Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
56


__ADS_3

"Bram... Rachel..." panggilnya. Kedua orang tersebut serentak menoleh ke belakang. Astaga dia Tania. Dari sekian banyak orang dan momen mereka bertemu di tempat yang tidak terduga. Dan bahkan kini Tania melihat ke tangan Bram yang masih menggenggam tangan Rachel. Dengan cepat Rachel menarik tangannya dari genggaman Bram.


"Hai Tania... Uhm... Sendiri aja? Dari mana?" tanya Rachel mencoba santai. Ia merasa tak enak dengan Tania.


"Sama temen, dari urus kerjaan dikit. Kalian dari mana?" tanya Tania.


"Muter-muter aja. Ada yang galau nggak ketemu cowoknya," kata Bram.


"Oooh... Aku pamit dulu ya, tuh temen aku udah nungguin," Tania menunjuk ke parkiran.


"Oke, hati-hati," kata Rachel sambil melambai.


"Tania! Tunggu!" Bram mengejar Tania yang sudah di parkiran.


"Ya?" Tania berbalik dan menatap Bram menunggu pria itu bicara.


"Uhm... Kapan-kapan boleh kita ngobrol berdua?" tanya Bram.


"Kenapa nggak sekarang? Kapan-kapan itu belum tentu bakal ketemu," kata Tania tegas.


"Maaf, tapi ada banyak hal yang mau aku obrolin, please Tania," Bram memohon.


"Oke, kalau kamu mau nunggu. Nanti sore aku masih di sekitaran sini. Aku nginep di hotel ini," Tania memberikan sebuah brosur hotel pada Bram. Bram menerimanya.


"Aku juga nginep di sini!" Bram berkata dengan senang.


"Kamu dan Rachel?" tanya Tania.


"Iya! Kita ketemu dimana? Aku ke kamar kamu atau..."


"Sebaiknya kita nggak usah ketemu lagi," kata Tania dingin.


"Tapi kenapa?" tanya Bram.


"Nggak kenapa-kenapa, aku permisi!"


"Nggak! Nggak bisa gitu Tania. Sebentar!" kata Bram.


"Apa lagi Bram?" Tania membalikkan badannya, entah kenapa ia sedikit kesal siang ini. Mungkin ia sedikit lelah karena perjalanan yang lumayan jauh.


"Aku serius Tania. Kasih aku kesempatan buat ngobrol," pinta Bram memohon.

__ADS_1


"Nggak. Cukup aku aja yang kamu sakitin Bram. Jangan Rachel. Kasian,"


"Oooh jadi maksud kamu aku sama Rachel...? Astaga Tania. Aku hanya temanin Rachel. Aku juga beda kamar. Lagian aku sama Rachel cuma temen,"


"Terserah!"


"Aku nggak bakal lepasin kamu kalo kamu nggak mau ketemu aku lagi," ancam Bram.


"Ck! Ya udah, ketemu di lobi hotel. Sekarang," ucap Tania. Bram melepaskan tangan Tania dan membiarkan gadis itu masuk ke mobil dan meninggalkan Bram di parkiran. Rupanya Rachel juga sudah menunggu Bram di parkiran.


Rachel dan Bram kembali ke hotel. Saat Bram bertemu Tania, gadis itu sedang di meja receptionist. Bram menunggu tak jauh dari sana dan Rachel pamit menuju ke kamarnya. Lewat tengah hari ini ia baru ingat belum izin ke kantornya bahwa dia libur. Pikirannya sedang kusut sampai lupa melihat ponselnya.


Rachel segera memeriksa ponselnya yang sedang diisi daya. Ternyata banyak sekali panggilan dan pesan dari kantornya. Ia hanya membalas yang penting-penting. Juga membalas pesan Andre yang menjemputnya ke rumah tadi pagi, juga yang menelponnya berpuluh kali dan puluhan pesan untuknya dari pagi. Rachel membalas pesan Andre sedetik kemudian Andre menelponnya.


"Kamu dimana Hel?" tanyanya diseberang sana.


"Maaf, aku nggak di rumah,"


"Are you ok?"


"Nggak apa-apa. Maaf aku nggak pegang hp. Aku lagi pengen sendiri,"


"Nggak apa, aku cuma khawatir kamu nggak di rumah. Juga nggak baca pesanku. Aku ke rmah kamu juga kosong," kata Andre


"Ya udah kamu dimana sekarang? Aku jemput?" tanya Andre.


"Nggak usah. Aku masih sama Bram,"


"Ya udah, cepat pulang. Besok masuk kantor ya, oh ya aku sudah ijinkan kamu ke Andini," kata Andre.


"Thanks alot, Ndre!"


"Gak apa, santai aja. Ya udah aku tutup ya. Bye,"


"Bye!" Rachel menekan tombol merah pada ponselnya. Rachel membaringkan dirinya lalu mulai tertidur karena nyaris semalaman ia tak bisa tidur.


Sementara itu di lobi hotel, Tania menemui Andte setelah pekerjaannya selesai.


"Kamu kerja di sini?" tanya Bram.


"Nggak, kebetulan memang jadwal mantau hotel cabang sini," jawab Tania. Lalu mereka terdiam.

__ADS_1


"Kamu apa kabar?" tanya Bram.


"Aku baik, gimana kamu dan Rachel?"


"Kami sama-sama tidak baik," kata Bram. Tania mengangkat alisnya bertanya. Matanya yang bulat semakin membuat Bram gemas. Bagaimana bisa dia dulu meninggalkan Tania yang sekarang terlihat semakin cantik.


"Kenapa? Bram?" tanya Tania yang melambaikan tangannya.


"Ohhh sorry... Dia kehilangan cowoknya. Maksudku cowoknya hilang ingatan dan keluarganya nggak bisa ditemui. Mereka ngelarang Rachel ketemu cowoknya sampai sekarang,"


"Ooo... Sejak kapan?"


"Sudah lama dan kebetulan aku juga lagi suntuk. Jadi kami sama-sama benerin hati ke sini," kata Bram.


"Kamu kenapa?"


"Cecil bakal dijodohkan orangtuanya. Mungkin ini karma buat aku," kata Bram. Tania hanya diam mendengarkan penuturan Bram.


"Kamu mau ketemu aku cuma mau ngobrolin ini?" tanya Tania.


"Nggak hanya itu. Aku mau minta maaf. Bener-bener minta maaf karena selama ini aku mempermainkan kamu,"


"Udahlah, itu masa lalu. Jujur aja kemarin-kemarin rasanya sakit banget. Tapi makin kesini aku makin sadar kalo kita emang nggak cocok," kata Tania.


"Apa kamu masih marah?"


"Nggak! Aku harus marah kenapa?" tanya Tania lagi.


"Kalau boleh aku mau kita jadi temen," kata Bram.


"Nggak apa-apa nih? Rachel gimana?" tanya Tania.


"Apa soal kami nginep? Aku dan Rachel memang dekat. Tapi memang kami nggak ada hubungan," kata Bram. Tania mengangguk.


Akhirnya mereka ngobrol banyak hal. Selama ini Bram terlalu cuek pada Tania padahal Tania itu sosok yang ramah dan pendengar yang baik. Entah kenapa dia dulu mengabaikan gadis di depannya ini dan malah mendekati Cecil.


Tak lama Tania pamit kembali bekerja. Bram lama terdiam di lobi hotel. Sakit rasanya diabaikan, mungkin seperti inilah yang dirasakan Tania kemarin.


Bram kembali ke kamarnya dan beristirahat. Begitu juga dengan Rachel. Akhirnya Rachel bisa istirahat dan tidur setelah semalaman tidak tidur dengan baik. Kini ia tertidur pulas sampai sore hari. Jika Bram tidak mengetuk pintu kamarnya dan berulang kali menelponnya, mungkin Rachel akan terus tertidur.


Sore itu, Tania mengajak Rachel dan Bram menikmati senja. Sepertinya Tania sudah berbaikan dengan Bram meskipun ia sedikit menjaga jarak. Rachel sangat paham tentang hal itu. Jika dia jadi Tania tentu ia juga akan melakukan hal yang sama, tak ingin disakiti untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


Mereka bertiga menikmati senja tak jauh dari hotel, memesan beberapa kudapan manis dan minuman hangat sebelum makan malam. Bahkan malam harinya Tania dan temannya mengajak Rachel dan Bram berburu makanan lezat di sekitar danau. Karena saat malam banyak pedagang yang berjualan. Dari makanan tradisional bahkan makanan luar. Rachel benar-benar menikmati harinya bersama Tania dan Bram. Sejenak ia bisa melupakan Jim.


__ADS_2