysina berkata jujur telah membawa Anggeline bersamanya.


Ellen yang mendengar ancaman tersebut langsung menarik pedang nya, dan mengarahkan nya ke arah Alfred. Alfred yang melihat hanya diam saja, sedangkan Melysina langsung menghentikan Ellen. "Berhenti! Apa yang kau lakukan Ellen?" tanyanya tidak ingin sikap Ellen membuat Alfred marah.


Mendengar Melysina mengentikan Ellen untuk membunuhnya, Alfred berkata. "Biarkan dia melakukan, karena aku yakin dia memang tidak takut mati,"


Mendengar ucapan itu sudah di yakini Melysina bahwa Alfred kesal terhadap Ellen. Dan ia tidak tahu apa yang akan di lakukan Alfred pada orang kepercayaan nya itu.


"Yang Mulia, maafkan bawahan saya yang lancang ini. Jangan beri dia hukuman, biarkan saya sendiri yang mendisiplinkan nya,"


"Baiklah. Tapi sebelum kau mendisiplinkan nya, aku akan lebih dulu membuatnya mengerti, siapa yang di hadapinya ini," ucapnya menggerakkan satu jari, membuat sebuah kekuatan muncul di atas telunjuk nya. Dan setelah itu melepaskan nya ke arah Ellen.


Ellen yang melihat langsung mundur dan mencoba menghindar. Namun setiap kali dia menghindar, kekuatan itu terus mengejarnya dan akhrinya tubuhnya pun terpental dan terluka akibat kekuatan yang di lepaskan Alfred.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2