
Hari kedua...
Jim bangun tidur dan segera keluar kamar saat ia tak melihat sosok Rachel di tempat tidur. Napas lega terdengar saat ia melihat Rachel sedang menyiapkan sarapan. Jim tersenyum, ia mendekat dan memeluk pinggang Rachel.
"Aku rindu..."bisiknya di telinga Rachel. Rachel meletakkan sendok dan berbalik, menatap Jim sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu
"Aku baru satu jam meninggalkanmu," Rachel tersenyum.
"Aku tidak bisa tidak melihatmu,"
"Masih terlalu pagi untuk gombalanmu pak!" ujar Rachel.
"Aku serius loh,"
"Iyaaaa... Mandi sana! Aku siapkan sarapan, kita sarapan sama-sama,"
"Cium aku!" pinta Jim. Rachel mencium kedua pipi Jim dan keningnya.
"Udah sana!"
"Di bibir belum," protes Jim. Rachel mendorong tubuh Jim sambil tertawa.
"Setelah mandi, sana cepat!" Rachel mendorong tubuh Jim hingga ke depan kamar mandi. Jim segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
"Siapkan dirimu!" kata Jim sesaat sebelum menutup pintu kamar mandi. Rachel hanya tertawa dan melanjutkan memasak.
Jim selesai mandi dan Rachel sedang menyiapkannya di meja makan. Lalu mereka duduk sarapan bersama.
"Setelah sarapan, kita ke bukit tak jauh dari sini ya," ajak Jim.
"Oke, ada yg perlu dibawa?" tanya Rachel.
"Makanan ringan aja, nanti aku siapkan," kata Jim.
Setelah sarapan, Jim menyiapkan semua keperluan mereka. Lalu mereka naik motor menuju ke bukit yang dimaksud. Di jalan, Jim berhenti sebentar dan menunjuk ke sisi sebelah kiri mereka.
"Itu bukitnya! Kita akan ke sana," tunjuknya pada sebuh bukit dengan sebatang poton tumbuh di puncaknya. Rachel tak sabar untuk ke sana, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Rachel memeluk Jim dengan erat dan menopang dagunya di bahu Jim.
Motor meliuk di jalanan tanah menuju puncak bukit membuat Rachel mengeratkan pegangan di pinggang Jim. Setelah sampai di puncak bukit, Rachel segera turun dan melihat ke sekelilingnya. Pemandangan di bukit memperlihatkan daerah di sekitar mereka, perkebunan juga sebagian kota yang terlihat. Sangat indah.
Hari yang panas tidak mereka rasa karena angin yang berhembus juga sebuah pohon rindang yang tumbuh di puncak membuat suasana terasa sejuk. Rachel duduk di bangku yang ada di bawah pohon, Jim menyusul dan duduk di sampingnya.
"Suka pemandangannya?" tanya Jim.
"Suka!" Rachel menjawab sambil tersenyum. Jim meraih tubuh Rachel mendekat dan memeluknya.
"Belum ada yang tau tempat ini, jadi ini milik kita. Dan jadikan ini kenangan yang tidak akan kamu lupakan," kata Jim. Rachel menarik dirinya dan menatap Jim.
"Ada apa sebenarnya Jim? Dari kemarin kamu selalu memintaku untuk mengingat banyak hal," kata Rachel.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya tak ingin kamu lupakan semua ini,"
"Tidak akan," Rachel menjawab cepat, Jim hanya tersenyum dan memeluknya.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini, aku ingin menyiapkan bekal kita," Jim beranjak ke motornya, mengambil beberapa cemilan dan minuman. Ia juga membawa sebuah kain berbentuk persegi untuk alas duduk. Mereka duduk di bawah pohon, dengan Jim yang bersandar di batangnya dan Rachel bersandar di dada bidang Jim.
"Jadi, kita harus merencanakan tentang masa depan kita," kata Jim.
"Hmmm apa itu?" tanya Rachel.
"Anak-anak tentu saja," bisik Jim. Seketika telinga Rachel memerah mendengarnya.
"Anak yaaa..."
"Kamu keberatan?" tanya Jim.
"Uhm... Tidak, hanya aku merasa ini terasa mendadak,"
"Kalau mau santai juga tak apa, kamu ingin kita pacaran dulu? Menikmati bulan madu? Menghabiskan banyak waktu berdua?" goda Jim. Rachel menyembunyikan wajahnya di pelukan Jim.
"Bisakah kita menikmatinya dulu?"
"Tak apa, aku senang begitu. Kita memang harus mengenal luar dalam,"
"Llll... Lu... Luar dalam?" seketika Rachel menjadi gugup.
"Tentu saja, apalagi?" Jim tersenyum jahil ke arah Rachel. Rachel segera sadar dan memukul pelan wajah Jim. Membuat Jim kaget.
"Makanya jangan jahil," kata Rachel. Jim hanya tersenyum dan memeluk Rachel erat. Rasanya Jim ingin menghentikan waktu saat ini. Ia benar-benar takut kehilangan Rachel.
"Jim, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Rachel.
"Uhm... Aku bertemu dengan seorang gadis cantik, dia mengenalmu. Cuma kami tidak bisa mengobrol banyak,"
"Oh ya? Siapa namanya?" tanya Jim.
"Elle? Duh bukan! Mirip itu... Sebentar kuingat dulu... Aaaa Brielle namanya, kamu kenal?" tanya Rachel. Seketika Jim memalingkan wajah menghadap Rachel. Rachel tidak bisa menangkap ekspresi Jim karena pria itu memakai kacamata hitam untuk melindungi mata dari cahaya matahari.
"Brielle katamu? Kapan kamu bertemu? Dimana?" Jim memegang kedua bahu Rachel erat mmbuat gadis itu berjengit sakit.
"Jawab dulu pertanyaanku,!" kata Rachel bertahan.
"Ya aku kenal,"
"Siapa dia?" tanya Rachel. Jim terdiam dan cemgkeraman jari-jarinya di bahu Rachel terasa menusuk.
"Dia... Aku tak bisa mengatakannya!"
"Apa dia mantanmu?"
"Bukan!"
"Lalu?"
"Bisa disebut teman,"
"Aku nggal ngerti!" kata Rachel, ia lalu memposisikan dirinya untuk duduk.
__ADS_1
"Hanya mengenalnya, hanya saling sapa. Yaaa mungkin bisa dikatakan teman, lalu apa dia menanyakan sesuatu?" tanya Jim terlihat tertarik.
"Tidak," jawab Rachel, Jim bernapas lega. Membuat Rachel curiga. "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Rachel melanjutkan.
"Tidak," jawab Jim pelan.
"Ceritalah, ada apa? Siapa dia? Tak masalah kalau kamu memang belum bisa melupakan dia, dibnding dengan dia, aku hanya beginilah... Tidak secantik dia,"
"Kamu ngoming apa sih?" kata Jim.
"Brielle itu! Apa ada kisah kalian yang belum usai?"
"Tidaaak! Tidak ada kisah antara aku dan dia. Kisahku hanya tentang kamu," Jim menjelaskan sedikit frustasi dan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Lalu apa?" tuntut Rachel.
"Tidak ada apa-apa!"
"Terus kamu kenal dimana? Mustahil kalau kamu nggak suka dengan gadis secantik itu,"
"Memang tidak!"
"Lalu kalian kenal dimana?"
"Aku tidak bisa mengatakannya!"
"Tuh kan!"
"Tenanglah sayang! Kamu cemburu?" goda Jim sambil tersenyum.
"Aku serius Jimmiiiiii... Aku tidak mau meneruskan pernikahan ini kalau kisah kalian belum selesai,!"
"Tidak ada kisah itu! Mengertilah! Nanti kamu akan tahu sendiri,"
"Apa susahnya sih menjelaskan?"
"Saat ini tidak bisa Hel, please jangan ngomongin dia. Bisakah tentang kita saja?" pinta Jim.
"Tidak! Aku harus tau!"
"Jangan keras kepala!"
"Aku hanya mau tahu, kalau memang tidak ada yang ditutupi cerita aja, aku nggak masalah!" kata Rachel. Jim hanya diam. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa pada Rachel, itu jelas tidak mungkin! Bagaimana bisa ia menjelaskan siapa Brielle, sementara mereka saja sudah berbeda. Tidak dijelaskan juga menimbulkan salah paham.
"Jim?"
"Maaf! Aku belum bisa," jawab Jim. Seketika bibir Rachel berkedut, ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia menahannya.
"Aku mau pulang!" pinta Rachel.
"Kamu marah?"
"Tidak Jim, aku mau istirahat, ayo pulang!" ajak Rachel yang kini suasana hatinya mendung. Jim segera mengemasi semuanya dan mereka kembali pulang, padahal mereka di sana belum lama.
__ADS_1