
Jim bangun pagi-pagi sekali dan membangunkan Rachel yang masih berselimut dengan nyaman.
"Pagi sayang..."
"Uhmmm pagi," balas Rachel yang masih mengantuk.
"Maaf membangunkan kamu, tapi ini penting. Temanku mau datang dan dia mungkin akan menginap di sini. Maafkan aku yang baru bilang karena ini mendadak. Temanku ada pekerjaan nggak jauh dari sini, jadi aku mengajaknya menginap," Jim menangkupkan kedua tangannya seperti memohon ampun pada Rachel.
"Tidak apa-apa,"
"Maafkan merepotkanmu dan membangunknmu pagi-pagi,"
"Tidak apa-apa, terus ada sesuatu yang harus aku siapkan?" tanya Rachel.
"Uhmmm... Tidak ada sebenarnya, karena semua sudah disiapkan bibi. Aku mau kamu persiapkan diri. Aku bakal ngenalin kamu ke dia," kata Jim.
"Baiklah, dia sudah di jalan?" tanya Rachel sambil turun dari tempat tidur.
"Sudah, tak lama lagi dia akan sampai,"
"Baiklah, aku mandi dulu,"
"Terima kasih," ucap Jim terseyum lalu mengecup pipi Rachel. Jim segera keluar kamar dan ia menyiapkan beberapa pekerjaan. Kebetulan kantornya juga bekerja sama dengan temannya ini, jadi pas sekali. Temannya mampir dan mereka bisa menyelesaikan kerja sama. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Jim tersenyum senang memeriksa kembali hasil pekerjaannya dan mencetaknya hingga mereka bisa tandatangan kerja sama.
Tak lama Rachel masuk menemui Jim. Hidung Jim mencium aroma segar dari Rachel yang baru saja mandi. Membangunkan sesuatu di sana.
"Lagi sibuk?" tanya Rachel merangkul kedua bahu Jim dari belakang, membuat Jim semakin gugup menahan gejolak.
"Uhm... Tidak! Sudah selesai!" Jim bangkit dari kursi lalu meraih air minum dan meminumnya beberapa teguk.
"Kamu gugup bertemu dengan temanmu? Apa dia orang penting?" tanya Rachel yang mengitari meja dan mendekati Jim. Jim hanya menggeleng sambil meminum air.
"Kamu minum terlalu banyak, sudah!" Rachel meraih gelas Jim dan meletakkannya di atas meja.
"Hehehe maaf, aku haus melihatmu," kata Jim. Kedua alis Rachel bertaut mendengar sesuatu yang tak masuk akal.
"Aku nggak ngerti," kata Rachel.
"Aku mendadak haus melihat kamu pagi ini, dan itu berbahaya mengingat temanku mau datang. Jangan memakai dress ini, ganti dengan celana panjang. Kamu membuatku ingin ke ranjang," kata Jim.
__ADS_1
"Astagaaa... Oke! Aku ganti!" Rachel bergegas ke kamarnya dan mengganti dressnya menjadi celana kulot warna coklat dipadukan dengan atasan putih. Berbahaya bila ia mempertahankan pakaian ini.
Tak lama sebuah mobil memasuki pelataran parkir, Jim dan Rachel sudah berdiri dibteras menyambutnya. Seseorang dengan tubuh tinggi besar keluar dari mobil dan tersenyum ke arah mereka. Dia berjalan santai membawa tas laptop. Ia memakai kemeja biru dengan lengan yang di gulung hingga siku, celana kerja hitam dan sepatu hitam. Wajahnya yang putih, hidung bangir dan tatapan lembut namun tajam mengingatkan Rachel akan seseorang yang dikenalnya. Tapi siapa, dia lupa.
Pria itu berjalan mendekati mereka dan menyalami Jim.
"Apa kabar Rik?" tanya Jim.
"Baik, kamu?"
"Sangat baik, kenalin ini istri aku. Rachel. Rachel ini Erik teman aku," Jim mengenalkan mereka. Rachel dan Erik berjabat tangan dan mengenalkan diri masing-masing. Lalu Jim mengajak tamunya masuk.
Rachel meninggalkan mereka dan membuatkan minuman untuk kedua orang itu. Jika dipikir-pikir, Rachel tak asing dengan teman Jim yang bernama Erik itu. Wajah dan namanya terlihat familier. Tapi dimana dan kapan mereka bertemu, Rachel tidak ingat sama sekali.
Rachel megantarkan minuman dan beberapa makanan ringan untuk mereka.
"Terima kasih, sudah repot-repot," Erik berkata sambil tersenyum ke arah Rachel.
"Hanya kudapan kecil, ayo cicip. Aku ke belakang dulu. Oh ya, kalau tidak keberatan kita makan siang di sini ya," pinta Rachel sambil melirik Jim. Jim tersenyum senang.
"Benar! Santailah di sini dulu. Pekerjaanmu kan juga belum full di lapangan," kata Jim.
Rachel sibuk membantu bibi memasak aneka makanan untuk mereka. Tak lama kemudian Jim muncul untuk berpamitan.
"Sayang, aku tinggal sebentar nggak apa-apa ya. Aku dan Erik mau ke lapangan dulu, mantau pekerjaan Erik. Dia belum tahu daerah sini,"
"Oke, jangan terlalu asyik bekerja. Ingat untuk pulang makan siang. Oke?"
"Oke sayang, aku pergi dulu," pamit Jim sambil mencium kening Rachel sekilas.
Sepeninggal Jim, Rachel masih senyum-senyum sendiri setelah Jim berpamitan.
"Duh yang lagi seneng, bibi dicuekin,!" protes bibi saat melihat Rachel senyum-senyum sendiri.
"Maaf bibi," kata Rachel sambil melanjutkan memotong sayuran.
"Tidak apa, bibi senang akhirnya melihat Jim menemukan pasangan yang tepat. Dan bibi lihat kamu juga sangat mencintai Jim,"
"Iya bi,"
__ADS_1
"Dulu bibi merasa hidupnya tidak akan lama,"
"Kenapa?" tanya Rachel menghentikan kegiatannya memotong sayuran.
"Dulu, Jim sempat koma sangat lama. Jauh sebelum mengenal nona. Dia pernah jadi korban tabrak lari,"
"Benarkah? Lalu bagaimana?" tanya Rachel.
"Dia sangat suka mengendarai motor. Suatu hari dia pergi jalan-jalan dengan pacarnya. Lalu kecelakaan itu terjadi, kecelakaan beruntun karena kelalaian supir. Akibatnya dua motor ringsek. Tiga orang korban dilarikan ke rumah sakit. Satu pengendara mengalami patah tulang kaki dan tangan, tuan muda Jim tidak sadarkan diri dan koma,"
"Lalu bagaimana dengan pacarnya?"
"Pacarnya nyaris kehilangan nyawa. Tapi kabar yang bibi tahu sampai saat ini, gadis itu masih koma. Kasihan sebenarnya, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Semua sudah diupayakan oleh keluarga kedua belah pihak bahkan beberapa kali di rawat di luar negeri. Tapi hasilnya nihil. Gadis itu masih menjadi puteri tidur,"
"Benarkah begitu?" tanya Rachel merasa tak enak hati. Biar bagaimanapun hubungan antara Jim dan wanita itu belum berakhir.
"Non..."
"Apa gadis itu masih di rumah sakit?" tanya Rachel. Bibi menggeleng pelan.
"Dia di rawat di rumahnya. Tapi entah dimana rumahnya. Sebelum gadis itu dibawa pulang, keluarga mereka menjual rumah yang mereka tempati. Dan kami kehilangan kabar gadis itu sampai Jim sadar dan akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa dia kehilangan gadis itu," bibi memasak sambil bercerita. Bibi juga sempat mengambil alih tugas Rachel memotong sayuran.
"Butuh waktu lama, sampai Jim bisa seperti sekarang. Dia sangat kehilangan dan kenyataan yang ada membuat dia sangat frustasi. Dia juga melakukan terapi dengan psikolog untuk memulihkan rasa kehilangannya,"
"Sangat berat yang dilalui Jim, tapi dia tak pernah mau menceritakan apapun padaku," bisik Rachel.
"Maafkan bibi yang menceritakan ini, bibi hanya menceritakan apa yang bibi tahu. Bibi sangat bahagia sekarang ini melihat Jim bisa melalui semua, melupakan semuanya dan bahagia dengan nona, karena bibilah yang merawat Jim sejak kecil. Bibi sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Tak ada hal yang membahagiakan selain melihat Jim seperti sekarang. Terimakasih sudah mengembalikan senyuman Jim ke kami," bibi tersenyum tulus pada Rachel.
"Boleh tanya sesuatu bi?" tanya Rachel.
"Boleh, tanya saja. Apa itu?" tanya Bibi.
"Siapa nama gadis itu?" tanya Rachel.
"Namanya...."
**Bersembeng...
Terima kasih yang masih setia membaca di sini. Terimakasih dengan kesabarannya menunggu karena author suka moodyan, suka baperan, suka kena writer's block. Terimakasih banyak-banyak, apalagi buat kamu yang sudah like, komen, dan memberikan vote juga gift, love kalian sekebon. Aaah... Kan author baper lagi. Apapun itu semoga author bisa melanjutkan sampe finish nanti. Sekali lagi, termakasih. Salam author receh yang masih belajar di dunia literasi😊🥰🙏**
__ADS_1