Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
12


__ADS_3

Rachel dan Cecil duduk di kursi belakang, sedangkan Bram mengemudi dengan Tania duduk di sisi lainnya. Mereka hanya diam selama perjalanan hanya sesekali suara isak Cecil masih terdengar.


Sesampainya di rumah Rachel mereka turun. Mereka duduk di ruang tamu. Rachel mengambilkan minuman dingin untuk mereka semua.


"Kamu kenapa?" tanya Bram pada Cecil. Cecil hanya diam memainkan jari di pangkuannya.


"Cil?" Rachel menggoyang bahu Cecil. Ia diam saja dan tetap menunduk. Mereka tak mau memaksa agar Cecil berbicara. Rachel mengantar Cecil ke kamar tamu dan membiarkan gadis itu membersihkan diri dan beristirahat.


Saat Rachel kembali ke ruang tamu, Tania sedang ngobrol dengan Noey sambil tertawa. Rachel menuju dapur menemui Bram di sana.


"Kamu kenal Cecil?" tanya Rachel. Bram memunggunginya dan meminum air dari gelasnya.


"Bram!" panggil Rachel lagi. Bram hanya mengangkat bahu dan meninggalkan Rachel yang dahinya berkerut penuh tanya.


"Sayang, kita jadi pergi ke rumahku?" tanya Tania saat Bram datang.


"Maaf lain kali ya Tania, aku minta maaf. Aku antar kamu pulang. Aku akan mampir besok lusa," kata Bram.


"Tapi kenapa?" tanya Tania, gurat kecewa terlihat di wajahnya.


"Nggak kenapa-kenapa, ayo aku antar," ajak Bram. Tania pamit pada Noey dan Rachel lalu mengikuti Bram ke luar.


"Ada apa sih?" tanya Rachel. Noey hanya mengangkat bahu.


"Gimana kak Cecil?" tanya Noey


"Oh ya hampir lupa," Rachel menuju kamar tamu dan mengetuk pintunya memanggil Cecil. Cecil keluar dengan wajah yang masih sembab.


"Kamu belum mandi?" tanya Rachel, Cecil menggeleng.


"Aku nggak punya baju ganti," kata Cecil. Rachel menepuk keningnya lalu berlari ke kamarnya mengambil sepasang pakaian dan handuk. Setelah mengucapkan terimakasih pintu kamar kembali tertutup.


Rachel tak ambil pusing dan ikut duduk bersama Noey menikmati cemilan sambil nonton televisi.


Tak lama Cecil bergabung bersama mereka, meski wajah dan matanya sembab ia sudah lebih segar dan sudah tersenyum.


"Kening kamu...?" tunjuk Rachel saat melihat kening Rachel di sebelah kanan sedikit luka dan lebam. Juga di leher dan tangannya. Ia berusaha menutupi tapi Rachel dengan memaksa melihat luka lebam di tubuh Cecil.


"Aku nggak apa-apa," Cecil berusaha menghindar.


"Nggak! Ini kenapa? Cerita dong, kalau kamu nggak mau cerita aku nggak mau jadi temen kamu lagi," ancam Rachel.


"Yah, kok gitu?" kata Cecil.


"Abisnya kamu sih, cerita ini kena apa?" tanya Rachel menunjuk bagian tubuh Rachel yang lebam.


"Aku berantem sama cowokku," jawabnya pelan, air mata kembali mengalir.


"Terus? dia yang bikin badan kamu lebam begini?" tanya Rachel. Cecil tak menjawab, ia hanya mengangguk. Rachel memeluknya dan menenangkan Cecil yang kembali menangis.


"Aku boleh tinggal di sini?" tanya Cecil setelah tangisnya reda.

__ADS_1


"Boleh banget, aku kan di sini juga sendiri. Paling Noey yang nemenin aku di sini. Kamu tinggal di sini aja sampai kapanpun kamu mau," kata Rachel.


"Makasih ya Hel, aku nggak tau harus kemana. Aku takut kalau ketemu sama Adit. Dia anaknya temperamen dan cemburuan. Meski akhirnya dia menyesal tapi aku lelah harus jadi pelampiasan amarahnya," kata Cecil.


"Sejak kapan dia kasar gini?" tanya Rachel.


"Setahun setelah kami jadian," kata Cecil.


"Kamu kok diam aja? nggak cerita," kata Rachel.


"Aku takut Hel, aku takut nanti malah kalian juga jadi korban Adit,"


"Kita laporkan aja si Adit ya," kata Rachel. Cecil menggeleng kuat.


"Jangan, aku takut nanti dia jadi dendam. Biar aja nanti dia dapat ganjarannya," kata Cecil.


"Tapi... "


"Please, aku mau liat balasan untuk dia. Penjara aja nggak akan buat dia jera," kata Cecil sambil meremas tangannya.


"Yakin?" tanya Rachel. Cecil mengangguk pasti.


"Asal aku aman, dia nggak tau aku dimana. Itu aja udah cukup," kata Cecil. Rachel memeluknya. Kasihan melihat Cecil yang ternyata sering mengalami tindak kekerasan.


Rachel merasa senang ia tak sendiri lagi di rumah itu. Selama ini ia mau mengajak Cecil tinggal di rumahnya karena ia tau Cecil juga tinggal di kos-kosan. Tapi Cecil sering menolak bahkan di saat ada acara kumpul-kumpul bersama teman kantor ia lebih memilih tidak ikut. Mungkin Adit penyebabnya.


Tak lama Bram kembali ke rumah Rachel setelah mengantar Tania.


"Aku baik-baik aja," jawab Cecil. Rachel dan Noey hanya melihat interaksi mereka berdua.


"Lihat!" Bram menarik paksa tangan Cecil dan memeriksanya.


"Udah, aku nggak apa-apa," kata Cecil.


"Lebam semua ini," kata Bram.


"Udah please, ini udah lama. Tak lama lagi bakal sembuh," kata Cecil.


"Kamu mau visum? kita lapor aja,"


"Nggak! aku nggak mau,"


"Tapi... "


"Please Bram, aku nggak mau. Jangan paksa aku. Aku bisa nyelesein ini. Oke?" kata Cecil.


"Uhmmm... ada yang bisa jelasin ini kalian...?" tanya Rachel menginterupsi kedua orang yang asyik dengan dunianya dan perhatiannya.


"Dia... kamu aja yang jelasin, nanti dia nggak ngerti," kata Bram menunjuk Rachel.


"Emang aku telmi," protes Rachel.

__ADS_1


"Emang," kata Bram.


"Hihihi... dia mantan aku," kata Cecil.


"HAAAAH?!?" Rachel tak percaya.


"Biasa aja mangapnya, masuk laler tuh!" kata Bram.


"Masa sih? Yakin?" tanya Rachel.


"Kamu nggak percaya aku punya mantan?" kata Bram.


"Ho'oh... AWwww,!" Rachel memgafuh karena Bram menjitaknya.


"Abisnya... " kata Rachel.


"Apa?" tanya Bram galak.


"Udah ah, kalian ini kenapa jadi berantem. Iya dia mantan aku, Hel. Udah lama putusnya dan aku nggak nyangka bakal ketemu dia," kata Cecil sambil tersenyum.


"Ternyata dunia selebar daun kelor, eh kok kamu mau sih sama Bram, dia kan... "


"Ganteng!" Bram memotong pembicaraan Rachel yang sedang mode gibah.


"Hmmh... error!" kata Rachel.


"Kak, Noey lapar," tiba-tiba ada satu suara menyeletuk. Mereka semua tertawa bahkan Cecil pun ikut tertawa.


"Yuk, aku traktir. Mau makan dimana?" tanya Bram. Cecil menggeleng.


"Kalau makan di rumah aja gimana? aku takut mau keluar," kata Cecil.


"Setuju, aku juga capek. Udah sana pesen makanan delivery aja buat kita semua," kata Rachel.


"Yang bayar siapa?" tanya Bram.


"Ya kamulah, kan kamu yang ngajak," kata Rachel sambil tertawa.


Bram dengan wajah cemberut memesan makanan untuk mereka semua. Sambil menunggu pesanan datang, mereka menonton televisi.


Tak lama kurir makanan datang, mereka segera menyantap makanan sambil bercerita banyak hal.


"Kak, kebetulan tadi aku di telpon. Aku di terima kerja part time di toko. Lumayan buat tambahan nanti kalau kuliah," kata Noey.


"Ngapain sih kerja di sana? nanti kamu capek, udah biar kakak aja yang mikirin uang kuliah kamu," kata Bram.


"Nggak ah, nanti kalau kurang aja baru kakak tambahin. Aku mau mandiri kak," kata Noey.


"Yakin? sekalian uang jajan nih," goda Bram. Noey tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Kalo aku sih iyes," kata Rachel.

__ADS_1


"Big No buat kamu mah," kata Bram. Mereka semua tertawa.


__ADS_2