Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
07


__ADS_3

"Loh? Kamu? Ngapain di sini?" tanya Rachel heran melihat seseorang yang tersenyum di hadapannya dengan pakaian rapi dan wangi.


"Surprise!" ia berkata sambil mengangkat kotak bekal. Seorang pria berkemeja dengan lengan digulung hingga ke siku berdiri di hadapannya. Rachel membelalakkan matanya.


"Andre?" tanya Rachel meyakinkan dirinya.


"Terkejut? ayo sarapan, aku sengaja mampir ke rumah barumu," katanya


"Tapi siapa yang memberitahumu?" tanya Rachel.


"Mataku dimana-mana sayang," ia tersenyum menggoda Rachel. Hal ini membuat Rachel sedikit berbunga-bunga di pagi hari.


"Oh ya, ayo masuk. Aku mandi dulu," pamit Rachel. Andre masuk ke rumahnya dan duduk di ruang tamu memperhatikan sekeliling rumahnya seperti memberi penilaian.


Rachel bergegas mandi dan menemui Andre yang sedang asyik dengan ponselnya.


"Maaf lama, tumben pagi-pagi ke sini. Apa draft gambarku harus diperbaiki? kan bisa via email," kata Rachel.


"Tidak, justru draft kamu sudah diterima dan sedang di proses. Aku sengaja mampir dan sebenarnya aku... kangen," katanya sambil. menatap Rachel dalam.


"Uhm... kenapa?" tanya Rachel, lalu merutuki dirinya sendiri dengan pertanyaan bodoh di hadapan lelaki yang disukainya. Ya, dia menyukai pria di hadapannya.


"Apa perlu penjelasan?" tanyanya sambil tersenyum menunjukkan senyum manisnya yang bisa membuat teman ceweknya meleleh sekantor. Termasuk dirinya.


"Ku pikir ada suatu hal yang penting sampai pagi ini kamu harus ke sini," kata Rachel sedikit salah tingkah.


"Penting untuk mengetahui kalau kamu baik-baik saja. Kupikir kamu sakit, beberapa hari nggak masuk kerja, rupanya kamu pindah rumah," katanya. Rachel mengangguk.


"Sarapan?" tawar Rachel diantara pembicaraan yang canggung. Andre tersenyum dan mengangguk. Mereka sarapan dari bungkusan yang dibawa oleh Andre. Setelah sarapan mereka menuju kantor bersama.


Sampai di kantor beberapa orang berbisik tentang kedatangan Andre dan Rachel. Menjadi topik hangat pagi itu. Rachel berjalan canggung di samping Andre yang terlihat biasa saja dan tak terganggu oleh semua pandangan dan bisik-bisik dari banyak orang.


"Aku ke toilet dulu," kata Rachel dan langsung berlari ke arah toilet tanpa menunggu respon Andre. Rachel membanting pintu toilet dan menguncinya. Ia mengeluarkan bedak dan berkaca. Ia terlihat begitu gugup. Padahal Andre biasa saja.


Rachel menghapus sedikit keringat di dahinya dan memberi sedikit sentuhan bedak di sana. Lalu ia merapikan bajunya dan menekan flush sebelum ia keluar.


"Kamu bareng pak Andre tadi ya?" tanya Cecil salah satu temannya. Rachel mengangguk.


"Kebetulan ketemu di depan," Rachel berbohong.


"Oooh gitu, how lucky you! " katanya sambil memoles bibirnya dengan lipbalm. Rachel hanya mengangkat alisnya seolah tak peduli. Berbahaya bila Cecil tahu Andre datang ke rumahnya membawa sarapan dan bahkan sarapan bersama sebelum ke kantor.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju meja masing-masing dan mulai bekerja. Pekerjaan Rachel lebih banyak karena libur pindahan rumah ia hanya mengerjakan hal yang dianggap penting dahulu.


Tepat pukul 10.00 seorang wanita melewati meja Rachel. Aroma parfumnya menyeruak memenuhi hidung. Ia berjalan sambil mengibaskan rambut panjangnya dengan setelan kemeja dan rok mini. Ia melewati Rachel dan langsung masuk ke ruangan Andre.


"Ssst! Bengong!" Cecil melempar permen ke arahnya tepat mengenai keningnya.


"Apaan sih!" Rachel kesal namun tetap mengambil permen itu dan memakannya.


"Bengong aja liat orang cantik," kata Cecil.


"Lah kan emang dia cantik," kata Rachel.


"Ya cantik, pilihan pak Andre tuh," kata Cecil.


"Kamu tau darimana?"


"Kamu sih kemarin nggak masuk, jadi dia itu temennya pak Andre waktu sekolah dulu. Ada yang bilang dia itu cinta pertamanya pak Andre. Gitu," kata Cecil.


"Ooh, baru tahu,"kata Rachel mengangguk dan mulai mengetik. Cecil malah berdiri bersandar di mejanya.


" Dan katanya mereka mau tunangan," kata Cecil.


"Oh wow, bakal ada acara menarik nantinya," kata Rachel, pura-pura sibuk mengetik.


"Ah masa sih?" kata Rachel.


"Kamu kayak nggak tahu aja, siapa sih yang nggak tahu si galak itu ngejar-ngejar pak Andre?" Cecil masih lanjut menggibah tanpa tahu ada seseorang berdiri di belakangnya.


"Oh ya? Aku kok nggak tahu ya?" gumam Rachel mengedipkan matanya.


'Kamu sih sok sibuk, semua orang tahu si galak itu tiap hari bawain bekal buat pak Andre. Tapi nggak tahu ya sekarang kalau pak Andre udah ada calon tunangan. Masih nekad atau nggak dia ngasih bekal. Kamu kenapa sih matanya?" tanya Cecil kesal melihat Rachel mengedip-ngedipkan matanya.


"Ehem...!" seseorang berdehem di belakang Cecil.


"Eeh bu Andini," seketika wajah Cecil kecut.


"Pagi-pagi gibahin siapa? Ini waktunya kerja!" bentaknya.


"Maaf bu," Cecil langsung ngibrit ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Nanti ke ruangan saya," kata Andini pada Rachel. Rachel mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa aku yang di panggil ya? Harusnya kan kamu," protes Rachel. Cecil hanya cekikian.


Rachel bergegas menuju ruangan Andini dan mengetuknya. Ia masuk setelah dipersilahkan.


"Ada apa ibu manggil saya?" tanya Rachel.


"Sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi saya rasa ini harus kita bicarakan berdua saja," kaya Andini, dengan menopang dagunya.


"Apa itu bu?" tanya Rachel.


"Berjanjilah untuk tidak menyebarkan hal ini," kata Andini yang menatap Rachel tajam. Rachel jadi salah tingkah dan sedikit takut. Sepertinya Andini mengetahui kalau ia juga menyukai Andre. Apakah ia akan mengancam Rachel untuk menjauhi Andre?


"Tadi pagi saya melihat kamu keluar dari mobil Andre. Apa kalian ada hubungan khusus?" tanyanya menyelidik.


"Ibu tahu darimana saya semobil dengan pak Andre?" tanya Rachel.


"Tentu saja saya melihat langsung!" nadanya cukup tegas membuat jantung Rachel dag dig dug.


"Oooh itu, uhm... iya bu. Ada apa ya?" tanya Rachel.


"Apa kamu dan pak Andre ada hubungan spesial?" tanyanya.


"Tentu tidak bu, kebetulan waktu saya nunggu angkot pak Andre lewat dan menawarkan pergi sama-sama, terus..."


"Terus kamu ikut aja? nggak nolak?" tanyanya.


"Ya nolak bu, tapi kan mumpung gratis lumayan uang buat ongkos bisa buat beli gorengan," kata Rachel.


"Benar bukan pak Andre yang jemput ke rumah kamu?" kali ini tatapannya tajam.


"Iy... Iya bu, kenapa ibu bisa kepikiran kalau pak Andre jemput? Kan nggak mungkin bu," kata Rachel. Bu Andini mengangguk senang.


"Iya, nggak mungkin di jemput kamu, saya itu curiga aja kemarin dia nanyain kenapa kamu nggak masuk terus, sampai dia nanya alamat rumah kamu. Pagi ini kalian malah datang barengan. Beneran pak Andre nggak ke rumah kamu?" tanyanya. Tatapannya kembali tajam.


"Nggak bu," jawab Rachel.


"Jangan sampai kamu dekat dengan pak Andre,"


"Emangnya kenapa bu?" tanya Rachel.


"Ya nggak boleh aja, ya udah sana kembali bekerja. Dan jangan ada yang tahu tentang ini," kata Andini.

__ADS_1


"Baik bu, saya permisi," Rachel pamit kembali ke mejanya. Ternyata benar apa yang dikatakan Cecil. Mungkin bu Andini cemburu karena Rachel datang bersama Andre. Seharusnya bu Andini cemburu sama calon tunangan Andre. Bukan dirinya. Rachel menggelengkan kepalanya.


__ADS_2