
"Pacar? Benarkah? Siapa? Aku nggak ingat apapun! Kadang aku benci keadaan ini, hal-hal penting banyak yang kulewatkan!" Jim berkata kesal dan membuang pandangannya keluar.
"Kamu mau tau? Dia...."
"Aaaarggghhhh....!" tiba-tiba Jim memegang kepalanya sambil menunduk.
"What? Kenapa?" tanya Eric menghentikan mobilnya.
"Kepalaku... Sakit..."
"Kita kerumah sakit!" Eric memutuskan lebih baik segera diperiksa daripada nanti bertambah parah.
"Nggak! Dah oke... Antarkan aku pulang!" pinta Jim.
"Yakin mau pulang aja?" tanya Eric. Jim mengangguk dan memejamkan matanya. Kepalanya masih sedikit berdenyut tapi entah kenapa saat memejamkan mata ia malah terbayang Rachel yang tersenyum dan tertawa. Jim tidak habis pikir, padahal ia merasa baru bertemu dengan Rachel. Itu juga beberapa kali dan hanya mengobrol sebentar. Tapi terlihat tidak asing.
*Apa kamu percaya ada kehidupan selanjutnya?
Apa kamu percaya apa yang ditakdirkan saat ini adalah hukuman kita dimasa lalu?
Apa kamu percaya bahwa takdir kita akan berakhir? Entah itu akhir yang bahagia atau akhir yang menyedihkan?
Yang bisa aku lakukan saat ini adalah melakukan banyak hal baik, agar meringankan secuil karma, sedikit kesakitanku*.
Jim termenung menatap kata-kata yang terlihat di komputernya. Awalnya ia iseng membuka twitter dan melihat postingan dari seseorang. Jim berpikir mengapa ia bisa sampai hilang ingatan. Apakah itu kesalahannya dimasa lalu? Dan kini karma itu menghampirinya? Sakit rasanya bahwa kita tidak pernah tahu orang-orang disekeliling kita. Ditambah lagi tatapan banyak orang yang melihatnya dengan penuh rasa kasihan.
Jim tidak butuh itu. Orang hanya bisa menghibur tanpa pernah tahu apa yang ia alami. Ia seolah mengabaikan orang-orang terdekat padahal ia memang tak ingat apapun.
Jim menyugar rambutnya dan membawa segelas minuman ke balkon rumahnya. Ia menatap bintang. Ia menertawai nasibnya. Dari sekian banyak orang, dari semua kesalahan-kesalahannya di masa lalu, ia terpilih menjadi seseorang yang memikul beban ini.
'Aku seperti tidak bersyukur, Tuhan! Ampuni aku atas semua kesalahanku dimasa lalu,' bisik Jim. Ia menghabiskan minumannya dan meletakkan gelasnya kembali.
Jim meraih jaketnya dan turun ke lantai bawah. Kedua orangtuanya sedang menonton televisi. Ia berpamitan untuk mencari udara segar. Jim berjalan jauh dari rumahnya. Ia singgah untuk membeli minuman dingin lalu melanjutkan jalannya.
Ternyata malam itu sangat ramai. Banyak anak muda seperti dirinya di sepanjang jalan. Karena disana banyak penjual di pinggiran jalan yang berjualan dengan harga miring dan pastinya enak. Aroma masakan tercium disegala penjuru dihiasi dengan kepulan asap. Begitu juga suara keras orang-orang yang bercerita dan tertawa.
Tiba-tiba saja Jim merasa sendiri diantara keramaian. Hanya dia yang berwajah murung. Semua orang bahagia dan tertawa. Jim melihat ke sekelilingnya dan ia merasa memang seharusnya ia mencari udara segar.
__ADS_1
Jim melanjutkan perjalanan keluar dari hiruk pikuk keramaian. Dia menyusuri jalan pada sebuah perumahan dan saat berjalan ia tertegun menatap sebuah taman bermain yang cukup luas. Tak ada orang di sana. Jim tanpa sadar masuk ke taman bermain yang dikelilingi oleh pagar rendah dan tanpa gerbang.
Jim melihat ke sekelilingnya. Ada empat buah ayunan, jungkat jungkit, perosotan, beberapa alat untuk olahraga ringan. Juga sebuah kolam berisi pasir halus untuk bermain anak-anak. Selebihnya tanah pada taman tersebut ditanami rumput.
Jim duduk di salah satu ayunan dan menatap ke sekelilingnya. Ia merasa tak asing dengan pemandangan dihadapannya. Dimanakah ia pernah melihat ini? Ia pasti pernah kemari, tapi ia tak ingat sedikitpun.
Jim tersadar dari lamunannya saat beberapa remaja yang baru datang berkumpul di sana sambil mengobrol. Sedikit terganggu dengan suara berisik, Jim bangkit dan meninggalkan taman tersebut.
Sekali lagi Jim memindai pandangannya pada keseluruhan taman tersebut sebelum ia melangkah menjauh. Ia memutuskan akan kembali lagi ke sana di lain waktu. Ia seperti memiliki kenangan di sana. Ia harus bisa mengumpulkan ingatannya kembali.
Jim bersenandung di sepanjang jalan. Ia melihat sebuah botol kosong dan dengan sekuat tenaga menendang botol itu.
'manusia hobi nyampah!' umpatnya dalam hati sambil menendang botol. Botol itu melayang cukup tinggi sebelum akhirnya mengenai bahu seseorang!
"Aduh!" seorang wanita mengaduh kesakitan sambil menoleh ke belakangnya dan menatap Jim yang berdiri diam membeku. Jim hapal suara itu tapi ia harus meyakinkan dirinya dahulu.
Wanita itu berjalan mendekat. Jim bergeming dan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Ia menunggu kemarahan yang dilontarkan gadis itu.
"Kamuuuuu!" ucapnya sambil mengambil ancang-ancang akan memukul Jim dengan botol yang kini dipegangnya.
"Sorry... Nggak sengaja!" ucapnya.
"Loh? Jim? Kamu Jim, kan? Ngapain di sini?"
"Hah? Rachel kan?" Jim memastikan.
"Iya! Ini aku. Kamu dari mana?"
"Kebetulan banget yah! Uhm aku mau cari makanan. Ayo, temani aku!" Jim menarik tangan Rachel yang masih memegang botol kosong yang ia tendang.
"Eeeh tapi... Tapi..."
"Udah, anggap aja sebagai permintaan maaf. Aku traktir kamu, ya. Ini buang aja!" Jim menarik botol kosong dari tangan Rachel dan membuangnya ke tong sampah. Ia lalu menarik tangan Rachel menuju area penjual makanan.
"Tapi..."
"Kenapa? Kamu kenyang? Ya udah kita minum aja!" kata Jim.
__ADS_1
"Bukan gitu, tapi..."
"Aaaah kamu diet? Yaudah nggak apa-apa. Lain kali aku ajak kamu,"
"Iih bukan itu. Dengerin aku dulu!" kata Rachel.
"Kenapa?" Jim berbalik karena Rachel menahan tangannya yang menggenggam tangan Rachel.
"Itu! Sendal aq ketinggalan! Kamu main tarik aja!" kata Rachel menunduk dengan wajah merah. Jim menatap ke arah kaki Rachel. Benar saja kaki gadis itu sekarang hanya memakai sendal sebelah kanan saja. Jim tertawa lepas, lalu terhenti saat Rachel terlihat cemberut.
"Sorry! Aku ambilkan! Kamu tunggu di sini!" Jim melepaskan tangannya dan berlari mengambilkan sendal milik Rachel yang lepas. Sepanjang perjalanan senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Jim kembali dan meletakkan sendal tersebut ke kaki Rachel. Lalu setelah memastikan Rachel memakainya, mereka kembali berjalan.
"Kaki kamu masih sakit?" tanya Jim.
"Masih!" jawab Rachel.
"Maaf ya kalau aku narik kamu tadi, apa sekarang masih sakit?" tanya Jim menatap ke Rachel.
"Uhm... Sedikit," jawab Rachel yang wajahnya kembali memerah. Jim malah tersenyum senang melihat wajah Rachel yang memerah.
"Maaf!" kata Jim buru-buru saat melihat Rachel melotot menatap dirinya yang tersenyum geli.
"Sebagai gantinya, traktirannya double!" kata Rachel lalu duduk di salah satu kursi yang disediakan penjual.
"Loh? Kok double?" tanya Jim yang duduk dihadapannya.
"Pertama, karena udah lempar botol. Kedua, karena menertawaiku," kata Rachel sambil menaikkan satu per satu jarinya hingga jari telunjuk dan jari tengahnya naik menunjukkan angka dua.
"Hahahaha... Oke... Tapi..."
"Jim? Kamu...."
Jim berbalik saat seorang gadis menepuk bahunya dan Jim melongo menatap gadis tersebut. Dia...
Berzembeng
__ADS_1