Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
57


__ADS_3

Rachel kembali aktif bekerja setelah pulang dari liburannya. Saat kembali ke rumah, ia mendapati sepucuk surat juga beberapa hadiah yang dititipkan Cecil pada Bram untuk diberikan pada Rachel. Surat itu berisi permintaan maafnya selama ini, dia mengakui bahwa dia egois dan menjauhkan Bram dari Rachel hanya semata-mata karena cemburu yang berlebihan. Namun pada akhirnya, Cecil dengan berat melepaskan Bram dan menuruti kemauan kedua orangtuanya. Setelah membaca surat itu, Rachel memutuskan untuk menelpon Cecil. Tapi nomor gadis itu sudah tidak aktif, bahkan hari-hari setelahnya Rachel tetap mencoba namun masih sama, nomor itu tidak pernah aktif lagi.


Hubungannya dengan Andre semakin dekat meski ditentang oleh Bram. Rachel harus mencuri-curi waktu bertemu dengan Andre di luar jam kantor. Entah apa alasannya sampai Bram berkali-kali melarangnya untuk dekat dengan Andre.


Rachel hanya berteman dekat dengan Andre, meski ia tahu gelagat Andre tidak begitu. Andre selalu memberikannya perhatian-perhatian kecil baik di kantor ataupun di luar. Dari situ muncullah gosip di kalangan karyawan lainnya. Tapi Rachel mencoba untuk menebalkan telinganya. Ia percaya suatu waktu nanti gosip itu akan padam dengan sendirinya.


Diantara semua kejadian, yang membuatnya tidak nyaman saat ini adalah bu Andini. Atasannya yang sedikit galak, kaku dan bersifat keras. Biasanya memang begitu, tapi sejak gosip dirinya dan Andre mulai banyak dibicarakan itu membuat Andini semakin terlihat muram dan membebankan banyak pekerjaan pada Rachel. Bagi Rachel tidak masalah soal pekerjaan tapi sesekali itu membuatnya tidak nyaman.


Di sisi lain, ia mendapatkan teman baru pengganti Cecil yang mejanya tak jauh darinya. Gadis yang lebih muda darinya dan sangat bertalenta. Wajar saja ia bisa menempati meja Cecil. Anaknya ceria, suka menyanyi dan menari. Awal bertemu mengingatkan Rachel akan sosok Jim.


"Hel... Undangan nih!" Boy memberikan sebuah undangan berwarna putih untuknya.


"Thanks...!" jawab Rachel menghentikan kegiatan menggambarnya dan melihat sampul undangan tersebut. Undangan reuni teman-teman SMA-nya. Rasanya malas untuk membuka jadi Rachel membiarkan saja undangan itu dan meletakkannya di samping layar komputernya.


Ia tak berminat untuk datang ke acara reuni yang terkadang hanya menjadi ajang pamer 'sesukses apa dirimu'. Karena dulu saat Rachel belum bekerja seperti sekarang, ia ikut hadir di acara tersebut. Acaranya membuatnya bosan dan kesal. Bukannya mereka mengingat masa-masa sekolah, malah memamerkan kegiatan harian mereka. Aaah saat itu Rachel hanya seorang beban keluarga. Pekerjaan masih freelance. Jadi ia hanya banyak diam dan berpamitan meski acara belum selesai.


Rachel tersadar dari lamunannya dan segera melanjutkan pekerjaannya. Tak lama pesan dari Andre masuk ke ponselnya, seperti biasa pria itu akan mengajaknya makan siang di salah satu tempat favorit Rachel, tentu saja gadis itu meng-iyakan ajakan Andre. Ia membalas pesan itu sambil tersenyum.


Dan soal Andre, jujur saja Rachel memang tidak memiliki perasaan lebih. Tapi di saat hatinya patah dan harus melupakan seseorang sepertinya dia juga butuh hiburan. Selain teman-teman kerja, Bram, ia juga butuh Andre. Sebenarnya Rachel tak mau terlihat memberikan harapan pada Andre. Sesekali ia juga akan menjauh dari Andre jika ia rasa Andre memiliki gelagat lain. Rachel tentu saja peka dengan apa keinginan Andre mendekatinya. Tapi ia masih belum bisa melupakan Jim.


Dan entah apa kabarnya pria itu? Andai ia bisa meminta, ia meminta untuk bertemu dengan Jim meski hanya sebentar. Setidaknya ia bisa melepas rindu dan mengatakan semua yang ada di kepalanya. Maka setelah itu sedikit bebannya akan berkurang.

__ADS_1


Ponselnya tak berhenti berdenting dari tadi. Rupanya grup SMA nya saling berbalas pesan. Rachel melihat pembicaraannya teman-temannya tanpa berniat ikut ngobrol. Setelah itu teman-temannya semakin banyak yang berkomentar. Rachel jadi pecah konsentrasi. Ia membuat ponselnya mode hening lalu melanjutkan pekerjaannya.


Sore harinya, pulang dari kantor Andre berniat mengantar Rachel pulang. Tapi ia menolak dengan alasan bahwa ia ada janji dengan teman sekolahnya. Padahal ia hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak. Rachel memutuskan pergi ke salah satu mall dan memasuki sebuah toko es krim. Ia memesan ukuran jumbo untuk dirinya sendiri dan mencoba menikmatinya.


"Helll...! Kamu di sini?" tanya Tania yang baru saja masuk.


"Eeeh iya, sendiri?" tanya Rachel.


"Yups... Tunggu bentar ya, aku pesan dulu," kata Tania. Rachel mengangguk. Sepuluh menit kemudian Tania bergabung dengan Rachel.


"Tumben sendirian," kata Rachel.


"Iya, bosen banget. Capek. Pengen sendiri dulu," kata Tania menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya.


"Nggak ada, pengen sendiri juga," jawab Rachel, lalu mereka tertawa. Keduanya bercerita tentang banyak hal, seolah mereka sahabat lama yag baru saja bertemu.


"Lagi sibuk apa sih sampe kudu menyendiri?" tanya Rachel.


"Biasa, ada yang mau ngadain reuni. Mereka minta acara di hotelku. Cuma banyak banget kendalanya dan tadi baru kelar setelah debat alot,"


"Reuni?"

__ADS_1


"Iya reuni SMA," jawab Tania.


"Apa SMA ini?" tanya Rachel menunjukkan surat undangannya.


"Iya bener, kamu alumni?" tanya Tania.


"Iya, cuma males banget mau ikutan. Acaranya ngebosenin!" kata Rachel.


"Iiih nggak loh, aku liat konsepnya malah keren banget. Dan kamu tahu kan mereka mengundang salah satu grup idol yang terkenal itu," kata Tania antusias.


"Hmmm... Aku tahu," kata Rachel lesu.


"Kok malah nggak semangat? Aku semangat banget ngerjainnya meskipun lewat debat yang lumayan sama tim mereka. Tapi endingnya keren banget! Malah mereka udah latihan buat manggung, liat nih!" Tania menyodorkan ponselnya ke wajah Rachel. Dengan ogah-ogahan Rachel memperhatian video si idol bernyanyi sambil menari diiringi penari latar. Lalu ada juga beberapa foto yang sempat diabadikan oleh Tania. Bahkan mereka sempat foto bersama. Namun di foto terakhir membuat Rachel membeku.


Di belakang sang idol, di barisan penari itu. Ada satu wajah yang tak lagi asing. Wajah yang selama ini menghantui pikirannya, mengisi malam-malam sepinya juga mengisi mimpinya. Jim. Ternyata dia penari di grup idol itu. Selama ini Rachel tak pernah tahu dia ikut siapa, tak pernah bertanya tentang kegiatan menarinya. Itulah hal yang disesalinya kini.


Tapi Tuhan menunjukkan caranya melalui Tania.


"Halo! Hel? Kamu nggak apa-apa?" tanya Tania.


"Nggak apa-apa, kamu kenal dia?" tunjuk Rachel pada foto Jim.

__ADS_1


"Nggak, tapi beberapa kali ada dia menanyakan segala keperluan mereka. Sepertinya dia leader-nya. Rachel mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tiba-tiba ia mengubah keputusannya. Ia menemukan satu ide soal reuninya. Ia harus datang kali ini. Kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Maka Rachel harus memanfaatkan momen itu.


__ADS_2