Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
22


__ADS_3

Rachel akhirnya bisa kembali masuk bekerja. Ia sudah bosan di rumah tanpa melakukan banyak aktivitas. Pagi ini dengan penuh semangat, dari bangun tidur sampai akhirnya ia sarapan bersama bunda dan Cecil senyum tak pernah hilang dari wajahnya.


"Seneng banget yang masuk kerja," goda Cecil.


"Seneng dong," jawab Rachel tersenyum.


"Yang mau ketemu pak Andre, cieeee, "


"Apaan sih?" protes Rachel tapi senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


"Udah cepat sarapannya, nanti telat," bunda datang membawa mie goreng buatannya.


"Ikut sarapan ya bun," tiba-tiba Bram masuk.


"Udah kayak jelangkung aja. Tiba-tiba nongol," kata Rachel.


"Yang penting pulangnya nggak minta anter!" jawab Bram sambil tersenyum ke arah Cecil.


Rachel malas menanggapinya dan melanjutkan makan. Setelah makan mereka berpamitan dan Bram mengantar kedua gadis itu ke kantor sekalian ia pergi kerja.


***


"Racheeeeel... we miss you so much," Boy datang menghampiri dan memeluk Rachel.


"Iih parfum apa nih!" protes Rachel yang terganggu dengan parfum Boy.


"Wangi nggak? wangi kan?" ia mengendus di sekitar ketiaknya.


"Wangi.... wangi banget," kata Rachel menjauhi Boy. Wanginya sangat menusuk hidung. Rachel bergegas menuju mejanya dan menghidupkan komputernya.


"Rajin banget sih, ngobrol dulu dong," pinta teman-teman Rachel. Rachel menggeleng dengan tegas. Ia rindu dengan suasana kantor dan teman-temannya tapi saat ini ia harus menyelesaikan beberapa tugasnya terlebih dahulu.


"Rachel, bisa ke ruangan saya sebentar?" pinta Andre yang baru saja datang dan langsung menuju meja Rachel.


"Baik," Rachel menjawab dan mengikuti pria itu menuju ruangannya. Sepintas ia melihat bu Andini melihatnya tak suka. Apakah bu Andini cemburu ia dekat dengan Andre? Rachel menggeleng untuk mengusir pertanyaan dari kepalanya.


"Kamu kenapa? pusing?" tanya Andre cemas dan memegang dahinya di depan pintu ruangannya. Rachel segera menepis tangannya menghindari gosip heboh dari temannya. Karena posisi saat ini mereka masih di depan ruangan Andre. Rachel yakin banyak mata memandang mereka saat ini.


"Saya nggak apa-apa," jawab Rachel cepat.


"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Andre, Rachel mengikutinya dan duduk di hadapan Andre.


"Ada apa manggil saya?" tanya Rachel sedikit kaku.


"Udah baikan?" tanyanya sambil menatap Rachel lekat. Membuat Rachel sedikit salah tingkah.


"Sudah pak," jawab Rachel singkat.


"Ada apa? Kok kayaknya kamu jutek banget?" tanya Andre.


"Nggak ada, kerjaan saya lagi numpuk pak. Kalau ada sesuatu yang penting bisa disegerakan?" tanya Rachel.


"Bisa... Bisa..." Andre tersenyum ke arah Rachel.

__ADS_1


"Paaaak! Buruan ada apa? Saya mau lanjutkan kerja," kata Rachel yang jengah melihat Andre hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Jangan marah-marah. Emangnya kamu nggak kangen aku? Udah lama loh nggak ketemu," katanya sambil mengetuk jarinya di meja sementara pandangannya menatap Rachel.


"Baru dua hari, kalau bapak nanya hal di luar kerjaan saya permisi dulu," Rachel beranjak dari kursinya.


"Sebentar!" Andre berkata membuat Rachel diam menunggu.


"Kamu cantik," Andre berkata sambil tersenyum.


"Please deh pak, kalau saya ganteng nanti bapak kaget. Permisi," Rachel pamit dan segera keluar dari ruangan Andre dengan sedikit kesal tapi juga senang di puji olehnya.


"Ssst..!"


"Ssst...!"


"Hel...!"


"Rachel!"


Banyak suara yang memanggilnya tapi Rachel cuek dan mengabaikan mereka semua. Ia harus mengejar target kerjaannya yang tertunda sejak ia sakit.


"Komputernya cakep ya?" tanya Cecil yang menatapnya dari samping.


"Maksudnya?" tanya Rachel.


"Komputernya cakep banget, sampe kamu bengong gitu," Cecil terkekeh melihatnya.


"Yeee marah,"


"Biarin!"


Hari itu Rachel mengerjakan banyak tugas. Karena selama ia sakit hanya sebagian yang rampung. Bagian finishing adalah tugasnya selain membuat sketsa.


Pukul 11.00 Rachel istirahat dan memakan cemilannya.


"Sebelum makan ngemil dulu?" tanya Cecil.


"Yes, tenagaku habis," kata Rachel.


"Sudah selesai pekerjaannya?" tiba-tiba bu Andini menghampiri meja Rachel.


"Belum semua bu,"


"Bisa minta waktunya sebentar?" tanya bu Andini, Rachel mengangguk dan mengikuti wanita itu ke ruangannya.


"Ada apa bu?" tanya Rachel setelah dipersilahkan duduk.


"Gimana kabar kamu? Maaf saya kemarin tidak bisa menjenguk kamu,"


"Baik bu, nggak apa bu. Terimakasih untuk kiriman paket buahnya," jawab Rachel.


"Siang ini kamu temani saya ya, kita mau bertemu beberapa orang yang minta dibuatkan iklan produk,"

__ADS_1


"Baik bu, jam berapa kita ketemu orang tersebut?"


"Siang ini, sekalian kita makan siang,"


"Baik bu,"


"Permisi, Bu Andini? Bisa saya pinjam Rachel. sebentar?" tanya Andre di depan pintu ruangan bu Andini. Rachel menoleh ke arahnya.


"Rachel, siang ini kita.... "


"Tidak bisa, siang ini jadwal saya dan Rachel," bu Andini memotong pembicaraan Andre.


"Oh ya? bisa saya bergabung?" tanya Andre. Bu Andini terdiam dan sepertinya ia mempertimbangkan jawaban untuk Andre. Satu sisi ia ingin Andre bergabung dengannya tapi di sisi lain ia harus menolak.


"Bu Andini? Bagaimana?" tanya Andre tak sabar.


"Maaf, tapi kami harus bertemu beberapa orang dan menyelesaikan beberapa pekerjaan,"


"Oh baik kalau gitu, saya permisi. Rachel nanti temui saya setelah makan siang," Andre pamitan dan masih sempat mengedipkan sebelah matanya ke arah Rachel. Bu Andini menghela napas dan terlihat meredakan marahnya.


"Saya pamit bu," Rachel pamit.


"Baik, siapkan semuanya. Sebentar lagi kita pergi," kata Bu Andini.


Rachel segera keluar ruangan dan menyiapkan diri dan perlengkapan gambarnya. Lalu menunggu Bu Andini.


Rachel pamitan pada Cecil dan berjalan keluar beriringan dengan bu Andini dan Kesha. Tadinya mau ngajak Boy tapi biang gosip ntar ada aja jadi bahan cerita. Maka Rachel memutuskan lebih baik mengajak Kesha yang pendiam.


Syukurlah semua berjalan dengan baik. Tim bu Andini menyelesaikan semuanya dan disetujui pihak klien. Setelah selesai mereka segera kembali ke kantor dan sebelum itu bu Andini membeli beberapa kotak donat untuk tim mereka.


Sesampainya di kantor mereka semua menikmati donat yang dibawakan oleh bu Andini. Saat mereka menikmati donat, Andre mengirim pesan untuk Rachel. Ia melirik sekilas ponselnya.


Pulang kerja kita pulang bareng. Aku tunggu di parkiran. No penolakan dan alasan apapun.


Rachel mengabaikan pesannya dan memasukkan kembali ponsel ke sakunya dan kembali ngobrol bersama temannya.


"Pesan dari siapa? Seneng banget," komentar Cecil di telinganya sambil berbisik.


"Pak Andre," bisik Rachel.


"Cieeee... "


"Kok bisik-bisik berdua sih? gosip dibagi-bagi dong," kata Boy mencolek lengan Rachel.


"Yeeee gosip aja pikirannya, kita cuma bahas makan malam," jawab Rachel.


"Nah, bener. Udah lama nih kita nggak ngumpul gaes, biasanya suka ngumpul. Yuk ah, makan-makan aja," ajak Boy.


"Kamu yang traktir,"


"Gampang soal itu, tapi jangan yang mahal-mahal ya, "


"Huuuuuu...!" teman-temannya mendorong tubuh Boy tanda protes.

__ADS_1


__ADS_2