
Rachel masuk ke kamarnya dan memainkan ponselnya. Membalas beberapa chat dengan temannya lalu ia berbaring dan nyaris tertidur saat pintu kamarnya diketuk.
"Masuk!"
"Aku pamit ya," kepala Tania nongol di pintu.
"Eeeh cepet banget, sini masuk dulu," kata Rachel menepuk kasurnya. Dengan ragu Tania masuk dan duduk di pinggir ranjang.
"Aku nggak bisa lama, mau pulang. Kayaknya yang kamu bilang bener. Bram belum bisa berubah untuk setia,"
"Jadi kalian..?"
"Iya, aku dan Bram udah selesai. Aku harus sudahi ini, capek berjuang sendiri," Tania tersenyum getir dan air mata mengalir dari ujung matanya. Rachel memeluknya memberikan dukungan.
"Sabar ya, aku nggak bisa bantu apa-apa,"
"Nggak apa kok, sakit hati sih tapi daripada berlarut dan aku makin cinta dengan Bram malah lebih susah ngelupainnya. Aku harus belajar nerima semuanya," ujar Tania.
"Apapun keputusan kamu semoga itu yang terbaik ya,"
"Thanks ya Hel, udah mau aku repotin,"
"Nyantai aja, kan kita udah temenan,"
"Kamu mau temenan?" Tania terlihat kaget.
"Kenapa nggak? semakin banyak temen itu semakin baik," senyum tulus Rachel membuat Tania memeluk Rachel dengan erat.
"Thanks yaaaa... aku pulang dulu," pamit Tania.
"Ok, hati-hati yah," kata Rachel yang mengantar Tania ke pintu pagar, lalu melambai saat mobil Tania berlalu.
Rachel melirik ke dalam rumah, ia merasa malas untuk bertemu Bram dan Cecil. Ia memutuskan ke taman berharap Jim latihan. Ia sudah rindu dengan pria itu.
***
"Hai?! Melamun aja!" Jim menjentikkan jarinya dihadapan Rachel.
"Jim!? Aku kangen tau!" Rachel memukul pundak Jim dan menutup mulutnya karena keceplosan ngomong. Jim terbahak melihat Rachel.
"Nah, kangen kaaan? Cieeee..."
"Jim! udah ah...!" Rachel sedikit merajuk tapi wajahnya memerah.
"Wuah wajahmu memerah!" Jim melihat pipi Rachel yang memerah.
"Jim! Udah!" Rachel menunduk menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya.
__ADS_1
"Liat sini, kamu cantik. Jadi jangan ditutupi gini," Jim mengangkat dagu Rachel lalu menyelipkan rambut Rachel ke belakang telinga.
"Udah, ntar aku lumer," kata Rachel.
"Ehehehe... iya deh, jadi beneran kamu kangen aku?" tanya Jim sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jim! Nggak! Aku nggak kangen," Rachel membuang muka ke arah lain. Jim terkekeh.
"Iya deh, gitu aja ngambek. Sekarang aku udah di sini loh, g mau ngapain gt,"
"Emang mau ngapain?" jawab Rachel sengit.
"Ya apa kek gitu, biar ilang kangennya," jawwb Jim sambil tersenyum.
"Apa yaaa? oooh... biar ilang kangennya? sini tangan kamu," pinta Rachel sambil mengulurkan tangan. Dengan cepat Jim memberikan tangannya ke telapak tangan Rachel. Dengan cepat Rachel menggigit tangan yang terasa sangat dingin itu, rasanya seperti menggigit es.
"Aw... aw... iya iya, ampuuun... oke, oke, udah," kata Jim kesakitan. Rachel melepaskan gigitannya dan tersenyum penuh kemenangan.
"Udah, impas!" kata Rachel.
"Sadis banget kamu," kata Jim mengusap tangannya yang sakit.
"Makanya jangan menggoda ku ya," kata Rachel.
"Iya ampuuuun nona," kata Jim.
"Kamu nungguin?" tanya Jim. Rachel mengangguk.
"Iya, beberapa hari kemarin rasanya moodku berantakan. Pengen liat kamu dance lagi," kata Rachel.
"Ada apa?" tanya Jim yang duduk di samping Rachel.
"Nggak apa-apa sih, sekarang udah g begitu badmood," kata Rachel, lalu ia bercerita panjang lebar tentang hari-harinya. Lalu ia juga bercerita tentang Erik yang juga seorang penari.
"Kamu ketemu Erik?" tanya Jim memainkan kain di tangannya.
"Iya, sempat ngobrol juga,"
"Dia ada bilang sesuatu?"
"Nggak ada, cuma nanya terus tentang kamu. Padahal kalian temenan kan? kok nanya ke aku ya? kamu nggak ada ketemu dia?" tanya Rachel.
"Nggak ada," jawabnya singkat sambil menggeleng.
"Pantesan dia nanyain kamu. Btw kamu juga jarang kesini sekarang. Apa kamu sibuk?"
"Iya, akhir-akhir ini aku sibuk banget," jawabnya sambil memainkan saputangannya.
__ADS_1
"Pantesan. Apa ada sesuatu yang lain?" tanya Rachel.
"Maksudmu?"
"Yaaa apa kek gitu,"
"Nggak ada kok, kamu kangen kan? aku juga," ia tersenyum manis sambil mengusap kepala Rachel membuat rambut gadis itu berantakan.
"Jim! Awas kamu ya," Rachel mengancamnya. Jim hanya tertawa lalu mulai menari di lapangan berpasir. Seketika Rachel terdiam menikmati tarian Jim yang sangat luwes. Tanpa iringan musik, tanpa panggung dan hanya Rachel penonton setianya. Entah musik seperti apa yang dibayangkan oleh Jim hingga ia bisa menentukan kapan mengakhiri tariannya. Rachel kagum akan hal itu, sayangnya tak ada musik. Andai ada tentu ia lebih bisa menikmatinya.
Setengah jam berlalu. Jim mengakhiri sesi latihannya dan mendekati Rachel lalu duduk di sampingnya sambil menyeka keringat dengan sapu tangannya. Aroma maskulin menusuk hidung Rachel, ia menghirup dalam-dalam aroma yang sangat disukainya itu.
Lalu Rachel menyodorkan botol minuman untuknya, lagi-lagi ia terlambat. Jim sudah menenggak minuman yang dibawanya. Rachel mencoba untuk tidak kecewa.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rachel.
"Boleh, apa itu?"
"Kamu dari umur berapa suka menari?"
"Dari kecil aku suka menari, bagiku tak peduli apakah aku tokoh utamanya atau hanya penari latar yang tak banyak orang melirik. Tapi inilah mimpiku, aku bisa kemana saja menarikan tarian apa saja,"
"Lalu sekarang?" tanya Rachel.
"Masih tapi aku belum bisa keluar negara. Masih sebatas negara ini saja. Suatu saat aku akan menembus penyanyi terkenal,"
"Aku doakan agar kamu bisa mewujudkan impian kamu," ujar Rachel tulus. Tapi Jim hanya tersenyum sinis.
"Kenapa? bukankah itu keinginanmu? kenapa terlihat pesimis?" tanya Rachel lagi.
"Tidak semudah itu Hel,"
"Tidak, aku yakin kamu bisa. Aku melihat tarianmu bagus, sangat bagus. Makanya aku suka melihatmu menari. Seolah kamu bisa menyatu dengan sekitarmu,"
"Itu menurutmu, yang orang lain lihat belum tentu. Terlebih juri yang sangat selektif. Entahlah,"
"Jangan putus asa, yakin aja kamu bisa dan latihannya jangan bolos-bolos," kata Rachel membuat sangat Jim kembali lagi. Jim tersenyum lalu membaringkan tubuhnya di rerumputan. Rachel mengikutinya, mereka menatap bulan yang kini tak lagi bulat namun masih indah.
"Suatu saat, aku harus bisa menaiki panggung spektakuler,"
"Harus! Dan aku akan ada diantara sorakan penonton,"
"Kamu akan mengagumi si artis," jawab Jim.
"Belum tentu aku nge-fans sama artisnya, keduluan dancernya," Rachel terkekeh lalu terpana melihat bagaimana wajah putih Jim bersemu. Aaaah... jangankan Rachel, othor juga ikutan melting hehehehe...
"Semoga aku bisa naik panggung dan ada kamu,"
__ADS_1
"Semoga," Rachel mengamini dalam hati. Ia tak peduli siapa artisnya, siapa yg populer. Bagi Rachel saat ini Jim begitu memukau. Jatuh cintakah dia? atau ini semua hanya kekaguman sesaat? Entahlah, yang jelas saat ini Rachel merasa bahagia.