Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
30


__ADS_3

Rachel pamit saat Erik tak lagi menanggapinya. Ia merasa aneh dengan tingkah Erik. Tapi Rachel tak ingin berpikir aneh-aneh tentang laki-laki itu. Ia lalu mengajak Andre pulang.


"Kamu seneng?" tanya Andre.


"Seneng, makasih ya. Aku nggak nyangka kamu masih inget," kata Rachel.


"Masih dong, besok aku jemput kamu kerja?" tanya Andre.


"Maaf, kayaknya aku bareng Cecil. Udah janji," Rachel menjelaskan.


"Oke deh," Setelahnya tak ada lagi pembicaraan diantara mereka sampai tiba di depan rumah Rachel.


"Sekali lagi thanks ya, aku masuk,"


"Oke, selamat istirahat. Aku pulang dulu," Andre melambai.


"Hati-hati!"


Andre membunyikan klakson mobilnya sebelum berlalu. Rachel melirik ke taman di depannya. Sunyi. Ia lalu masuk ke rumah. Semua sudah tidur sepertinya, Rachel bergegas ke kamar membersihkan diri lalu tidur.


***


"Pagi..."


"Selamat pagi...!"


Sapaan pagi teman kantornya membuat semangat Rachel naik. Ia berjalan cepat menuju mejanya dan menghidupkan komputernya. Sambil menunggu ia merapikan rambutnya dan memakai bando hitam berhiaskan pita. Kekanakan tapi biarlah, moodnya sedang bagus.


"Pagi cantik...!" sapa Boy


"Haiiii... pagi juga!" balas Rachel sambil tersenyum.


"Good mood banget, nih hadiah sarapan buat yang cantik," ia menyerahkan kotak mungil berisi makanan.


"Oh wow... thanks. Ada acara apaan nih? tumben ada sarapan gratis," goda Rachel.


"Ra-ha-sia... selamat menikmati yeay..." Boy melenggang meninggalkan Rachel.


"Thanks... " Rachel membuka kotak mungil itu, berisi 4 buah donat mini dengan topping coklat warna warni. Terlihat lucu. Rachel meraih ponselnya dan mengambil gambar untuk memasang di story nya.


Rachel melihat wallpaper ponselnya yang menampilkan wajah Jim sambil tersenyum hasil dari gambarnya kemarin. Rachel tersenyum menatap ponselnya dan bergumam pelan.


"Aku kangen," bisiknya pada foto yang tersenyum itu. Lalu ia menyimpan ponselnya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda kemarin.


***


Malam ini Rachel dan Cecil makan malam berdua sambil menonton drama korea kesukaan mereka.


"Tadi malam kamu kemana?" tanya Cecil.


"Jalan bareng Andre, kenapa?"


"Nggak, cuma nanya,"

__ADS_1


"Disuruh Bram?" tanya Rachel seketika membuat moodnya kembali menurun.


"Nggak kok, aku cuma nanya kok jadi sensi? aku keluar jam sepuluhan, kayaknya kamu belum pulang,"


"Hu'um... aku pulang jam sebelasan. Nonton street dance,"


"Bareng Andre?"


"Iya,"


"Ternyata dia suka juga,"


"Nggak juga sih, dia cuma nemenin aku,"


"Oooh... "


"Jangan bilang Bram soal ini," pinta Rachel.


"Rahasia terjaga, amaaaan... "


"Apanya yang aman?" tanya Bram.


"Eeh? kapan nyampenya?" kata Cecil.


"Baru aja," Bram langsung duduk di samping Cecil.


"Ooh... udah makan?" tanya Cecil.


"Belum, kamu masak apa?"


"Mau, ayo temenin aku makan... " Bram menarik tangan Cecil.


"Tapi.... akuuu... " Cecil menatap Rachel merasa tak enak. Rachel hanya diam dan berpura-pura tertarik dengan drama koreanya. Setelah dua sejoli itu berlalu ia mencibir.


"Ciiih! Sok menasehati, taunya dia juga nggak lebih baik," kata Rachel pelan.


Rachel beranjak dan mencuci piringnya lalu melirik Cecil dan Bram yang asyik bercerita. Sejak Rachel dekat dengan Andre, Bram seolah marah dan tak peduli. Rachel justru merasa senang, Bram tak lagi mencampuri urusannya.


Rachel beranjak dari dapur menuju ruang kerjanya. Ia menatap keluar jendela, beberaoa kali kilat menyambar. Hujan akan turun, entah kenapa membuatnya murung. Ia melirik ke taman seberang. Sepi. Tentu saja, tak akan mungkin Jim latihan menari di tengah cuaca yang sebentar lagi akan hujan.


Banyak hal yang mau ia tanyakan pada pria itu selain dari itu ia juga menyimpan rindu. Rachel tersenyum tipis mengingat betapa ia merindukan sosok Jim yang baru dikenalnya. Jim yang ia tak tahu nama aslinya, asalnya bahkan semua tentang Jim ia tak tahu. Yang ia tahu ia menyukai tarian. Mungkin besok ia akan menanyakan pada pria itu.


Tak lama rinai hujan turun membasahi wajahnya. Rachel buru-buru masuk dan menutup pintu serta jendela. Lalu segera turun ke bawah untuk beristirahat di kamarnya. Sayangnya di ujung tangga ia melihat pemandangan yang membuatnya muak. Bram sedang mencium Cecil.


"Ehem...!" Rachel berdehem menandakan bahwa ia ada di sana. Bram dan Cecil melepaskan diri dan terlihat salah tingkah seolah mereka baru saja ketahuan mencuri. Rachel melewati mereka seolah mereka tak ada di sana. Rachel masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur.


***


Pagi ini Rachel sedang malas untuk bertemu dua orang yang dekat dengannya. Rachel bangun lebih pagi dan berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor ia tak langsung ke ruangannya tapi ke kantin.


Aroma latte hangat tercium di hidungnya. Ia memesan segelas latte dan roti lalu menikmati sarapannya sambil melihat ponselnya. Ia memandang wallpaper ponselnya sambil tersenyum. Ia memutuskan untuk menanyakan nomor ponsel Jim!


Rachel menyeruput pelan minumannya dan merasa terganggu dengan adanya Andre yang langsung duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Hai! Sudah lama?" ia bertanya sambil melambai.


"Darimana kamu...?"


"Ya taulah, pas kebetulan lewat terus lihat ada bidadari cantik melamun, aku samperin aja. Takut kesenggol jin,"


"Kamu jinnya!"


"Husss!" Andre mendesis sambil melotot ke arah Rachel. Rachel hanya tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Hel... Kamu di cari bu Andini," kata Cecil yang berdiri tak jauh dari mejanya. Rachel hanya menggangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rachel pergi setelah Cecil tak lagi terlihat.


"Kalian bertengkar?" tanya Andre.


"Tidak juga,"


"Lalu? perang dingin?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya tidak mau diganggu siapapun,"


"Termasuk aku?" tanya Andre menunjuk dirinya sendiri.


"Yups!" jawab Rachel dengan cepat.


"Tapi aku atasanmu!" protesnya.


"Tapi ini masalah pribadiku, permisi!" Rachel membuka pintu ruangan Andini tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat Andini kaget dan mengernyitkan hidungnya tanda tak suka. Lalu sedetik kemudian wajah itu kembali datar apalagi saat melihat sepintas bayangan Andre.


"Maaf bu, saya tidak mengetuk pintu. Itu... "


"Tidak apa-apa, duduklah!" perintahnya. Rachel duduk dihadapan Andini saat ia membuka berkas.


"Punya kamu yang ini disukai klien kita, nanti kamu hubungi dia dan sekalian kontrak kerja. Setelah itu kamu tolong ke kantor pusat antar berkas ini, bisa?" tanya Andini.


"Bisa bu, nanti saya ke kantor pusat setelah kontrak,"


"Bersiaplah, jangan sampai terlambat,"


"Baik bu, saya permisi,"


Rachel menghela napas lega lalu ia berjalan menuju ke ruangannya tapi ia menabrak seseorang.


"Bapak Andre!" Rachel menggeram. Andre hanya tersenyum menatapnya.


"Ada tugas dari Andini? Kantor pusat lumayan jauh, aku akan mengantarmu,"


"Terimakasih pak! Tapi saya ada urusan lain,"


"Saya bisa mengantar kamu,"


"Please? aku pengen sendiri," Rachel memohon.


"Oke! Sorry... tapi kalau butuh apa-apa jangan sungkan telpon aku. Anggap aku dan kamu seperti masa sekolah dulu," katanya.

__ADS_1


"Akan aku ingat, terima kasih," Rachel tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkan Andre yang menatapnya sambil tersenyum. Rachel merasa risih lalu cepat-cepat pergi.


__ADS_2