
Setelah makan malam Rachel membantu bundanya membereskan pakaiannya. Besok bunda Rachel pulang karena Rachel sudah sembuh.
"Bun, nggak mau tinggal seminggu lagi di sini?" tanya Rachel.
"Bunda kangen sama ibu-ibu di sana. Lagian kamu udah sehat,"
"Terus bunda ke sini kalau Rachel sakit aja?"
"Yaaaa nggak gitu juga, cuma kan bunda banyak kegiatan juga di sana. Nggak bisa ditinggal. Nanti kalau jadwal bunda kosong bunda ke sini lagi. Atau kamu libur kan bisa pulang ke sana,"
"Bun, makasih ya udah jagain Rachel," Rachel memeluk bunda.
"Iyaaa, tapi ingat jaga kesehatan. Jangan tidur larut, makannya di jaga,"
"Siap bun,"
"Bunda! Cecil masuk ya," Cecil mengintip di pintu.
"Sini!" bunda memanggil. Cecil masuk membawa beberapa makanan ringan untuk oleh-oleh dan sebuah tas.
"Maaf bunda, nggak bisa kasih apa-apa," kata Rachel.
"Ini udah banyak banget, terimakasih ya kamu repot-repot beli ginian," kata bunda.
"Nggak kok bun, tadi belanja sekalian beli. Inget bunda," kata Cecil. Rachel melirik Cecil, sementara Cecil mengalihkan pandangan dan sibuk membantu bunda packing barang.
Tak lama Bram menyusul masuk membantu. Lalu memasukkan sebagian barang ke bagasi mobilnya. Besok bunda diantar Bram.
Setelah semua selesai, Rachel berbaring di sisi bunda. Sementara itu sudah Bram dan Cecil keluar.
"Bun,...!"
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Rachel masih kangen,"
"Besok-besok kamu ke sana, ajak si Andre,"
"Kok Andre?"
"Kalian belum jadian? Kalau udah jadian kan enak bisa anterin kamu ke sana, kenalan dengan keluarga kita,"
"Iiih bunda, nggak ah. Kayak mau nikah aja,"
"Mau nikah sekalian juga nggak apa, umur kamu juga udah pas buat nikah,"
"Tapi kan aku belum mau nikah,"
"Sampai kapan?"
"Ntar kalau udah waktunya kan Rachel bilang ke bunda,"
"Oke deh, tapi ingat jaga diri, jaga nama keluarga. Baik-baik semuanya,"
__ADS_1
"Iya bun,"
Setelah berbincang, Rachel keluar kamar karena bunda harus beristirahat. Saat keluar Rachel melihat Bram dan Cecil ngobrol di ruang tengah sambil menonton televisi. Rachel mau mengagetkan mereka tapi urung setelah mendengar pembicaraan mereka. Bukan mau niat nguping tapi udah terlanjur kedengaran.
"Aku dan Tania hanya didekatkan, orangtua Tania yang memintaku menjaganya,"
"Lalu?"
"Aku tak bisa menolak. Aku masih mencintaimu,"
"Ini salah Bram,"
"Apa yang salah? hatiku?"
"Tidak, harusnya kamu jujur ke orang tua Tania,"
"Aku sudah mencoba, tapi mereka keukeuh. Sulit untuk menjelaskan,"
"Kasihan Tania, dia berharap banyak sama kamu,"
"Kalau aku tidak bisa bagaimana? cinta dengan terpaksa itu justru menyakitkan kami,"
"Terus kamu maunya gimana?" kata Cecil memandang Bram.
"Bisa kita memulai semuanya dari awal?"
"Aku... "
"Ehem... Cil, minta masker dong, punyaku habis," kata Rachel yang berjalan ke arah mereka. Cecil salah tingkah sementara Bram pura-pura fokus ke televisi.
"Ternyata aku jadi tau siapa yang bre**sek" kata Rachel memainkan kukunya.
"Bukan urusan kamu,"
"Dan masalahku dengan Andre juga bukan urusanmu!" kata Rachel. Ia berbalik dan menemui Cecil. Lama-lama dekat Bram membuatnya semakin kesal. 'Memang cowok itu egois!' batin Rachel.
Setelah menerima bubuk masker wajah Rachel. kembali ke kamarnya. Ia memakai maskernya dan berbaring. Setelah tiga puluh menit ia membasuh wajahnya dan memakai cream wajah lalu ia bersiap tidur tapi urung saat ia teringat Jim. Pasti pria itu sedang latihan.
Rachel beranjak dari tempat tidur dan keluar. Mengintip sebentar dan terlihat siluet orang sedang menari. Rachel keluar menemuinya.
"Kamu kenapa?" Jim menunduk di depan Rachel yang sedang duduk di ayunan.
"Eeeh? udah selesai?" tanya Rachel.
"Belum sih, cuma penontonnya lesu, bikin nggak semangat," katanya sambil tersenyum. menatap mata Rachel dalam.
"Maaf, padahal aku mau lihat kamu latihan," kata Rachel.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya.
"Enggak kok," Rachel menjawab sambil tersenyum. Jim bangkit, mengambil handuk kecil dan mengelap wajah dan tengkuk serta lehernya yang putih.
"Kamu jadi sering ke sini. Apa bunda mu tidak marah kamu keluar malam-malam?" tanyanya sebelum meneguk air minumnya.
__ADS_1
"Tidak, mereka tidak tau," jawab Rachel.
"Mereka tidak tahu? berbahaya kamu di luar sampai tengah malam," katanya.
"Kamu orang jahat memangnya?" tanya Rachel.
"Apa wajahku seperti penjahat?" tanyanya.
"Siapa tahu kan,"
"Kalau aku penjahat dari kemarin aku culik kamu, aku sekap di gudang terus aku nikahin,"
"Eeeh?" Rachel sedikit takut.
"Hahahha... kamu takut? maaf aku hanya bercanda,"
"Aku belum mau nikah, tapi bunda ingin aku segera menikah,"
"Kalau umurnya udah cukup ya nggak apa,"
"Aku belum siap dan aku masih belum ketemu yang klik di hati,"
"Kalau aku? sudah klik belum?" tanyanya mengedipkan sebelah matanya.
"Belum ketemu tombolnya," kata Rachel sambil tertawa.
"Aku latihan sebentar yah, lihat aku! jangan bengong lagi," katanya.
"Iya," Rachel tersenyum dan memperhatikan Jim berlatih menari.
Jim benar-benar penari hebat menurut Rachel. Tubuhnya seperti tak bertulang, lentur. Terkadang ia menyentak kuat, terkadang lembut terkadang gerakannya cepat. Rachel seketika menjadi pengagum Jim.
Jim membaringkan tubuhnya di rerumputan. Dadanya bergerak naik turun karena napasnya yang tak stabil setelah menari. Ia tersenyum menatap bulan. Tak lama wajah Rachel menggantikan latar langit malam.
"Capek?" tanya Rachel yang segera duduk di samping Jim yang berbaring.
"Banget, tapi aku puas! Aku bisa menari tanpa salah kali ini," ia tersenyum.
"Selama ini selalu salah?" tanya Rachel.
"Ya, kali ini benar-benar luar biasa," senyum masih menghiasi wajahnya.
"Minum dulu," kata Rachel.
"Sebentar! Aku mau menikmati ini dulu," jawabnya. Ia memejamkan matanya sambil tersenyum. Rachel melihat Jim yang terbaring, wajah tampannya seketika membuatnya terpana. Keringat membasahi kening dan lehernya. Bibir merahnya selalu tersenyum. Rachel mengulurkan sapu tangan dan mengusap kening Jim perlahan. Membuat mata pria itu terbuka menatapnya. Beberapa saat mereka saling pandang. Rachel sampai lupa bergerak. Tatapan mata Jim mengunci matanya.
Jim berkedip dan menangkupkan tangannya di atas tangan Rachel. Jempolnya mengusap punggung tangan Rachel. Membuat gadis itu terkesiap malu dan menarik tangannya.
"Maaf," kata Rachel sambil menunduk. Jim duduk di sampingnya dan menunduk mencari wajah Rachel yang tertutup rambutnya.
"Maaf kenapa? ayo bersihkan wajahku," pintanya sambil tersenyum tapi Rachel tak berani menggerakkan tangannya. Jim meraih tangannya yang masih memegang sapu tangan dan membawanya ke keningnya. Rachel mengusap perlahan kening hingga pipi Jim. Jim menatap wajah Rachel yang mengusap wajahnya. Ia menandai setiap inci wajah Rachel dan menyimpan semua kecantikan gadis itu diingatannya.
"Sudah," Rachel melipat kembali sapu tangannya tapi Jim menahannya.
__ADS_1
"Di sini belum," Jim membawa tangan Rachel dan gadis itu terdiam. Menelan ludahnya dan dengan gugup melirik ke sana. Jim tersenyum manis. Membuat Rachel salah tingkah.
Akhirnyaaaaaa.... hai hai hai... selamat menikmati tulisan recehku yang jauh dari kata baik. Semoga bisa suka dan berikan aku sedikit dukungan dong😇 terimakasih, big hug🥰