Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
64


__ADS_3

Rachel dan Bram pamit pulang lebih dahulu karena kondisi kaki Rachel yang sedikit membengkak.


"Gimana tadi?" tanya Bram.


"Gimana apanya?" tanya Rachel.


"Aku lihat tadi kamu di ruangan sama pacar kamu, dia sudah ingat?"


"Boro-boro... Ngobrol aja susah. Ada aja gangguannya," keluh Rachel.


"Tapi kan bisa ketemu,"


"Iya sih!"


"Terus itu kaki kenapa?" tanya Bram.


"Kesikut ama fans nya," jawab Rachel sambil merengut kesal.


"Tapi kan bisa berduaan tadi," kata Bram.


"Iya juga sih,"


Rachel kembali memikirkan pertemuannya dengan Jim yang terlalu singkat. Rachel masih ingin berbicara banyak tentang banyak hal tapi semua buyar saat teman-temannya berkumpul. Entah masih ada kesempatan untuk bertemu lagi atau tidak.


Rachel harus beristirahat beberapa hari untuk memulihkan kakinya. Setelah sedikit membaik, Rachel masuk kerja dengan kaki sedikit pincang.


"Hel... Akhirnya kamu masuk, kok nggak balas pesanku? Kamu juga nggak ada dirumah?" tanya Andre memberondongnya dengan pertanyaan saat mereka berada di lobi kantor. Untunglah saat itu sepi sehingga tak banyak mata yang melihat.


"Maaf pak saya sudah terlambat!" ucap Rachel. Ia bergegas berjalan. Andre menarik tangan Rachel.


"Hel! Sebentar!"


"Pak..."


"Hel... Kamu kenapa?" tanya Andre.


"Saya nggak apa-apa pak,"


"Kok kamu menghindar dari saya?"


"Perasaan bapak aja, saya masuk dulu ya pak!" Rachel meminta ijin lalu berjalan menjauh meninggalkan Andre yang berdiri mematung menatap punggung Rachel sambil bertanya-tanya apa kesalahannya.


Rachel kembali bekerja dan mengabaikan gosip antara dirinya dan Andre. Seolah memang tidak ada yang terjadi. Memang itulah yang diinginkan oleh Rachel. Ia tak mau dekat dengan siapapun sampai ia bisa mengembalikan ingatan Jim.


Kasak-kusuk dibalik mejanya membuat konsentrasinya buyar. Rachel memutuskan untuk keluar sebentar. Saat ia keluar, Andini memanggilnya dan mengajak ke event yang pernah Rachel datangi bersama Andre. Rupanya event itu sudah berjalan beberapa hari dan hari ini adalah hari terakhir. Mereka buru-buru karena Andini ada keperluan yang sangat mendesak di beberapa stand.


Dalam waktu 20 menit mereka sudah sampai. Mereka langsung menemui penyelenggara dan Andini masih sibuk dengan urusannya. Rachel hanya berdiri disana sambil membawakan tas dan berkas milik Andini. Seseorang menabrak Rachel hingga semua yang dipegangnya berjatuhan.k0 akk


"Maaf!"


"Tidak apa-apa, tapi..."


"Sini aku bantu...loh? Rachel?" tanya si penabrak.


"Eric?"

__ADS_1


"Kamu ngapain? Gimana kakinya?" tanyanya sambil menyerahkan semua barang milik Rachel.


"Urusan kantor. Kakiku udah lebih baik tapi ya masih begini," jawab Rachel.


"Oooo... Maaf ya tadi buru-buru, aku masuk dulu!"


"Tunggu Ric!"


"Ya?"


"Apa yang lain juga datang?" tanya Rachel.


"Yang lain? Jim?" tanyanya.


"Uhm.... Ya..." jawab Rachel pelan.


"Hehehe wah kamu beneran suka dia?" goda Eric.


"Issshhh nanya loh ini," sungut Rachel.


"Hahahaha iya dia datang, soalnya boyband kemarin manggung dan bawa dancer. Nggak banyak hanya enam orang termasuk aku dan Jim. Kamu mau bertemu? Lagi ada fansign di depan sana!"


"Bolehkah?" tanya Rachel penuh harap.


"Fanssign?" tanyanya.


"Iya tapi Jimnya aja," jawab Rachel malu-malu.


"Boleh, ayo ku antar ke backstage!" ajak Eric. Rachel memberikan kabar ke Andini dengan mengirimkan pesan. Lalu ia berjalan mengikuti Eric menuju backstage. Jujur saja, jantungnya tidak berdetak dengan normal untuk bertemu dengan Jim.


"Fans?"tanyanya sambil mengernyitkan keningnya.


"Yuk masuk!" ajak Eric. Mereka masuk dan mendekati Jim.


"Loh? Kamu kan yang waktu itu..." tanyanya.


"Iya," jawab Rachel.


"Aku tinggal dulu ya, aku beresin beberapa barang dulu," Eric pamit. Tinggallah mereka berdua.


"Maaf kalau aku ganggu,"


"Nggak kok, ayo duduk di sini!" Jim memberikan sebuah kursi untuk Rachel, lalu ia meraih kursi lain untuk dirinya.


"Ada apa?" tanya Jim tersenyum ke arah Rachel. Rachel bingung harus berkata apa.


"Uhm... Gimana kabar kamu?" tanya Rachel. Jim tertawa mendengarnya.


"Baik... Oh ya, aku belum sempat berterimakasih waktu itu. Terimakasih ya, sudah mau membantu,"


"Hanya sedikit, kamu ikut mengisi acara disini?" tanya Rachel.


"Iya, dan mereka sedang fansign. Kamu nggak ikutan sekalian?" tanya Jim sambil tertawa.


"Nggak, aku ngefans nya sama kamu!" kata Rachel sambil tertawa.

__ADS_1


"Waaah, aku tersanjung ada fans secantik kamu," ucapnya. Obrolan mereka mengalir begitu saja dan Rachel seolah menemukan banyak hal yang bisa diceritakan. Dan Jim menyukai cara Rachel bercerita dan tertawa. Ia merasa tawa Rachel tidak asing di telinganya.


Keduanya asyik bercerita sampai mereka lupa waktu. Andini harus menelpon Rachel untuk kembali ke kantor. Akhirnya mereka berpisah, Rachel kembali ke kantornya dan Jim merapikan barang bawaannya dan segera pulang.


Setelah Rachel tidak lagi di sana, Jim terbayang tawa Rachel. Jim tersenyum sambil memasukkan handuk kecil terakhir kedalam tasnya.


"Bahagia banget!" ujar Eric yang baru saja kembali setelah memasukkan barangnya ke mobil.


"Kamu tau gadis tadi?" tanya Jim


"Rachel?"


"Ya, itu namanya. Dia lucu juga. Dan kamu punya nomor ponselnya kan?" todong Jim.


"Hei! Kalian ngobrol selama itu dan kamu nggak dapat nomor ponselnya?" tawa Eric membahana.


"Dia asyik diajak ngobrol! Sini! Minta nomornya!"


"Nggak! Lain kali minta sendiri!"


"Halah! Bilang aja emang nggak punya kan?"


"Punya! Hei semua nomor ponsel cewek yang di ponselku kamu ambil! Aku pertahanin yang satu ini!" kata Eric.


"Kali ini serius! Aku mau dia!" kata Jim.


"Lalu gadis jepang itu? Siapa namanya? Nae?" tanya Eric. Jim diam sejenak.


"Dia..."


"Yuk! Pulaaaang! Aaaah badan rasanya pegal semua. Kalian mau pulang atau mampir?" tanya dancer yang baru masuk.


"Aku pulang!" kata Jim


"Aku juga!" kata Eric.


Lalu setelah say good bye dengan beberapa dancer lainnya dan boyband, mereka berpisah jalan. Eric dan Jim satu mobil, karena Jim belum dibolehkan menyetir mobil sendiri. Maka ia selalu mengikuti Eric.


Sepanjang jalan Jim kepikiran dengan Rachel. Ingatannya selalu mengarah ke obrolan mereka tadi, mendengar suaranya bercerita dengan semangat dan tawanya yang ceria. Entah kenapa Jim bisa membuat sosok Rachel melekat di ingatannya.


"Mikirin Nae?" tanya Eric.


"No, aku kepikiran soal Rachel,"


"Serius? Apa kamu ingat sesuatu?" tanya Eric.


"Ingat sesuatu? Nggak ada, tapi aku tidak asing dengan tawanya. Tawanya membuatku candu!" Jim menyugar rambutnya.


"Waaaa... Kamu benar-benar menyukainya?" tanya Eric.


"Entahlah! Rasanya aku dekat dengan dia, tapi aku nggak ingat apapun. Apa dia teman kita dulunya?" tanya Jim.


"Bukaaan, tapi ada seseorang menyampaikan padaku. Kalau kamu punya seorang pacar,"


"Pacar? Benarkah? Siapa? Aku nggak ingat apapun! Kadang aku benci keadaan ini, hal-hal penting banyak yang kulewatkan!" Jim berkata kesal dan membuang pandangannya keluar.

__ADS_1


"Kamu mau tau? Dia...."


__ADS_2