Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
19


__ADS_3

Rachel sudah di rumah setelah tiga hari menjalani perawatan di rumah sakit. Ia sudah diperbolehkan pulang dengan syarat harus istirahat total hingga seminggu.


Rachel beristirahat di kamarnya dan melihat buku yang kemarin pernah mengganggu pikirannya. Ia meraih buku itu dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia membuka lembaran demi lembaran. Buku itu kosong di halaman depan tapi dipertengahan buku itu masih menampilkan tulisan kemarin dan ada tulisan tambahan di bawahnya.


*Semoga lekas sembuh, dari temanmu


Aku ingin kita ngobrol


Aku rindu


Semoga lekas sembuh dan aku bisa melihatmu lagi, salam rinduku*.


Andai ia tahu siapa yang menuliskan ini semua tentu ia akan merasa gembira dan akan menelpon orang ini. Sayangnya, ia masih belum tahu siapa orang dibalik tulisan ini. Rachel menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja.


"Kamu mau mandi atau istirahat?" tanya bunda.


"Mandi bun, gerah ini nggak enak banget badannya," kata Rachel.


"Ya udah cepat mandi, abis itu makan. Bunda udah masak," kata bundanya, Rachel mengangguk dan turun dari tempat tidur dan segera membersihkan diri.


Setelah mandi ia berjalan ke ruang makan. Di sana sudah ada Tania, Bram dan Cecil. Mereka ngobrol sambil makan tempe mendoan.


"Enak banget pada santai," kata Rachel.


"Enak dong, kangen masakan bunda," kata Bram.


"Bener kata Bram, masakan bunda paling enak," timpal Tania.


"Bunda gitu loh," kata Rachel.


"Sayang nggak nurun di anaknya," kata Bram.


"Weeee biarin!" balas Rachel.


"Udah ah, kalian kalau ketemu itu coba yang akur, malu tuh sama Tania dan Cecil," kata bunda. Bram dan Rachel saling membuang muka.


"Hel, jangan makan yang pedas dulu. Perut kamu belum terbiasa," tegur bunda saat Rachel ingin mengambil sambal dari telur balado yang dibuat bunda. Ia mengurungkan niatnya dan tersenyum ke arah bunda.


"Hel, kamu ditanyain pak Andre terus tuh. Padahal aku udah bilang kamu ijin sakit," kata Cecil.


"Oh ya? apa dia ada ngirim tugas lagi?" tanya Rachel.

__ADS_1


"Kayaknya sih nggak, kangen kali," kata Cecil.


"Hmmmh... kalo kangen mah dia datang," kata Rachel.


"Emang dia pernah ke sini?" tanya Bram.


"Pernah, waktu jemput mau pergi kerja," kata Rachel, Bram mengangguk meski wajahnya terlihat kesal.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Bel rumah berbunyi dan Andre sedang berdiri membawa buket bunga dan aneka makanan dan buah untuk Rachel. Bunda yang membukakan pintu lalu melirik Rachel penuh arti sebelum menyuruh Rachel menemuinya.


"Pak Andre," sapa Rachel.


"Ini bukan di kantor!" protesnya, Rachel tersenyum geli.


"Hehehe... tumben main ke sini," kata Rachel.


"Mau jenguk yang sedang sakit, nih buat kamu," ia menyerahkan buket bunga ke pangkuan Rachel.


"Thanks, repot-repot bawa ginian," kata Rachel.


"Nggak kok, nggak repot. Justru aku seneng bisa ketemu kamu lagi," katanya sambil menatap Rachel dalam. Rachel menunduk salah tingkah dan memainkan tali pengikat buket. Eeeh malah copot dan robek hingga bunganya berjatuhan membuat wajah Rachel memerah sambil memungut bunga yang jatuh.


"Nggak apa, mungkin karena buru-buru ikatannya nggak kencang," kata Andre.


Setelah itu mereka tertawa dan ngobrol banyak hal di ruang tamu. Rachel dan bunda mengajaknya makan sekalian tapi Andre menolak secara halus.


Setelah puas ngobrol, Andre pamit pulang. Rachel mengantarnya sampai di depan pintu.


"Terimakasih udah datang dan untuk semuanya," kata Rachel tulus.


"Sama-sama, cepat sembuh ya. Banyak yang kangen," kata Andre.


"Doakan ya pak Andre," goda Rachel.


"Dih, bapak lagi. Emang aku setua itu?" kata Andre.


"Bisa dibilang gitu," kata Rachel sambil tertawa. Andre mengelus pipi Rachel sekilas lalu pergi. Rachel kaget dengan perlakuannya tapi sukses membuat Rachel bahagia. Sepertinya bunga di hatinya sedang bermekaran.


"Apaan tuh pake elus-elus, emang kamu kucing," bisik Bram di belakang Rachel. Rachel berbalik dan melihat Bram berdiri sandaran di pintu sambil melipat tangannya.


"Berisik!" kata Rachel sambil lalu.

__ADS_1


"Aku udah bilang Andre itu bukan orang baik, mending kamu jauhin dia," kata Bram.


"Kamu doang yang bilang dia gitu. Tapi selama ini baik-baik aja. Udah ah, jangan parnoan," kata Rachel sambil masuk ke rumah melewati Bram. Bram hanya diam mengikuti Rachel masuk.


Pranggg!


Suara piring pecah berasal dari dapur. Rachel dan Bram bergegas ke sana dan melihat Cecil memegang tangannya yang berdarah terkena pecahan piring.


"Ya ampun, sini!" Bram menarik tangan Cecil membawanya ke kran air dan membantu mengguyur jarinya yang berdarah. Cecil menatap jarinya yang berdarah.


"Kamu ngapain sih bisa luka gini?" tanya Bram.


"Kesenggol, aduh! pelan-pelan! udah sana kamu, biar aku cuci sendiri aja," kata Cecil.


"Udah diam di sini! Aku ambilkan obat," kata Bram. Rachel berdiri di sana dan melihat luka panjang di jarinya. Ia mendongak dan menatap Tania yang melihatnya sedikit berbeda.


Bram datang dan mengoleskan saleb lalu memasang plaster di jari Cecil.


"Okeh, selesai. Lain kali hati-hati," kata Bram.


"Thanks," jawab Rachel sambil menunduk dan pamit ke kamarnya sementara itu bunda sudah selesai membereskan pecahan piring dan membuangnya ke tong sampah. Bram berbalik dan melihat Tania yang cemberut, ia segera merangkulnya dan membawa gadis itu ke ruang tamu. Rachel tak mau ambil pusing apalagi kepo dengan hubungan Bram. Ia memilih duduk di meja makan kembali bersama bunda.


"Bunda mau nanya, pacarnya di Bram siapa sih? Kamu? Cecil atau Tania?" tanya bunda sambil berbisik.


"Bunda apaan sih? Bram itu kan cuma temen aku dari kecil, bunda tau sendiri. Pacar Bram itu kan Tania," kata Rachel.


"Bunda kira kalian pacaran, eeh ada Tania rupanya dia pacarnya tapi sama Cecil care banget. Nggak sengaja ngeliat Bram berkali-kali deketin Cecil," kata bunda masih sambil berbisik.


"Ih bunda kepo deh! Cecil kan mantannya Bram, Bun," kata Rachel sambil mencomot tempe mendoan yang tersisa dua potong.


"Ooh pantesan, kamu sendiri? Bram atau Andre?" tanya bunda.


"Iih bunda mah kepo banget. Dua-duanya nggak bun. Sebatas temen aja," kata Rachel.


"Yakin? Andre kayaknya baik," kata bunda tersenyum menggoda Rachel.


"Hmmm," Rachel pura-pura tertarik dengan puding yang dibuat bunda.


Rachel tak ingin membohongi diri sebenarnya ia juga ada hati pada Andre tapi malu untuk mengakuinya. Dulu ia menyukai Andre saat mereka sudah mendekati kelulusan. Karena mereka dapat nomor ujian yang selisih satu angka. Ujian saat itu memang diacak dan mereka duduk bersebelahan dan sering membahas soal bersama. Lalu setelah kelulusan mereka berpisah dengan perkuliahan yang berbeda dan daerah yang berbeda.


Kini mereka bertemu kembali setelah empat tahun berpisah. Belum mengubah rasa suka di hati Rachel untuk Andre. Tapi entah itu hanya rasa suka ataukah hanya kagum semata? Entahlah, waktu yang kan menjawab semuanya.

__ADS_1


__ADS_2