Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
33


__ADS_3

Rachel kembali ke dalam rumah menjelang tengah malam. Tak tampak Bram maupun Cecil. Ia bersyukur tak bertemu dua orang tersebut. Ia sedang malas berurusan dengan mereka. Mereka sudah dewasa sudah pasti bisa menyelesaikan masalah mereka.


Rachel masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya menatap langit-langit. Tersenyum kearah bayangan Jim yang tersenyum lalu perlahan memudar dan menghilang seiring matanya yang tertutup dan tertidur.


Menjelang subuh Rachel terbangun saat udara dingin berhembus di pipinya. Rasa dingin yang tak asing. Rachel mengerjapkan matanya sepintas bayangan Jim tersenyum ke arahnya. Rachel tersenyum lalu kembali melanjutkan tidurnya saat tangan lebar Jim mengusap kepalanya. Membuatnya begitu nyaman. Rachel memeluk gulingnya dan melanjutkan tidurnya kembali.


***


Jim Pov


Beberapa hari ini badanku terasa berat, sulit sekali untuk berjalan jauh. Apalagi saat menari bahu dan pinggang sebelah kiriku terasa sakit sekali. Berkali-kali aku mencoba tapi aku tak bisa. Pernah aku memaksa untuk berjalan namun aku terjatuh dan tak ada yang menolongku. Aku selalu kepikiran gadis dengan senyum manis dan tawa renyah itu. Yang selalu menungguku, menyukai tarianku meski aku belum sempurna melakukan beberapa gerakan.


"Bo**h, kamu terlalu memaksa menemuinya. Kamu tahu dia hanya mengagumimu," ucap seorang gadis bergaun putih indah menutupi tubuhnya hingga ke kakinya.


"Jangan ganggu!" aku membencinya. Dia selalu hadir disaat aku kesusahan dan selalu berbicara dengan sinis.


"Kamu sudah seperti ini masih mau menemuinya, kamu pikir dia akan senang? Paling dia tidak akan mau menemuimu, manusia payah!"


"Diam kau! Bantu aku,"


"Membantumu? Hahahaa... apa kau begitu berharap padaku?" ia tertawa sinis lalu berjongkok menyetarakan pandangan.


"Please?" kali ini aku memohon padanya, membuang harga diriku.


"Apa yang bisa kubantu? Kau tentu tau konsekuensinya kan?" tanyanya membelai wajahku yang kini dipenuhi keringat.


"Aku tahu, aku mohon. Kali ini padamu. Bukankah hanya kau yang layak melakukan ini?" tanyaku mencoba melunakkan hatinya. Ia membuang napas kasar lalu berdiri kembali menatapku sinis.


"Aku benci melihatmu memohon. Berjuanglah sendiri daripada kau merusak tubuhmu!" ucapnya.


"Tolong Briel, kali ini aku tak kuat,"


"Itu bagus b**oh!"


"Kau keterlaluan! Bantu aku, please,"


"Konsekuensinya kau amnesia," jawabnya dengan wajah datar dan membuang pandangan. Aku terperangah mendengarnya. Seberat itu yang akan terjadi bila dia menolongku. Ini tak sebanding.


"Apa tidak ada konsekuensi yang lain?" tanyaku.

__ADS_1


"Kelumpuhan!"


"Sh**! Kau!" aku semakin membencinya.


"Terserah!"


"Baiklah, bantu aku,"


"Kau amnesia, tak apa?" ia tertawa sinis.


"Tak apa, aku yakin ingatanku akan pulih,"


"Kau tak akan mengingatnya, percuma! Disaat kau bangun kau akan melupakannya. Tak sedikitpun ingatan tentangnya ada di kepalamu. Kau hanya akan memberikannya luka dan kesedihan!" ucapnya lagi semakin membuatku muak. Aku sudah tak tahan akan sakit ini.


"Aku yakin aku akan berusaha mengingatnya,"


"Maaf, tapi ingatanmu tentangnya akan terhapus semua, aku hanya menjalankan tugasku,"


"Cepatlah!" pintaku sedikit mendesak. Rindu ini mengalahkan segalanya. Aku sangat merindukan gadis berambut coklat itu. Entah perasaan apa ini. Terasa begitu dalam, padahal baru beberapa kali kami bertemu.


"Baiklah, kau tahu konsekuensinya. Kau akan melupakan orang yang dekat denganmu. Gadis itu!" ucap Briel. Seandainya aku kuat, sudah kulenyapkan gadis ini, caranya berbicara membuatku muak. Sifatnya yang terlalu sok keras membuatku membencinya.


"Sabarlah! Kau pikir ini mudah? Aku sudah memperingatkanmu!" bentaknya.


"Aku tahu, cepatlah! Aku tak butuh ceramahmu!" aku balas membentaknya. Aku bukan budaknya yang bisa seenaknya diperlakukan dengan segala aturan yang dibuatnya. Bahkan aku mengenalnya dari awal dia bukanlah pribadi yang manis dan ramah tapi sebaliknya.


"Baik! Setelah ini kau urus semua sendiri," ucapnya dingin. Ia bangkit lalu sinar matahari seperti menerangi mataku membuatku silau. Lalu aku pingsan tak sadarkan diri.


Aku terbangun dengan tubuh terasa ringan dan sedikit pusing tapi lama-kelamaan hilang dengan sendirinya. Aku ingin segera menemui gadis itu.


"Terburu-buru sekali,"


"Oh... terimakasih Briel," ucap Jim sesaat sebelum membuka pintu dan berlari keluar. Semoga gadis itu belum tidur.


Aaah... syukurlah, dia duduk di taman seorang diri. Jantungku berdebar kencang. Aku menarik napas, menepuk dadaku lalu berjalan mendekatinya.


"Hai?! Melamun aja!"


"Jim!? Aku kangen tau!" Rachel memukul pundakku dan menutup mulutnya karena keceplosan ngomong. Aku terbahak melihat Rachel. Ya, gadis itu adalah Rachel.

__ADS_1


"Nah, kangen kaaan? Cieeee..."


"Jim! udah ah...!" Rachel sedikit merajuk tapi wajahnya memerah. Aku semakin suka menggodanya


"Wuah wajahmu memerah!" aku sengaja melihat pipi Rachel yang memerah.


"Jim! Udah!" Rachel menunduk menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.


"Liat sini, kamu cantik. Jadi jangan ditutupi gini," aku memberanikan diri mengangkat dagu Rachel lalu menyelipkan rambut Rachel ke belakang telinganya. Lalu menatap matanya dalam.


"Udah, ntar aku lumer," kata Rachel sambil tersenyum malu. Aku gemas melihatnya ingin ku... aaah pikiran ini mengganggu.


"Ehehehe... iya deh, jadi beneran kamu kangen aku?" tanyaku sambil mengedipkan sebelah mata menggodanya lagi.


"Jim! Nggak! Aku nggak kangen," Rachel membuang muka ke arah lain. Aku tertawa geli.


"Iya deh, gitu aja ngambek. Sekarang aku udah di sini loh, g mau ngapain gt," aku mencoba mencoba serius kali ini.


"Emang mau ngapain?" jawab Rachel sengit.


"Ya apa kek gitu, biar ilang kangennya," jawabku sambil tersenyum.


"Apa yaaa? oooh... biar ilang kangennya? sini tangan kamu," pinta Rachel sambil mengulurkan tangan. Dengan cepat aku memberikan tanganku ke telapak tangan Rachel. Dengan cepat Rachel menggigit tangan ku, sebenarnya tidaklah sakit tapi aku lebih suka menyerah saja dan membuatnya tersenyum puas.


"Aw... aw... iya iya, ampuuun... oke, oke, udah," jawabku sambil mengibaskan tangan seolah kesakitan. Rachel melepaskan gigitannya dan tersenyum penuh kemenangan.


"Udah, impas!" kata Rachel.


"Sadis banget kamu," kataku sambil mengusap tangannya yang tak terasa sakit.


"Makanya jangan menggoda ku ya," kata Rachel.


"Iya ampuuuun nona," aku berkata sambil menangkupkan tangan di depan dada.


"Kamu kemana aja sih? Nggak pernah latihan," protes Rachel.


"Kamu nungguin?" tanyaku bermaksud menggodanya. Rachel mengangguk. Membuatku tak enak hati. Padahal kupikir ia hanya bercanda tapi dia serius. Apa dia memiliki perasaan yang sama denganku? Aku tidak berharap lebih, aku tahu akan seperti apa hubungan kami nantinya dengan semua konsekuensi yang sudah ada di perjanjian. Aku tak sanggup selalu merasa sakit dan rasanya sulit untuk tidak bertemu dengan gadis di hadapanku ini. Semakin ingin ku hindari, rasa di dada ini semakin membuncah. Sejujurnya, perasaan ini tak bisa kumenahannya, aku juga rindu kamu, Hel. Dan disinilah aku, walau hanya bisa bertemu denganmu sebentar saja, terasa begitu berharga.


Apakah kamu memiliki perasaan yang sama?

__ADS_1


__ADS_2