Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
45


__ADS_3

Malamnya Rachel membuat makan malam di luar. Pesta BBQ meski hanya berdua. Sesekali Rachel ingin suasana berbeda untuk mereka.


"Selalu ada kejutan!" kata Jim berjalan ke arah Rachel yang menyiapkan piring.


"Kamu nggak suka?" tanya Rachel.


"Sangat suka, ada yang bisa kubantu?" tanya Jim.


"Bereskan yang diatas pemanggang, lalu kita makan. Aku sudah sangat lapar," kata Rachel. Jim segera mengambil alih pemanggangan.


Setelah matang, mereka makan berdua dengan nikmat sambil bercerita banyak hal. Terutama Rachel mnceritakan berbagai kejadian di hari itu. Jim hanya menatap Rachel yang bercerita sambil tersenyum.


"Dengerin nggak sih!" protes Rachel.


"Denger dong," Jim menjawab sambil tersenyum, lalu menggenggam tangan Rachel lalu mengecupnya pelan. Rachel tersenyum malu menatap Jim.


Setelah makan malam, mereka tidak langsung masuk ke rumah melainkan duduk di luar menatap bintang.


"Kamu suka bintang..." kata Jim. Rachel mengangguk menatap langit dengan taburan bintang yang berpendar.


"Selalu. Dan itu mengingatkanku tentang kamu," kata Rachel.


"Oh ya?" tanya Jim.


"Ya, karena bintang aku melihatmu latihan malam itu. Ingat? Kamu menari di kegelapan,"


"Kamu pasti langsung terpana melihat kegantenganku,"


"Hmmmm... Pede banget," Rachel tertawa sambil memukul pelan bahu Jim.


"By the way, kamu sekarang jarang dance lagi, kenapa?" tanya Rachel.


"Udah lelah duluan. Di kantor banyak kerjaan, di rumah ngerjain kamu," Jim terkekeh sambil melihat pipi Rachel yang memerah.


"Jiiim! Malu ah..." kata Rachel.


"Kalo di sini malu, di kamar... Ampuuuuunnnn!" Jim berteriak karena Rachel mencubit pinggangnya.


"Dance dong!" pinta Rachel.


"Siap nyonya Jim. Duduk da tersenyum manis, jangan lupa kasih tepuk tangan yang ikhlas," kata Jim meraih ponselnya. Ia menghidupkan musik dan mulai menari. Rachel tersenyum sambil bertepuk tangan.


"Masih sebagus dulu," komen Rachel saat Jim menyelesaikan tariannya.


"Sedikit kaku karena sudah lama tidak latihan," Jim mengakui sambil memijit lengannya.

__ADS_1


"Tapi tetap bagus," puji Rachel.


"Thanks...," Jim mengambil minuman dan menghabiskannya dalam beberapa teguk.


"Sayang, sini sebentar. Aku mau nanya," kata Rachel menepuk kursi di sampngnya.


"Mau nanya apa?" tanya Jim menuruti permintaan istrinya.


"Dulu waktu suka dance pasti banyak yang suka kamu ya," kata Rachel.


"Uhm... Nggak tahu! Waktu itu aku hanya berpikir untuk karir. Aku harus bisa meghasilkan uang banyak, karena keluargaku saat itu sedang bangkrut,"


"Hmmm... Benarkah?"


"Benar! Nggak percaya?" tanya Jim. Rachel menggeleng sambil tersenyum.


"Kalo pacar? Banyak?" goda Rachel. Jim hanya tertawa sambil menggeleng.


"Hanya dua kali pacaran, sudah kubilang sulit sekali membagi waktu saat itu,"


"Tapi akhirnya..."


"Ya aku punya pacar, tidak ada yang bertahan lama," jawab Jim sambil menatap pemandangan di depannya.


"Ada yang kamu pikirin?" tanya Rachel memegang pundak Jim. Jim menggeleng.


"Aku hanya bertanya. Apa tidak boleh?"


"Boleh, buat kamu apa aja boleh," senyuman Jim kembali merekah.


"Gombal! Btw gimana kabar mantan kamu?"


"Kok nanya lagi?" kata Jim


"Hanya mau tahu, apa nggak boleh?" tanya Rachel.


"Aku nggak tahu kabarnya, nggak pernah ketemu juga," jawab Jim sambil memainkan gelas di tangannya.


"Hmmm begitu, apa dia cantik?" tanya Rachel.


"Hmmm... Cantikan kamu," jawab Jim. Rachel kembali diam, tak menanggapi. Sulit rasanya untuk memancing pembicaraan Jim tentang masa lalunya. Bukannya Rachel ingin mengungkit rasa sakit Jim, tapi karena rasa bersalahnya pada wanita itu. Yang sebenarnya terjadi, antara Jim dan wanita itu kisahnya belum usai. Bagaimana bila suatu hari wanita itu sadar dan mencari Jim, lalu mengetahui keadaan yang sebenarnya. Apakah wanita itu akan mau menerima bahwa Jim sudah menikah? Atau dia marah? Atau menyalahkan Rachel dan waktu? Rachel tak ingin disalahkan karena hal ini.


"Kamu mikirin apa sih?" tanya Jim meraih bahu Rachel dan menyandarkan kepala Rachel di dadanya. Ia mengelus rambut Rachel yang terurai panjang.


"Tidak ada, tapi ada satu hal yang mengganjal..." kata Rachel.

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Jim. Rachel membenarkan duduknya dan menatap Jim.


"Maafkan aku sebelumnya dan janji jangan marah," Rachel mengulurkan kelingkingnya. Jim tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya ke jari Rachel.


"Janji..."


"Maaf... Aku baru tahu kisah kamu dan pacar kamu dulu,"


"Lalu masalahnya?" tanya Jim.


"Iiiih dengarkan dulu! Aku tahu dari bibi eeeh tapi jangan marahi bibi. Aku yang meminta dia menceritakan semua. Karena bibi senang melihatmu yang sekarang," sambung Rachel saat melihat Jim menarik napas.


"Itu hanya masa lalu, buat apa harus diceritakan?"


"Tidak, hanya rasanya ada yang mengganjal,"


"Sudahlah Hel, bagiku itu hanya masa lalu. Tak perlu diungkit. Aku hanya inhin fokus dengan kita," Jim berdiri dari duduknya dan akan beranjak pergi.


"Sebentar! Ini belum selesai,"


"Hel... Please. Aku tak ingin membahas itu,"


"Tapi kamu..."


"Aku masuk dulu,"


"Jim..." panggil Rachel pelan, Jim hanya diam melangkah tanpa melihat ke arah Rachel.


Rachel hanya menarik napas dan menghembuskannya dengan keras. Rachel harus bersabar, karena mengingat masa lalu Jim pasti seolah membuka kembali lukanya. Sepertinya Jim masih memiliki rasa bersalah karena menyebabkan kekasihnya yang dulu terbaring koma.


Rachel menyibukkan diri dengan membereskan peralatan makan malam, mencuci piring dan merapikan kembali peralatan masak seorang diri. Ia butuh sendiri dan tak ingin merepotkan bibi. Setelah selesai, Rachel mandi. Meski sudah malam tapi bau asap dan daging di tubuhnya membuatnya tak nyaman.


Setelah mandi ia masuk ke kamar dan melihat Jim tidur dengan lengan yang menutupi wajahnya. Ada rasa bersalah pada diri Rachel tapi ia juga merasa takut pada hubungan mereka.


Perlahan Rachel naik ke tempat tidur dan membaringkan diri di samping Jim. Sepertinya Jim sangat lelap. Rachel menarik selimut dan tidur. Ia sangat lelah hari ini.


Tak lama kemudian Jim bangun. Ia menatap Rachel sebentar kemudian berjalan ke jendela kamar dan melihat keluar. Pikirannya juh melayang mengingat apa yang mereka bicarakan tadi. Entah kenapa ia merasa marah hanya karena Rachel bertanya tentang Leana. Wanita yang dipacarinya dahulu. Wanita yang dibawanya sebelum kecelakaan itu terjadi dan menyebabkan koma. Lalu keluarganya membawa Leana pergi entah kemana. Jim sudah berusaha mencari kemanapun tapi ia tak menemukannya. Bahkan ia menyewa orang kepercayaan untuk mencari jejak Leana. Sampai saat ini semua hasilnya nihil.


Sakit mengingat tragedi lalu. Ia sudah berusaha berdamai dengan hatinya, dengan rasa bersalahnya tapi ia belum bisa melupakan semuanya. Tapi saat bertemu Rachel, sedikit-sedikit ia bisa mengobati lukanya. Hanya mengobati bukan melupakan. Ia belum bisa. Ia hanya ingin wanita itu selamat, bisa menjalankan harinya. Jim tak ingin rasa bersalah ini menghantui selama sisa hidupnya meski ada Rachel di sampingnya.


"Jim... Waktumu sebentar lagi..." satu suara berbisik di belakangnya.


"Berikan aku waktu lagi..." pinta Jim.


"Sudah limit Jim..."

__ADS_1


"Tapi aku..."


__ADS_2