Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
10


__ADS_3

"Ehem! Siang!" Andre berdiri di belakangnya sambil berdehem. Rachel terlihat kaget dan semua mata tertuju pada Andre sekarang.


"Pak Andre, apa benar... "


"Sudah selesai makan siang? Segera selesaikan tugas kalian!" ucap Andre dengan nada dingin. Membuat mereka membubarkan diri dan menunduk patuh pada pekerjaan. Andre melirik Rachel sejenak lalu masuk ke ruangannya. Sampai sore tak ada yang berani masuk ke ruangannya. Mereka bekerja dalam suasana tertekan.


"Sst... Hel!" Cecil memanggilnya.


"Apaan?" tanya Rachel


"Ada apa sih? Kamu kenapa?" tanya Cecil.


"Maksudnya?"


"Kamu dipanggil pak Andre tuh, dari tadi," tunjuk Cecil ke arah pintu ruangan Andre yang terbuka dan pria itu sedang menatapnya menunggu di depan pintu. Rachel segers beranjak dan mengikutinya. Hari ini sepertinya cobaan bertubi-tubi.


"Duduk!" perintahnya pada Rachel. Dengan canggung Rachel duduk menunggu Andre berbicara.


"Jadi? Apa teman-temanmu kepo dengan urusan kita?" tanya Andre. Rachel mengangguk.


"Ada videonya, jadi gimana pak?" tanya Rachel.


"Kamu jelasin aja kalau kita sebenarnya mau ketemu siapa gitu, terus cowok kamu cemburu,"


"Dih! Ogah!" kata Rachel. Bram bukan pacarnya dan lagi Rachel belum tau apa penyebab perkelahian orang di depannya itu dan sahabatnya.


"Jadi mau alasan apa?" tanya Andre.


"Ya apa kek, bilang aja bapak ketemu musuh bebuyutan. Saya males dilibatkan dengan hal-hal gini," kata Rachel.


"Ya udah terserah kamulah, yang penting nggak ada rumor. Nah sekalian nih tugas kamu," Andre menyerahkan sebuah note untuknya.


Mata Rachel membesar, "Serius ini minta bikin kayak gini dalam tiga hari?" tanya Rachel.


"Sesuai permintaan yang tertulis, kalau nggak sanggup kamu ajak satu lagi tim kamu untuk bantu," kata Andre santai.


"Nanti saya tanya dulu pak, kalau nggak terkejar waktunya gimana?" tanya Rachel.


"Masa hal begini kamu masih nanya juga, udah sana kerjain dulu. Mumet kepala saya," Andre mengusirnya. Rachel kesal tapi tetap membawa note yang diberikan Andre. Bagaimana mungkin ia bisa mengerjakan mini komik untuk tiga hari ke depan. Biasanya kalau ada permintaan pasti mereka akan menunggu sampai selesai. Ini malah menentukan kapan selesainya. Rachel sedang banyak pekerjaan dan masih harus memikirkan hal ini.

__ADS_1


Rachel menghempaskan tubuhnya ke kursi dan membuang napas.


"Setres ya jeng?" tanya Boy


"Kepo kamu! Eeeh tapi sini deh," panggil Rachel, Boy mendekat ke arahnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Mau job tambahan nggak?" bisik Rachel. Binar mata Boy tak bisa bohong.


"Mau dong, ada permintaan?" tanya Boy.


"Ada, nih. Baca aja, lumayan loh mini komik begini," kata Rachel


"Tiga hari? Ini sih kerja gila!" protes Boy.


"Mau nggak?" tanya Rachel. Boy mempertimbangkannya, lalu akhirnya ia mengangguk. Rachel bersorak dalam hati. Nanti ia akan mengedit-edit sedikit sebelum diserahkan. Bukankah itu bentuk kerjasama dengan tim juga? Rachel terkikik dalam hati. Ia akan bebas tugas tambahan dari Andre.


***


"Kok ada di sini?" tanya Rachel saat ia membuka pagar dan melihat Bram sedang duduk bersama Noey di teras rumahnya.


"Dih sewot!" Rachel membalas Bram sambil membuka kunci pintu.


"Kakak kamu kenapa sih?" protes Rachel menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia lelah sekali.


"Nggak tau, dari tadi mukanya berkerut terus. Ditanyain diam aja dia," kata Noey.


"Apa gara-gara tadi siang ya?" gumam Rachel.


"Emang kenapa tadi siang?"


"Mereka berantem,"


"Siapa?"


"Bram sama temen kantorku, entah apa masalahnya. Nanti aku tanya dia. Aku mau mandi dulu," kata Rachel beranjak ke kamar mandi.


Noey keluar kamar Rachel dan melihat Bram sedang duduk melihat ponselnya.

__ADS_1


"Kak,"


"Hmmm,"


"Kakak kenapa sih?" tanya Noey.


"Kepo kamu anak kecil," kata Bram mengacak rambut adiknya.


"Yeee aku udah besar tau!" kata Noey yang kesal rambutnya jadi berantakan.


"Hai!" Rachel bergabung bersama mereka, wajahnya cerah setelah mandi. Aroma sabun menguar di sekitar mereka.


"Kalian nginep sini kan?" tanya Rachel memastikan.


"Ya iyalah!" jawab Bram sinis. Rachel dan Noey saling bertanya lewat tatapan mata. Noey menggeleng tak mengerti.


"Gak apa kalian nginep sini? katanya mau di tempat bunda," Rachel masih mencoba membuka percakapan di tengah suasana yang terasa dingin.


"Udah selesai. Jadi nggak boleh kami di sini?" tanya Bram menatap Rachel.


"Ya nggak gitu, nggak enak aja sama bunda," kata Rachel.


"Nggak apa kak, tadi juga bunda yang nyuruh kita ke sini untuk nemenin kak Rachel. Kesian sendiri di sini belum ada temennya," Noey cepat-cepat menjawab sebelum Bram mengeluarkan kata-kata yang tak enak di dengar.


"Ooh gitu, makasih ya," kata Rachel yang masih mencoba tersenyum. Bram hanya menggumam pelan lalu beranjak ke salah satu kamar dan meninggalkan kedua gadis itu di ruang tengah.


"Kenapa sih dia?" kata Rachel.


"Lagi PMS kali," jawab Noey. Mereka pun cekikian berdua.


Malam itu Rachel dan Noey asyik mengobrol santai di ruang tengah sambil menonton televisi. Bram tak ada keluar kamar kecuali saat ia makan malam bersama kedua gadis. Dan ia lebih banyak diam, tak seperti biasanya.


Noey menguap saat jam menunjukkan pukul 22.35. Ia pamit untuk tidur, sedangkan Rachel berjalan menuju dapur untuk minum. Setelah minum ia akan masuk ke kamarnya tapi diurungkannya.


Ia meletakkan sebotol minyak, 3 buah plaster untuk luka juga air putih hangat juga beberapa potong buah melon. Ia meletakkannya diatas nampan lalu mengetuk pintu kamar Bram. Bram hanya diam saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia tahu itu Rachel. Ia sedang malas membahas kejadian siang tadi, jadi ia membiarkan Rachel menunggu di balik pintu dan memanggilnya. Ia berpura-pura tidur.


"Bram, kamu kenapa sih? Maaf kalau aku ada buat salah. Ini aku letakkan obat dan buah di depan pintu. Semoga lukanya lekas sembuh," kata Rachel di depan pintu kamar Bram. Bram tersenyum sambil memegang bibirnya yang luka. Gadis itu memang peka. Ia tersenyum dan bangkit dari tempat tidur. Rasanya ia sudah menghukum Rachel kelewat polos itu.


Namun saat membuka pintu, Rachel tak ada di depan pintu. Tapi di sana ada air, minyak obat dan plaster, juga beberapa potong buah melon. Bram meraih nampan itu dan membawanya masuk ke kamar. Ia akan memplaster lukanya dan memakan buahnya sambil membalas beberapa pesan dari temannya.

__ADS_1


Sementara itu Rachel langsung berbaring menarik selimutnya hingga ke leher dan tidur. Ia tahu Bram tak akan mengabaikannya. Cuma Bram gengsi harus bercerita lebih dahulu. Bersahabat dengannya bertahun-tahun, ia tentu tahu kebiasaan Bram. Bram tak akan lama-lama mendiamkannya atau marah padanya. Cuma ia masih belum menemukan apa yang membuat Bram marah padanya. Semoga besok Bram sudah memaafkannya dan mereka bisa bertegur sapa seperti biasanya.


__ADS_2