
Rachel menabrak Bram yang tiba-tiba berhenti jalan dan menegakkan badan.
"Ada apa?" tanya Rachel penasaran.
"Aku nggak nyium aroma apapun, coba kamu kasih tau ada aroma apa?" tanya Bram. Rachel mengendus aroma yang selama ini tercium tapi nggak ada. Yang ada aroma shampo milik Bram yang tercium.
"Nggak ada lagi," kata Rachel.
"Kamu ngerjain aku lagi?" kata Bram bertolak pinggang di depan Rachel.
"Ngggaaaaak! Tapi tadi beneran ada aroma parfum itu, aku nggak bohong!" kata Rachel.
"Bisa-bisanya aku ketipu sama orang halu," ujar Bram sambil melewati Rachel.
"Enak aja! Siapa juga yang halu, bilang aja kamu takut. Dasar penakut!" kata Rachel berjalan melewati Bram.
"Siapa yang penakut?" Bram mencekal lengan Rachel sampai gadis itu merasa kesakitan dan ia berontak. Tangan Bram yang masih licin kesulitan mempertahankannya hingga Rachel berhasil menghempaskan tangannya lepas dari cengkraman tangan Bram. Tapi sayang tangan Bram menyenggol ujung handuknya dan seketika handuk itu nyaris terbuka, ia cepat-cepat meraihnya. Rachel menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Dasar mesum!" kata Bram di telinga Rachel.
Rachel mendengus kasar dan berjalan masuk melewati Bram. Bram tak percaya dengan ucapannya jadi percuma meminta tolong pada Bram. Bram masuk ke kamar mandi dan melanjutkan mandi. Rachel berlari ke lantai atas memeriksa siapa tahu ada wangi parfum itu.
Pintu terhempas dan Rachel berjalan masuk sambil mengoceh seorang diri.
"Siapa sih kamu? aku tahu kamu ada. Jangan sembunyi! Keluar!" kata Rachel. Ia diam dan mendengarkan. Tidak ada sedikitpun bunyi atau benda yang bergerak. Rachel duduk di. meja kerjanya dan menatap keluar jendela.
"Siapa sih yang sembunyi di rumah ini?" kata Rachel pelan.
Tok... Tok...
__ADS_1
Pintu diketuk dan Bram muncul dengan pakaian santai. Aroma sabun langsung menyergap indera penciuman Rachel.
"Hel... "
"Hmmm,"
"Kamu malam ini tidur di rumahku aja," kata Bram duduk di hadapannya. Rachel mengernyit.
"Kenapa?"
"Aku mau ketemu dengan beberapa temen. Aku rasa nggak aman ninggalin kamu di rumah," kata Bram
"Ada Noey,"
"Dia di suruh bunda pulang malam ini,"
"Ya nggak apa kali kalau mau pulang,"
"Nggak apa, santai aja. Aku juga ada kerjaan dikit. Lebih fokus di ruang kerja juga ntar,"
"Yakin?"
"Yakinlah,"
"Di ruang kerja loh," kata Bram. Rachel diam sejenak.
"Nggak apa, Mudah-mudahan memang nggak ada apa-apa. Kalau ada sesuatu aku nelpon kalian," kata Rachel meyakinkan tidak hanya Bram tapi juga dirinya sendiri. Ia juga akan merasa takut kalau wangi parfum itu muncul lagi tapi ia tak selamanya harus bergantung dari Bram atau Noey. Ia pasti bisa melewati semua.
Setelah melihat Rachel penuh keyakinan, Bram beranjak dan mengajak Noey pamitan. Mereka berdua melambai ke arah Rachel yang mengantar mereka sampai ke depan gerbang rumah. Setelahnya Rachel mengunci pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rachel menyiapkan makan malam yang hanya berupa mie instan. Ia sedang malas untuk memasak hanya untuk dirinya sendiri. Mie instan bisa membuatnya sedikit segar dengan rasa gurih dan pedasnya.
Aroma mie instan menguar memenuhi ruangan saat Rachel membawanya ke depan televisi. Ia menyantap mie sambil menonton. Mencoba menikmati kesendiriannya. Toh selama ini ia memang selalu hidup sendiri tapi setelah ada bau parfum yang mengganggu itu lumayan membuatnya sedikit takut.
Setelah makan malam, Rachel melanjutkan kembali pekerjaannya. Beberapa karikatur akan diterbitkan dalam dua hari lagi. Malam ini ia harus selesaikan dan menyerahkan semuanya sebelum dimarahi oleh pimpinannya yang sangat galak, disiplin dan kaku.
Rachel mulai membuat sketsa dan melukisnya dengan baik. Ia berkonsentrasi penuh hingga dalam beberapa jam pekerjaannya telah selesai. Ia memuat semua karyanya dan mengirimnya ke editor. Di sana karikatur dan tulisannya akan ditentukan akan lulus atau tidak. Bila lulus ia akan memiliki waktu santai, jika tidak ia harus membuat gambar lainnya. Tapi ia yakin, gambar yang dibuatnya akan diterima.
Udara di dalam ruang kerjanya terasa panas. Ia lupa menghidupkan kipas. Rachel mendekat ke jendela dan membuka jendelanya. Ia melihat banyak bintang berkilauan juga bulan yang nyaris penuh. Indah dan terasa tenang di sini.
Sesuatu bersinar di bawah sana menarik perhatiannya.
Rachel menajamkan penglihatannya dan mencoba memahami sinar apa itu? Terlihat seperti cahaya ponsel tapi tidak begitu terang, warnanya putih kebiru-biruan. Lalu ada sosok keluar memegang sinar yang dikira Rachel adalah ponsel di tangannya.
Sosok itu seorang laki-laki dengan rambut keperakan berjalan menuju ayunan. Ia duduk di sana dan diam cukup lama. Lalu sinar bulan tertutup awan sehingga Rachel tak bisa melihat secara jelas siapa itu. Rachel memutuskan segera masuk dan mengunci semua pintu dan jendela. Lalu ia masuk ke kamar dan merasa aman di sana.
Ia baru menyadari, sejak Bram dan Noey pergi tak ada lagi bau parfum yang entah darimana asalnya. Tapi apa seseorang yang di taman tadi? Rasanya tak mungkin. Rachel baru malam ini melihatnya secara jelas. Tak mungkin orang itu sembarang masuk. Sementara itu, rumah yang di belinya saat ini tak pernah ditinggal kosong. Penghuni sebelumnya terpaksa pindah karena harus pindah tugas.
Jadi memang tak ada hal aneh yang terjadi di sini. Tapi kenapa bau parfum itu seolah menghantui Rachel. Baru saat itulah Rachel merasakan perasaan takut seorang diri. Bila terjadi sesuatu ia tak tahu harus minta tolong ke siapa. Besok ia akan mengajak seseorang ikut tinggal di sini. Atau ia mencari pembantu yang bisa bersih-bersih rumah sekalian.
Besok ia akan membicarakan ini pada Bram. Semoga ada jalan keluarnya. Ia ketakutan saat ini. Ketakutan yang alasannya belum pasti, takut akan sesuatu yang tak terlihat. Rachel bergidik lalu mencoba memejamkan matanya meski terasa sulit.
Akhirnya ia tertidur dan bermimpi. Seseorang mengetuk pintu rumahnya berkali-kali. Ia mencoba pura-pura tak mendengar. Tapi seseorang di luar sana memaksanya untuk membuka pintu. Pintunya terus berbunyi, seseorang di luar sana tak sabar menunggunya membuka pintu.
Rachel menendang selimutnya dan kaget ternyata memang ia mendengar ketukan di pintu rumahnya. Siapakah yang datang? Rachel melirik jam dinding. Sudah pukul tujuh! Rachel berlari ke depan dan membuka pintu. Di luar sana seseorang terus menggedor pintu rumah dengan tak sabar.
"Sabar! Siapa sih pagi-pagi gini bertamu?" gumam Rachel. Ia mengikat rambutnya terlebih dahulu lalu membuka pintu secara perlahan. Seseorang berdiri di depan pintu rumahnya sambil tersenyum.
"Loh? Kamu? Ngapain di sini?" tanya Rachel heran melihat seseorang yang tersenyum di hadapannya dengan pakaian rapi dan wangi.
__ADS_1
"Surprise!" ia berkata sambil mengangkat kotak bekal.