
"Jiiiiiimmm!"
"Hel...!"
"Rachel...!"
Suara-suara itu saling bersahutan. Awalnya suara itu terasa jauh lalu semakin lama semakin kuat dan ada yang menampar-nampar pipinya. Rachel mengerjapkan matanya dan melihat Bram sedang berjongkok di depannya bersama Noey dengan wajah cemas. Rachel duduk dan mengucek matanya.
"Kamu kenapa? Tidur di teras!"
"Ap... Aku di teras?" Rachel memutar badannya dan benar ia tertidur di teras. Apa ia bermimpi sambil berjalan?
Semilir angin pagi membuatnya bergidik. Tapi tidak, bajunya basah dan payung yang dipakainya tadi malam ada di sana, bersender pada kursi teras dan lantai di sekitar ujung payung masih basah. Ini bukan mimpi!
Rachel berlari ke gerbang dan melihat ke sekitar. Siapa tahu ada Jim, tapi nihil. Jalanan hanya berisi para pekerja dan anak sekolah yang akan pergi ke tujuannya masing-masing. Juga ada beberapa penjual yang menjajakan dagangan. Tidak ada yang dikenalnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bram ikut melongokkan kepala melewati pagar.
"Nggak apa-apa,"
"Aneh! Ngapain kamu tidur di teras gitu? Kalo kenapa-kenapa gimana?"
"Sejak kapan kamu peduli?" tukas Rachel.
"Emangnya salah? Toh selama ini juga begitu,"
"Oh ya? Lalu dimana pacar kamu? Jangan deket-deket! Ntar dia salah paham!" Rachel mendorong tubuh Bram membuat pria itu menghantam tiang teras rumah.
"Aarrrgh! Cewek bar-bar!" umpat Bram.
"Biarin!" Rachel melengos lalu masuk ke dalam rumah. Pakaiannya yang setengah kering membuat badannya tidak nyaman. Rachel meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi. Saat melepas pakaiannya, ada secarik kertas jatuh dari saku bajunya. Alamat rumah sakit!
Berarti kejadian tadi malam memang benar. Rachel bertemu dengan Jim. Jim kesakitan tapi bagaimana cara pemuda itu membawa Rachel ke rumah? Rachel segera ingat janjinya, jadi ia bergegas mandi dan bersiap pergi ke rumah sakit. Sesuai pesan Jim, ia akan menolong pemuda itu untuk menemui ibunya.
Namun, di depan pintu kamar Bram menghadangnya.
"Mau kemana?"
"Bukan urusan kamu!" Rachel berjalan meninggalkan Bram, tapi pria itu segera mencekal tangan Rachel.
"Kamu tidak akan kemana-mana hari ini!"
"Jangan coba-coba menghalangiku!" ancam Rachel.
"Suhu tubuh kamu panas! Kamu demam! Bisa nggak sih nggak rewel? Istirahat! Minum obat! Setelah itu terserah kamu!"
"Tapi aku ada janji!"
"Tinggal telepon!"
__ADS_1
"Aku nggak punya nomornya!" Rachel hampir putus asa mengatakannya.
"Udah deh, kamu itu demam. Ngigau ni, sana masuk kamar!" perintah Bram.
"Nggak! Aku mau pergi!"
"Masuk!" bentak Bram. Seketika Rachel membelalakkan matanya tak percaya. Bram membentaknya. Rachel menatap Bram dengan sengit lalu berbalik ke kamarnya. Ia menghempaskan pintu di balik punggungnya. Bram menyebalkan!
Dengan kesal dan sedikit menggerutu Rachel naik ke atas tempat tidur, ia menarik selimutnya. Memang ia merasa agak dingin, meriang. Mungkin masuk angin tapi ia khawatir dengan Jim soal menepati janjinya.
Tak lama Noey mengantarkan sarapan dan obat untuk Rachel.
"Kak, ayo sarapan dulu," Noey menyibakkan selimut Rachel.
"Uuunggg..."
"Tenang, mereka udah pada pergi kerja. Sarapan dulu, minum obat. Nanti aku temenin kakak ke rumah sakit," kata Noey.
"Kerjaan kamu?"
"Aku libur, digantiin temen," Noey memberikan semangkuk sup hangat. Rasanya menyegarkan. Rachel menghabiskan semangkuk dan meminum obatnya.
"Tumben kamu masaknya enak," kata Rachel menyerahkan mangkuk supnya pada Noey.
"Uhm... Bukan aku yang masak," kata Noey menggaruk kepalanya.
"Kak Cecil, eeeh itu... dia..."
"Santai aja Noey," Rachel tersenyum.
"Aku pikir kalian berantem dan..."
"Nggak, aku sih nggak ngerasa ada salah. Cuma dia yang menghindariku. Santai aja Noey," Rachel berkata cepat mengatasi rasa tak enak pada Noey.
"Pantesan, dia mau bawain kakak sup itu. Tapi kayak bingung terus dia ngasih itu ke aku," kata Noey.
"Hmmmm... Gitu, nanti aku bilang makasih ke dia deh," Rachel tersenyum. Noey mengacungkan kedua jempolnya.
"Dan aku ditugaskan Bram untuk jaga kakak sampe sembuh, ntar udah sembuh aku bantu kakak kabur ke rumah sakit," Noey tersenyum.
"Thanks Noey, sebenarnya pengen pergi pagi ini tapi badanku juga rasanya ngilu semua," kata Rachel.
"Lagian aneh, cewek tidurnya di teras. Mana hujan lagi,"
"Perasaanku tadi malam aku nggak tidur di sana, aku... pergi... Huaaahhhmmm... Aku ngantuk, nanti aku cerita ya," Rachel berbaring karena sudah tak tahan dengan kantuknya karena minum obat.
Siang harinya Rachel bangun tidur dan menyadari bahwa hari sudah terlalu siang. Rachel berjalan keluar kamar dengan kepala yang lumayan ringan tapi tidak dengan hidungnya. Sepertinya ia flu.
Rachel keluar kamar dan melihat Noey sedang makan sesuatu yang berkuah di sebuah mangkuk.
__ADS_1
"Kak! Udah enakan?" tanya Noey.
"Agak mendingan, aku mau ke rumah sakit sekarang,"
"Tapi..."
"Nggak ada waktu lagi,"
"Ya udah tunggu sebentar, aku anterin!" kata Noey sambil berdiri dan meletakkan mangkuknya ke dapur. Bergegas keduanya menuju rumah sakit yang dimaksud.
Sesampainya di sana, Rachel bergegas menuju ruangan yang tertulis di kertas yang diberikan oleh Jim. Di depan ruang inap ada ibu Jim yang sedang menatap kosong.
"Permisi..."
"Ya?" wanita itu tersadar dari lamunannya, keningnya berkerut melihat orang yang tak dikenalnya.
"Saya Rachel, dan saya ingin bertemu dengan Jim dan tante. Apa tante ibunya Jim?" Rachel memastikan. Wanita itu mengangguk.
"Apa kamu teman Jim? Saya belum pernah melihat kamu,"
"Ya, tapi kami belum lama kenal. Hanya beberapa bulan belakangan ini,"
"Maksudnya?"
"Iya kami kenal baru sekitar 3-4 bulanan ini. Dan tadi malam dia menyuruh saya datang ke sini menemui tante, Jim ada dimana?" tanya Rachel.
"Kamu tidak salah? Bagaimana mungkin..." wanita yang ternyata ibunya Jim mendekap mulutnya dan airmata kembali menetes.
"Tante nggak apa-apa? Ada apa?" Rachel duduk di sampingnya diikuti oleh Noey.
Tak lama datang ayah Jim dari ruangan inap. Ia melihat istrinya dan memeluknya.
"Kalian siapa?" tanyanya.
"Saya Rachel dan ini Noey. Saya teman Jim," jawab Elena.
"Kami ingin bertemu dengan Jim," kata Noey.
"Kalian temannya?" tanya ayahnya. Ibunya menangis dan menggelengkan kepalanya sambil menangis. Lalu ibunya lemas dan pingsan. Suaminya menahan tubuh sang istri.
Noey segera memanggil dokter dan akhirnya ibu Jim diperiksa. Ia memiliki tekanan darah rendah dan ia tak pernah tidur dengan baik ditambah makan di jam yang tidak teratur membuat tubuhnya drop.
Mereka menemani ibu Jim hingga wanita itu sadar dengan selang infus ditangannya. Ia masih menangis membuat Rachel dan Noey kebingungan.
"Jim..." ia membisik dengan pelan.
"Jim? Kenapa dengan Jim tante? Apa terjadi sesuatu?" tanya Rachel dengan kepala yang semakin berdenyut karena ia tak begitu sehat.
"Jim...."
__ADS_1