
"Boleh tanya sesuatu bi?" tanya Rachel.
"Boleh, tanya saja. Apa itu?" tanya Bibi.
"Siapa nama gadis itu?" tanya Rachel.
"Namanya Leana,"
"Namanya bagus, pasti orangnya cantik," puji Rachel.
"Ya, bibi akui dia cantik. Anaknya juga ramah. Semua keluarga Jim juga menyukainya," jawab bibi sambil tersenyum senang.
"Kasihan bila tahu nasibnya. Seandainya aku tahu rumahnya, tentu kami menjenguk," kata Rachel.
"Uhm... Bibi tidak tahu mau kasih saran apa. Jalani aja yang saat ini,"
"Terimakasih bi," ucap Rachel tulus.
Setelah perbincangan serius itu, Rachel melanjutkan membantu bibi memasak. Tepat ketika mobil Erik memasuki pelataran parkir, Rachel dan bibi juga baru saja selesai menyiapkan santap siang. Rachel segera menyambut suaminya dan Erik dan mengajak makan bersama.
Setelah makan, Jim mengajak Rachel dan Erik untuk bersantai di gazebo belakang rumah. Selain tempatnya teduh, di sana juga terasa sejuk.
"Mumpung aku ingat Jim, mana kontrak yang disebutkan tadi?" tanya Erik sambil bersandar di dinding gazebo.
"Uhm... Sebentar, akan aku ambilkan. Akan ku edit sedikit sebelum aku print. Sayang, temani Erik sebentar ya. Dan Erik, jangan menggoda istriku!" ancam Jim.
"Hahaha tidak... Tidak. Kamu tahu tipeku," Erik masih tertawa saat Jim pergi memasuki rumah.
"Dan nona,..." panggil Erik.
"Ya?" jawab Rachel.
"Apa kau tak mengingatku?" tanya Erik.
"Siapa kamu?" tanya Rachel sedikit waspada.
"Tenanglah, aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin melihat sejauh mana ingatanmu,"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rachel. Erik mengangguk dan meraih minumannya.
"Kita pernah bertemu di suatu malam, kalau kamu masih mengingatnya. Street Dancer?" Erik berkata dengan santai.
"Sebentar! Aku merasa tidak asing..." Rachel memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Kita pernah bertemu di sana. Kamu bersama Andre. Ingat? Pria bajingan itu?" kata Erik.
"Tunggu! Street Dancer... Erik... Andre... Aaah sepertinya aku sedikit mengingatnya. Kamu... Teman Jim menari, di jalanan,"
"Syukurlah kamu mengingatnya sedikit,"
"Apa aku melupakan banyak hal? Heiii bagaimana kamu tahu aku tidak bisa mengingat banyak hal?" tanya Rachel.
"Justru itu aku di sini. Membantu Jim. Kembalikan ingatanmu dan hidup bahagialah dengan Jim. Cintai dia sepenuh hatimu," saran Erik.
"Seperti Leana?" tanya Rachel.
"Kamu tahu Leana?" tanya Erik. Rachel mengangguk.
__ADS_1
"Cuma aku jadi merasa bersalah dengan gadis itu..."
"Kenapa?"
"Seharusnya yang mendampingi Jim saat ini adalah dia. Bukan aku,"
"Darimana kamu tahu tentang Leana?" tanya Erik.
"Dari seseorang. Dan aku merasa jahat di sini. Seharusnya Jim ada di samping Leana di saat gadis itu drop,"
"Kami kehilangan jejaknya, memangnya Jim tidak melakukan apapun? Keluarga gadis itu pun seolah lenyap tak berbekas. Kami tidak bisa melacaknya. Lalu kamu mau Jim terjebak di masa lalunya, begitu?" tanya Erik.
"Tidak juga, tapi... Aku hanya merasa bersalah. Kisah mereka belum usai,"
"Tapi keluarga gadis itu menyudahi... Aku yang melihat bagaimana perjuangan Jim selama ini," kata Erik.
"Berarti dia sangat mencintai gadis itu,"
"Ya, itu dulu..." jawab Erik. "Sekarang sudah ada seorang istri di sampingnya," lanjut Erik.
"Hmmmm... Meskipun istrinya, aku juga masih merasa dia menyimpan sesuatu yang belum diceritakannya. Di tambah lagi, aku tak ingat banyak hal sejak aku keluar dari rumah sakit," kata Rachel memijit kepalanya. Kepalanya berdenyut sakit.
"Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya Jim yang berlari ke arah gazebo.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing,"
"Istirahatlah di kamar, aku antar..." kata Jim.
"Aku bisa sendiri, tidak apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu dulu," kata Rachel. Ia lalu turun dari gazebo dan berjalan masuk ke rumah. Jim menatap Erik tajam.
"Bagaimana aku bisa percaya?"
"Ck... aku tidak memaksa untuk percaya. Tapi aku mengingatkanmu sebagai teman baik. Kamu tidak harus mengurungnya di sini. Sebaiknya ciptakan lebih banyak kenangan di tempat yang dia tahu,"
"Tidak akan! Dan aku tidak mengurungnya," jawab Jim membuang muka.
"Kamu takut ingatannya kembali sebelum..."
"Hentikan Erik, tanda tangani ini. Selesaikan secara profesional!" geram Jim menyerahkan beberapa lembar kertas. Erik meraihnya, membacanya dengan teliti lalu menandatanganinya.
"Aku tidak bawa stempel. Apa aku harus bawa ini ke kantorku atau kamu mengantarkannya?" tanya Erik.
"Aku akan mengantarkannya lusa,"
"Oke, sebaiknya aku pamit dulu. Harus kembali ke rumah sebelum malam," kata Erik berpamitan.
"Baiklah, terimakasih kerja samanya," kata Jim. Erik mengangguk lalu berjalan ke depan rumah diantar oleh Jim.
Tak lama mobil Erik keluar dari pekarangan dan meninggalkan kediaman Jim. Jim segera masuk dan melihat istrinya di kamar.
"Belum tidur? Gimana sakitnya?" tanya Jim saat masuk ke kamar, Rachel malah sedang bermain dengan ponselnya.
"Sudah mendingan, Erik sudah pulang?" tanya Rachel.
"Sudah, baru saja," kata Jim sambil merangkak naik ke tempat tidur.
"Sudah kontraknya?" tanya Rachel lagi.
__ADS_1
"Sudah selesai semua. Sekarang tinggal santai-santai bareng istri," Jim berkata sambil merebahkan kepalanya di paha Rachel. Rachel langsung membelai rambut Jim dengan lembut, membuat Jim memejamkan matanya.
"Jim? Tidur?" tanya Rachel.
"Hmmmm tidak, kenapa? Ada yang mau dibicarakan?" tanya Jim.
"Iya, sedikit..."
"Apa itu?" Jim menatap Rachel sambil berbaring.
"Ceritakan tentang masa lalumu... Apa kamu pernah nembak cewek terus ditolak? Pernah punya cinta pertama? Atau mantan?" tanya Rachel pelan.
"Apa yang mau diceritakan tentang masa lalu? Aku tidak mau. Lebih baik kita bicara tentang masa depan. Kamu mau berapa anak misalnya?" Jim berkata sambil menaikkan alisnya.
"Jiiim! Serius ah..."
"Bagiku tak penting masa lalu, sudah berlalu. Sekarang aku punya masa depan dan tanggung jawab. Itu prioritasku saat ini," kata Jim.
"Tanggung jawab?"
"Iya, terhadap kamu dan anak-anak kita," kata Jim.
"Hmmm... Sebelum itu, apa kamu punya tanggung jawab lain?" tanya Rachel.
"Rasanya tidak ada, selain keluarga,"
"Benarkah?"
"Ada apa sih? Tumben nanya begini, apa Erik ada mengatakan sesuatu?" tanya Jim sambil duduk di hadapan Rachel.
"Tidak ada, aku hanya penasaran. Apalagi sedikit sekali yang aku ingat tentang masa lalu,"
"Biarkan masa lalu, sebaiknya kita ciptakan banyak kenangan untuk masa depan kita," kata Jim.
"Hm... Iya, kenapa jadi serius gini sih? Aku kan cuma mau tahu, apa mantanmu secantik aku," kta Rachel sambil tersenyum jahil.
"Kamu mau membandingkan? Jelaslah, kamu lebih dari segalanya,"
"Masa?"
"Iya..."
"Kok jawabnya pelan? Masih ragu nih, ada yang lebih cantik?" tanya Rachel menatap Jim mencoba memancing pembicaraan.
"Tidak... Ayo tidur siang! Aku ngantuk," Jim menggeliatkan badannya lalu menarik tubuh Rachel ke pelukannya.
"Jim, panas!" bisik Rachel.
Tiit...
Jim menurunkan suhu di kamar.
"Sudah! Tidur! Daripada nanti kutidurin!"
"Jim! Siang-siang mesum!"
"Sssst..." bisik Jim sambil mencium kening Rachel dan ia menelusupkan wajahnya ke rambut Rachel yang selalu harum. Akhirnya Rachel balas memeluk Jim, mungkin lain kali ia akan memancing Jim untuk bercerita tentang Leana.
__ADS_1