Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
42


__ADS_3

Rachel segera masuk ke rumah dan meninggalkan Jim seorang diri yang disibukkan dengan barang bawaan mereka yang masih utuh.


"Nona kenapa?" tanya bibi saat melihat Rachel yang buru-buru masuk dan melihat Jim kesusahan dengan barangnya.


"Sedikit cemburu, bi tolong ini. Aku mau menyusul Rachel!" Jim menyerahkan barang bawaannya pada bibi lalu ia segera berlari masuk ke kamar. Tidak ada Rachel tapi terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Jim duduk di pinggiran tempat tidur menunggu Raçhel.


Tak lama Rachel keluar, terlihat wajah dan sedikit rambut di wajahnya basah. Ia mencuci muka setelah tadi sempat menangis, ia ingin menyamarkan air mata dan mata merahnya. Rachel meraih handuk, mengeringkan wajahnya dan ia duduk di meja rias.


"Kamu marah sayang?" tanya Jim menatap Rachel dari cermin rias. Rachel megangkat wajahnya dan menatap bayangan Jim dari cermin juga. Ia menggeleng pelan lalu memgalihkan pandangan pada beberapa cream wajah di meja rias. Ia meraihnya dan memoles wajahnya dengan cream itu hingga rata.


"Aku tahu kamu marah, nanti malam aku jelaskan," kata Jim mencium puncak kepala Rachel.


"Kenapa harus malam?" akhinya Rachel bersuara.


"Karena..."


"Karena lagi mikirin alasan yg tepat?"


"Iya tapi..."


"Tuh aku tahu kamu pasti nutupin sesuatu, cari-cari alasan buat bohongin aku!"


"Duh! Nggak gitu sayang..."


"Udah ah, aku mau tidur. Jangan ganggu aku!" Rachel segera naik ke tempat tidur dan membelakangi Jim. Ia segera pura-pura tidur. Jim hanya menggelengkan kepalanya lalu keluar kamar. Ia tak mau mengganggu Rachel dan sudah dipastikan jika memaksa di kamar Rachel akan mengusirnya.


Jim segera ke kamar lainnya, ia mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja dari benda itu. Sesekali ia menguap tapi beberapa laporan harus ia periksa terlebih dahulu.


* * *


Malam itu Rachel dan Jim sedang menyantap makan malam. Rachel akhirnya mau ikut makan malam bersama setelah dipujuk Jim seharian. Tingkah istrinya yang menggemaskan membuat Jim semakin sayang.


Untunglah malam itu suasana hati Rachel sangat baik, hingga Jim menatap Rachel sangat lama.


"Kenapa menatapku begitu?" tanya Rachel.


"Yaaaa... Gemesin,"


"Udah ah! Ayo makan dulu, nanti dingin," kata Rachel. Jim tidak langsung makan melainkan berpindah kursi di samping Rachel dan menyatukan makanan mereka di piring Rachel.


"Aku mau disuapin," kata Jim sambil meberikan sendok ke tangan Rachel da menunggu istrinya menyuapkan.


"Kayak anak kecil aja, malu ama bibi," sungut Rachel tapi ia tetap menyuapkan sesendok nasi untuk Jim. Jim memakannya dengan lahap begitu juga Rachel.


"Awas kalo nanti aku jadi gendut gara-gara kamu,"

__ADS_1


"Emang kenapa? Aku tetap sayang kok," kata Jim


"Ntar nyari yang body-nya ramping lagi," kata Rachel.


"Ya nggak dong, aku padamu lah pokoknya,"


"Gomballll!" Rachel mencubit pipi Jim gemas, membuat pipi pria itu memerah.


Setelah makan, mereka duduk di luar menikmati angin malam yang dingin sambil menikmati kopi susu hangat.


"Kalau suasana kayak gini, ngingetin aku waktu di rumah dulu," kata Rachel.


"Tentang apa itu?" tanya Jim.


"Kamu. Tau nggak tiap malam aku liatin langit berharap langit selalu cerah. Dan saat langit cerah, kamu datang latihan menari di taman,"


"Kamu nungguin aku?" tanya Jim.


"Iya, selalu. Aku suka liat kamu latihan di bawah sinar bulan,"


"Terus kamu jatuh cinta kaaannnn?" goda Jim. Rachel mengangguk malu-malu.


"Iya, padahal waktu itu kita nggak saling kenal,"


"Aku juga nggak nyangka dan kadang masih berpikir ini seperti mimpi. Aku mau kita hidup kayak gini sampai seterusnya," kata Jim dengan wajah yang terlihat sedih.


"Kalau aku ceritakan sesuatu kamu mau dengar?" tanya Jim. Rachel mengangguk lalu memposisikan dirinya bersandar di bahu Jim.


"Kalau seandainya... Kita harus berpisah..."


"Kamu kok mgomong gitu?" protes Rachel yang duduk menghadap Jim.


"Seandainya sayang, nggak beneran terjadi..."


"Ya jangan yang kayak gitu,"


"Dengerin dulu! Seandainya ada sesuatu yang memisahkan kita, kamu mau nyari aku?" tanya Jim.


"Pertanyaan kamu dari kemarin aneh Jim,"


"Serius! Jawab aku!"


"Tentu saja!"


"Seandainya terjadi sesuatu, aku kehilangan ingatan atau sesuatu yang membuat aku lemah, apa yang kamu lakukan?" tanya Jim.

__ADS_1


"Aku akan ada di samping kamu! Apapun yang terjadi!"


"Janji?" tanya Jim memberikan kelingkingnya.


"Janji!" balas Rachel yang menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Jim.


"Terus kalau itu terjadi dengan aku?"


"Tentu saja aku bakal di samping kamu, aku nggak mau kehilangan kamu Hel, aku takut. Jujur saja, sekarangpun aku takut kehilangan kamu,"


"Kenapa?"


"Entahlah, aku takut tak bisa lagi melihat kamu. Tak bisa lagi mengingat kamu,"


"Semua itu nggak akan terjadi, buktinya kita di sini sama-sama. Kita lewati semuanya sama-sama," kata Rachel.


"Semoga saja kita selalu begini, banyak hal yang jadi pertanyaan di kepalaku. Tapi semua tidak akan bisa menjawab. Hanya waktu yang bisa menjawab,"


"Jim..."


"Hmmmm...."


"Kamu aneh banget, kamu selalu cerita semua ketakutan-ketakutan kamu sementara kita baik-baik aja di sini,"


"Hmmm... Aku hanya memastikan kalau kamu akan selalu ingat aku, nggak ninggalin aku, setia denganku,"


"Tentu aja, kamu aja yang kelewat takut,"


"Sudah kubilang, kita nggak tahu kedepannya gimana,"


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku Jim?" tanya Rachel.


"Tidak," Jim menjawab sambil mengalihkan pandangannya ke langit.


"Hmmm... kamu sangat ketakutan untuk sesuatu yang aku nggak ngerti tapi bakalan terjadi," bisik Rachel. Jim menatap Rachel dalam. Ia ingin mengatakan segalanya tentang dirinya, tentang mereka dan juga tentang seseorang bernama Brielle.


Brielle, gadis yang saat ini sangat ditakuti Jim. Jika memang Brielle pernah menampakkan diri dan menemui Rachel itu artinya Jim harus waspada. Ia bisa saja kehilangan segalanya sebelum ia bisa memberikan banyak kenangan untuk Rachel.


"Jim, apa kamu nggak yakin denganku?" tanya Rachel. Jim menatap istrinya dalam.


"Aku..."


"Aku ngerti Jim, meskipun rasanya sesak di dada mengingat kamu tidak mau menceritakan apa yang kamu rasa, kamu menyimpan semua ketakutan kamu sendiri, aku berusaha mengerti. Tapi di sisi lain, tugaskulah sebagai istri untuk membantu kamu nyelesein semuanya. Tapi gimana aku bisa bantu kalau kamu tidak mau menceritakannya? Bagaimana aku bisa meyakinkan kamu untuk tidak terlalu cemas dan takut karena sesuatu yang kita nggak tahu," Rachel menjelaskan.


"Maafkan aku... Maaf..." Jim memeluk Rachel dan menangis! Rachel sadar, begitu berat pikiran Jim hingga suaminya itu menangis. Tidak pernah ia lihat sebelumnya Jim meneteskan air matanya.

__ADS_1


Rachel hanya diam membalas pelukan Jim. Ia membiarkan suaminya menumpahkan segala resahnya dan kekhawatirannya. Semoga besok ia bisa menceritakan semua isi kekhawatirannya.


__ADS_2