Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
60


__ADS_3

Siapa dia?" tanya Jim. Seketika Rachel mengangkat wajahnya dan menatap Jim. Dan dunia rasanya berhenti sejenak. Rachel begitu merindukan tatapan Jim. Tapi lelaki yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tak ada binar rindu di mata itu.Sedangkan Rachel justru sebaliknya. Ia seolah begitu mndambakan pertemuannya dengan Jim. Namun saat mendengar pertanyaan pria itu, membuat Rachel tertampar kenyataan pahit.


"Oh ya kenalin, ini salah satu orang yang suka liat kita street dance, namanya Rachel," Erik mengedipkan sebelah matanya pada Rachel. Rachel mencoba tersenyum pada semuanya.


"Ini Edric, ini Daehon, Itu Hunt, sebelahnya Jay dan terakhir itu Jim," Erik mengenalkan mereka satu per satu. Semua menyambutnya hangat kecuali Jim yang wajahnya terlihat datar tanpa senyuman. Rachel jadi sedikit canggung jadinya.


"Bukannya kamu yang bareng Andre tadi?" kata Edric.


"Iya, itu aku," jawab Rachel.


"Dia ikut gabung bareng kita ya," kata Erik yang disambut suka cita oleh semuanya kecuali Jim yang masih mempertahankan wajah datarnya. Erik menarik sebuah kursi untuk Rachel duduki namun...


"Nggak usah, kita semua cowok. Lagian mana ngerti dia dengan obrolan kita!" ujar Jim dengan santainya membuat Rachel urung duduk dan dengan canggung kembali berdiri.


"Iya bener, aku cewek sendiri dan aku nggak begitu paham dengan dance," kata Rachel tertawa canggung, Erik menatapnya dengan wajah sedih.


"Tapi kan..."


"Nggak apa-apa, aku udah selesai sarapan. Aku balik ke kantor, senang berkenalan dengan kalian!" ucap Rachel dengan tawa canggung. Lalu ia berpamitan dan meninggalkan mereka.


"Senang? Aku rasa dia cuma sekedar fans karena wajah kita. Dia nggak akan paham jenis tarian!" baru beberapa langkah meninggalkan mereka, Rachel mendengar ucapan Jim. Rachel berhenti sejenak lalu berbalik menatap Jim. Tapi pria itu hanya diam dan bahkan tidak menoleh sedikitpun.


Rachel berbalik dan bergegas keluar dari resto tersebut. Ia menyetop taksi yang lewat lalu masuk dan meninggalkan area tersebut. Setelah di dalam taksi, barulah pertahanannya jebol. Air mata mengalir di kedua pipinya. Air matanya tak bisa lagi dibendung. Ia sakit hati dengan ucapan Jim. Jikapun memang ia amnesia, tak bisakah ia sedikit ramah atau tidak mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati orang lain?


Rachel merasa dirinya begitu bodoh, seharusnya ia lebih kuat meyakinkan Jim. Seharusnya ia tidak pergi tapi mendengar kata-kata dari Jim ia tak sanggup. Apa mungkin sebenarnya sosok Jim bukanlah seorang yang ramah?


Rachel memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing. Sesampainya di kantor, Rachel menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Bahkan sedikit mengabaikan Andre yang berulang kali mengiriminya pesan.


Menjelang makan siang, Rachel meminta Bram menjemputnya pulang. Kepalanya semakin berdenyut. Jam makan siang ia segera meminta ijin ke Andini lalu pulang saat Bram menjemputnya di depan kantor. Tepat saat Rachel menghampiri Bram, Andre menyusulnya dan mencengkeram tangannya.


"Hel...! Sebentar! Kamu mau kemana? Kenapa pesanku diabaikan?" tanya Andre.


"Lepasin dia!" kata Bram yang menarik tangan Rachel.

__ADS_1


"Hel...?" panggil Andre.


"Maaf Ndre, aku ijin sakit. Tadi aku nelpon Bram untuk jemput,"


"Tapi..."


"Nggak apa-apa, nanti sampai di rumah aku kabari," kata Rachel. Andre mengangguk lalu membiarkan Bram membawa Rachel pulang.


"Ternyata orang yang kamu inginkan tak sepenuhnya menginginkan kamu," ucap Andini di belakang Andre.


"Andini, apa aku pernah berbuat salah denganmu? Kenapa kamu benci denganku?" tanya Andre.


"Ternyata kamu tidak punya empati dan rasa bersalah!" jawab Andini tersenyum sinis.


"Kenapa kamu memusuhiku? Daripada begini terus, sebaiknya kita selesaikan. Karena aku memang tidak tahu apa salahku!"


"Kamu memang tidak bermasalah denganku, tapi dengan adikku satu-satunya!"


"Memangnya siapa adikmu? Bahkan tak ada satupun keluargamu yang aku kenali. Bagaimana mungkin aku bisa menyakiti adikmu itu!" ucap Andre dengan nada kesal. Andini selalu membuatnya sakit kepala dengan segala sikap permusuhan yang ditunjukkannya.


Sementara itu di mobil, Rachel bersandar santai.


"Kamu sakit apa?" tanya Bram.


"Pusing aja,"


"Kenapa?"


"Uhm... Tau nggak, tadi aku ketemu Jim!" ucap Rachel.


"Jim? Siapa?" tanya Bram.


"Iiih itu... pacar aku,"

__ADS_1


"Ooooh yang itu, terus gimana? Ketemu, peluk-pelukan dengan backsound ala Bollywood?"


"Iiiihhhh resek! Justru sebaliknya..."


"Dia nggak ngenalin kamu?" tanya Bram, Rachel mengangguk. Bram malah tertawa lebar.


"Ish... Iya! Dia nggak ngenalin aku, bahkan dia kayaknya nggak suka liat aku di sana," Rachel menjelaskan.


"Hmmmh... Namanya juga masih lupa ingatan,"


"Iya, tetap aja nyesek!" kata Rachel.


"Kayaknya kamu emang butuh istirahat, aku anter kamu pulang. Atau kamu ke rumah bunda aja," saran Bram. Benar juga, Rachel menyadari bahwa sudah lama ia tak libur ke rumah orangtuanya.


"Kerjaan kamu?" tanya Rachel.


"Beres! Mau pulang apa ke rumah bunda?"


"Aku ke rumah bunda aja, tapi kamu anterin aku ke halte aja,"


"No, aku bakal ngantar kamu sampe rumah," kata Bram. Rachel tidak bisa membantah lagi, ia membiarkan Bram menyetir dengan hati-hati menuju rumah bundanya.


"Gimana ya caranya biar ingatan Jim kembali? Sementara itu, dia aja nggak suka kalo aku ada di sekitar dia," gumam Rachel.


"Kamu tu suka ngambil kesimpulan sendiri. Udah nanti pasti ada caranya kalian bisa ngobrol. Dia nggak suka mungkin karena waktunya nggak tepat tadi. Dan dia nggak ingat kamu, think positive aja," kata Bram.


"Huhuhu... Pengennya gitu, tapi berusaha menahan diri untuk nggak banyak pertanyaan itu susah!" kata Rachel.


"Yaaaa... Itu namanya harus sabar, percaya keajaiban kan? Buktinya dia koma sekian lama, dengan keajaiban tiba-tiba dia sadar. Harusnya kamu percaya itu," kata Bram. Rachel mulai berpikir. Benar apa yang dikatakan oleh Bram.


"Iya, aku percaya. Mungkin caranya aja belum ketemu. Pengen cerita banyak sama dia," ucap Rachel sambil tersenyum. Bram juga tersenyum menanggapi perkataan Rachel.


Mereka berhenti sebentar untuk makan siang, lalu melanjutkan perjalanan kembali. Rasa pusing di kepala Rachel sudah berkurang karena ia meminum obat setelah makan. Dan kini ia mulai mengantuk. Tak lama kemudian ia sudah tertidur. Tinggal Bram yang masih menyetir.

__ADS_1


Ia menoleh sebentar, membenarkan letak kepala Rachel sambil menatap gadis itu. Ia sebenarnya juga sangat pusing dan butuh waktu sendiri. Untunglah Rachel mau ke tempat orangtuanya. Entah kenapa Bram merasa lebih nyaman di rumah keluarga Rachel dibanding keluarganya sendiri. Bram menarik napas lalu kembali melajukan mobilnya.


__ADS_2