Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
13


__ADS_3

Malam itu Bram pulang bersama Noey. Tinggal Rachel dan Cecil setelah sebelumnya Bram mengambil barang Cecil di kosannya dan di pindahkan ke rumah Rachel.


Setelah Cecil beristirahat, Rachel menuju lantai atas menyiapkan beberapa pekerjaan atau sekedar membaca. Ia tak bisa tidur.


Rachel menghidupkan komputernya, tapi selama satu jam tak ada yang dapat dilakukannya. Gambar yang ia buat selalu terasa salah. Ia juga kehilangan selera membaca buku. Rachel berdiri di jendela kamar dan menatap taman di depan rumahnya. Taman itu sepi hanya ada satu orang dewasa sedang duduk.


Lama Rachel memperhatikan tapi orang tersebut hanya duduk diam di ayunan. Tak lama orang tersebut menatap Rachel dan seperti tersenyum. Rachel berdiri kaku, lalu ia masuk ke kamarnya. Ia takut. Entah siapa yang selalu duduk di taman itu. Bukan hanya kali itu ia melihatnya. Rachel yakin karena ciri khas rambut orang itu tak mudah di lupakan. Rambut keperakan. Seperti bersinar di dalam gelap malam apalagi tertimpa cahaya bulan. Akan semakin indah terlihat.


Rachel berjalan menuju kamarnya dan segera tidur. Melupakan apa yang baru saja dilihatnya meski tak mudah. Lewat tengah malam ia baru tertidur.


***


Rachel bangun kesiangan! Ia beranjak ke kamar mandi dan mandi terburu-buru. Saat ia ke dapur dilihatnya Cecil sedang membuat sarapan.


"Kok masih santai?" tanya Rachel. Cecil menatapnya dari kepala hingga kaki.


"Santai? emang mau kemana?" tanya Cecil.


"Ya ampun, ini udah jam berapa? Kamu mau di marah bu Andini lagi? kita bakal telat nih, cepat siap-siap," Rachel mematikan api kompor dan mendorong tubuh Cecil agar bersiap bekerja.


"Bu Andini? kita mau ke kantor?" tanya Cecil.


"Ya ampun Cecil, iya dong. Ini udah jam berapa? jangan bilang kamu ijin masuk," kata Rachel.


"Yeee nggak ah, ngapain ijin-ijin segala. Aku tetap nggak masuk," kata Cecil.


"Kamu mengundurkan diri?" tanya Rachel.


"Nggak, aku maunya di rumah aja,"


"Kamu masih takut ada dia?" tanya Rachel. Cecil menghentikan kegiatan menggorengnya dan menatap Rachel. Rachel jadi kikuk karena mengungkit tentang kehidupan Cecil dan Adit.


"Nggak kok, ya ampun Heeellll... kamu nggak tau kalau ini masih libur?" tanya Cecil.


"Haaa?" Rachel berlari ke kalender yang bertengger manis di dapur. Ternyata tanggal merah!

__ADS_1


"Hihihi semangat banget mau kerja, mau ketemu pak Andre yah?" godanya.


"Hmmmh... nggak kok, cuma kerjaanku masih banyak yang belum selesai," kata Rachel.


"Santai aja, aku yang tugasnya lebih banyak aja di bawa santai. Nih makan dulu, aku nggak bisa masak sih. Enakin aja yah," katanya sambil menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur ceplok.


"Makasih, kamu repot-repot masak pagi-pagi," kata Rachel sambil menyuap nasi goreng yang rasanya luar biasa enaknya.


"Nggak kok, emang aku suka masak. Dan sebagai ucapan makasih juga udah mau nampung aku di sini," kata Cecil.


"Santai aja ah, aku kan udah bilang aku malah seneng kamu di sini. Aku ada temennya," kata Rachel.


Mereka sarapan sambil ngobrol santai.


"Sarapannya masih ada?" tanya Bram yang langsung duduk di meja makan.


"Enak banget datang-datang minta sarapan," kata Rachel.


"Ada nih, sebentar," kata Cecil. Bram menjulurkan lidahnya dari seberang meja.


"Hmmm masakan kamu semakin enak, aku kangen masakan kamu, udah lama nggak di masakin," kata Bram.


"Modus!" kata Rachel. Bram mengabaikannya.


"Makanlah," kata Cecil sambil tersenyum.


"Aku juga kangen udang saos buatan kamu," kata Bram.


"Kapan-kapan aku bikinin," kata Cecil.


"Hari ini dong, nanti kita belanja,"


"Tapi.... "


"Udah gak apa, kan ada aku," kata Bram menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Yuk Hel, kita ke pasar. Nyari bahan masakan," ajak Cecil.


"Nggak usah, dia nanti banyak jajannya," kata Bram.


"Siapa juga yang mau ikut, jadi kambing ompong ntar. Maaf ya Cil, aku nggak ikutan. Mau ngerjain sisa tugas," kata Rachel.


"Ya udah nggak apa," kata Cecil.


Setelah sarapan, Bram dan Cecil pergi belanja. Rachel pergi ke lantai atas dan menyelesaikan tugasnya. Aroma parfum yang sama muncul lagi.


"Siapa kamu?!?" teriak Rachel berputar di kursinya. Angin berhembus melalui jendela.


"Kalau berani keluar!" bentaknya lagi. Tak ada suara maupun gerakan apapun selain tirai jendela yang dimainkan angin pagi.


Rachel berjalan menuju jendela dan melihat ke sekeliling. Tak ada siapapun. Baik di dalam maupun di luar. Bahkan taman di hadapan rumahnya pun sedang sepi.


Rachel kembali duduk dan membuka sebuah buku yang masih kosong. Ia akan menulis sebuah cerita mini. Tapi lagi-lagi angin memainkan kertas hingga ia membalik sendiri.


"Siapa sih? iseng banget!" kata Rachel meski hatinya merasa takut. Sepertinya yang ia hafapi bukan manusia. Tak mungkin manusia bisa melakukan hal itu tanpa terlihat. Bulu kuduknya meremang seketika.


Rachel berjalan menuju jendela dan menutup jendelanya. Lalu berjalan kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya. Saat ia sedang asyik menulis, lagi-lagi angin menerbangkan kertas yang ada di hadapannya.


Wangi parfum yang sama kembali menyengat. Meski ia menyukai aromanya namun di saat suasananya seperti sekarang ia justru merasa takut. Rachel melirik ke kiri dan ke kanan, tak ada siapa pun.


Rachel berjalan menuju pintu dan melihat keluar. Tak ada siapapun. Rachel menutup buku yang tadi hendak di gunakan. Lalu membereskan mejanya dan merapikan lagi semua yang berserak di atas mejanya. Lalu ia berjalan menuju pintu. Lebih baik ia segera keluar dari ruangan yang menurutnya berhantu.


Tiga langkah lagi untuk sampai di pintu, tapi pintu itu menutup dengan sendirinya. Tanpa ada angin atau apapun. Dan jendela kamar masih dalam keadaan tertutup. Rachel panik dan mencoba membuka pintu tapi tak bisa. Seperti terkunci. Rachel menggedor pintu dan berteriak minta tolong berharap Bram dan Cecil sudah kembali.


Berkali-kali ia teriak tak ada yang mendengar. Rachel bersandar di pintu menatap seluruh ruang kerjanya. Tak ada yang aneh, tak ada yang terlihat, tak ada pergerakan. Bagaimana mungkin pintunya menutup sendiri dan terkunci.


Tiba-tiba angin kembali berhembus di kamar itu. Angin yang cukup kencang untuk menerbangkan kertas. Buku yang masih menutup di atas meja kembali membuka dengan sendirinya. Seolah ada kipas angin yang diarahkan ke sana. Lalu tiba-tiba berhenti.


Buku itu terbuka. Rachel merasa takut untuk mendekat tapi ia juga penasaran mengapa buku itu bisa membuka. Dengan perlahan Rachel mendekati mejanya dan melihat buku itu terbuka tepat di halaman pertengahan. Rachel nyaris pingsan saat melihat sebuah tulisan di sana. Padahal buku itu masih baru, belum ada satupun coretan dari tangannya. Tapi sekarang ada tulisan berwarna merah menyala dengan tulisan:


Berteman?

__ADS_1


__ADS_2