Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
55


__ADS_3

Malam itu Rachel tidak bisa tidur. Bayangan wajah Jim terus bermain di pelupuk matanya. Ia sangat merindukan Jim. Sekian lama ia memendam rasa rindunya dengan menyibukkan diri. Berusaha untuk tidak sendiri. Tapi kali ini pertahanannya ambruk. Rachel menangis memeluk bantalnya. Rasanya semua ini seperti mimpi.


"Jim... Aku rindu," bisik Rachel.


* * *


Pagi-pagi sekali Bram mengetuk pintu kamarnya. Rachel dengan sempoyongan membukakan pintu untuk Bram.


"Belum bangun? Astaga ini udah siang!" kata Bram melihat Rachel belum membuka mata sepenuhnya dengan wajah kusut dan rambut awut-awutan.


"Aku masih ngantuk," jawab Rachel membiarkan Bram masuk.


"Buruan mandi! Aku laper,"


"Ya udah makan aja duluan," kata Rachel.


"Aku nunggu kamu, cepat!" Bram mendorong tubuh Rachel ke kamar mandi. Dengan menggerutu Rachel masuk ke kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian mereka sudah berjalan untuk sarapan. Rachel meminta sarapan di hotel saja. Setelah sarapan, Bram mengajak Rachel keliling.


"Katanya di sana ada danau bagus banget," kata Bram menunjuk ke arah barat.


"Oke, tapi kerjaan kamu gimana? Nggak kerja?" tanya Rachel.


"Nggak, udah ah, yuk!" ajak Bram. Rachel mengikuti kemana Bram pergi. Sepanjang perjalanan Bram berusaha menghibur Rachel. Ia tahu sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


Mereka hampir sampai ke danau tersebut, Rachel merasa tidak asing dengan danau itu. Mereka masuk dan ternyata beberapa orang sekedar memancing atau hanya duduk santai menikmati hari.


"Duduk di sana yuķ!" ajak Bram menunjuk ke salah satu gazebo kosong.


"Bagus banget airnya, biru cerah," puji Rachel.


"Iya, aku tahu ini dari salah satu pegawai hotel. Ternyata emang sebagus ini," kata Bram.


"Hel..." panggil Bram.


"Apa?"


"Are you ok?" tanya Bram.


"Aku... Oke. Meski sebenernya masih penasaran," kata Rachel mash menatap danau di depannya sambil mengingat-ingat kapan ia ke sini. Sepertinya pernah. Tapi entah kapan dan sama siapa.


"Penasaran soal apa?" tanya Bram.


"Eeh... Nggak apa-apa," kata Rachel tersenyum. Bram mengangkat alisnya.


"Kamu gimana?" tanya Rachel.


"Oke! Sehat! Dan tetap ganteng!" jawab Bram. Sontak Rachel mencubit pinggang Bram.


"Maksud aku, kalian. Kamu dan Cecil,"

__ADS_1


"Ohh... Aku lupa bilang. Cecil pamit. Dia harus kembali ke kotanya, orangtuanya minta dia tinggal di sana," kata Bram.


"Serius?"


"Iya, dia minta maaf karena nggak bisa nemuin kamu langsung. Tapi dia ada nitip sesuatu ke aku, buat kamu. Tapi di rumah," kata Bram.


"Oh gitu, ya nggak apa. Ada apa ya? Kok kayak mendadak gitu nggak sih," kata Rachel.


"Uhm... Dia harus bertunangan dengan laki-laki pilihan orangtuanya," jawab Bram sambil menunduk memainkan kunci di tangannya.


"Maaf, aku nggak tahu. Jadi kalian...?"


"Putus!" jawab Bram.


"Semudah itu?" tanya Rachel.


"Nggak juga, aku sempat ke rumahnya datangin keluarganya. Dan mereka nggak nerima aku, entah apa alasan sebenarnya. Mungkin aku nggak pantes untuk anak mereka,"


"Terus tanggapan Cecil?"


"Bisa apa kami Hel? Cecil ngasih saran buat lari. Tapi aku nggak sebejat itu. Aku masih tahu batasan. Dan nama aku bakal makin buruk dimata orangtuanya," kata Bram.


"Nggak tahu lagi mau ngomong apa. Ternyata nasib kita sama aja. Di tinggal pasangan," kata Rachel.


"Sedih sih, tapi life must go on. Setidaknya ada yg senasib," senyum getir Bram terukir di bibirnya.


"Maaf aku juga nggak peka," Rachel meminta maaf.


"Santai aja. Kita udah gede, punya problem masing-masing. Nggak selalu ada tapi juga nggak bisa menghilang gitu aja," kata Bram. Rachel mengangguk.


"Nggak gimana-gimana. Ya udah jalanin aja. Kayaknya ini karma. Selama ini pacaran sana sini bertahan sekian lama. Sekalinya dapat, baru sebentar. Udah harus dilepas. Mana sayang banget lagi," Bram menyugar rambutnya.


"Haelah! Playboy akhirnya jera," Rachel terkekeh.


"Berisik!"


"Cieee galau!"


"Apaan sih!"


"Galau nih ditinggal kawin,"


"Nikah kaleee,"


"Cieee yang pacaran. Om ama tante pacaran cieeee," satu suara anak kecil ikut mengganggu mereka.


"Enak aja tante-tante," protes Rachel.


"Enak aja pacaran. Masih bocil tau aja pacaran-pacaran. Kamu ngapain? Kok nggak sekolah?" tanya Bram pada anak itu.


"Mau mancing om, sekolah libur. Gurunya rapat. Pengennya sering-sering aja rapat. Enak nggak sekolah bisa liat om ama tante pacaran!" ia terkekeh.

__ADS_1


"Whaat? Aku bukan tante-tante! Lagian siapa juga yang mau pacaran sama playboy begini," Rachel menepuk bahu Bram. Bram hanya mengusap bahunya. Berada di dekat Rachel memang harus tahan banting. Reflek tangannya sangat cepat.


Anak kecil tadi pamit pergi memancing tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Hel...!" panggil Bram.


"Apa sih!"


"Kita pacaran aja yuk!" tiba-tiba Bram menarik lengan Rachel. Setelah itu....ya gerakan tangan reflek Rachel sangat cepat. Bram sampai mengaduh kesakitan karena Rachel tidak hanya memukul punggungnya tapi juga mencubit pinggang dan perutnya.


"Sadis banget sih!" Bram masih mengusap pinggangnya saat mereka sudah di mobil.


"Lagian aneh-aneh aja. Nggak ada kapoknya. Modelan kayak kamu mau dijadiin pacar! Hadeeeh..." kata Rachel


"Serius banget sih! Siapa juga yang mau modelan cewek bar-bar kayak kamu," balas Bram.


"Ya... Ya...yang ditinggal nikah, galau ni yeeee,"


"Biarin setidaknya dia bisa liat aku. Inget aku. Nggak kayak manusia silver kamu," kata Bram. Bram segera menghentikan mobilnya dan melirik Rachel yang terdiam.


"Sorry Hel... Becandanya keterlaluan ya?" Bram meringis melihat mata Rachel berkaca-kaca. Dan akhirnya tangan Rachel kembali menghantam bahu Bram berulang kali. Sampai Bram menyerah dan meminta maaf. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Bram membawa Rachel berjalan-jalan. Menonton bioskop, membelikannya es krim. Dan terakhir dengan sedikit pemaksaan Rachel menunjuk sebuah tas di etalase sebuah toko. Ia merengek seperti anak kecil.


Akhirnya Bram membelikannya tas tersebut dengan wajah masam. Karena harganya menghabiskan jatah uang jajanannya.


"Kalo ngasih yang ikhlas!" komentar Rachel sambil cengengesan.


"Gimana mau ikhlas kalo dipaksa bayar!" jawab Bram.


"Jadi balikin nih?"


"Nggak usah!"


"Dih marah!"


"Emang!"


"Ya udah, gantinya aku traktir kamu jajanan di stand sana!" tunjuk Rachel pada stand-stand yang berjejer di seberang mall.


"Beli sekalian stand nya, biar impas!" kata Bram sambil merangkul Rachel dan mengajak gadis itu membeli beberapa cemilan.


Setelah mengantri cukup lama, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan dan berniat kembali ke hotel. Sambil menunggu Bram yang membeli minuman Rachel duduk di trotoar. Bram sedang membayar pesanannya dan berjalan mendekati Rachel. Setelah itu keduanya


akan menyebrang kembali ke parkiran.


Bram menarik tangan Rachel sebelum menyeberang tapi tangan mereka terhenti karena dipegang oleh seseorang di belakang mereka.


"Bram... Rachel..." panggilnya. Kedua orang tersebut serentak menoleh ke belakang. Astaga dia....


**Yaaaaaaaa bersembeng

__ADS_1


Thankyou.... Thankyou... Thankyou... Yang udah baca, yang masih ngikutin, yang sabar nunggu update-an. Salam manis dari aku🥰


Kasih aku semangat dengan like, komentar, vote atau sedekah koinnya yah😁 biar rajin update, 😊**


__ADS_2