Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
69


__ADS_3

Rachel berbaring di kamarnya yang telah gelap terbayang pembicaraannya dengan Noey tadi sebelum tidur.


Flash Back...


"Kak, maaf soal tadi..."


"Santai Noey, tadi emang nggak sengaja aja," jawab Rachel.


"Noey keterlaluan y kak, Noey egois,"


"Egois kenapa?" tanya Rachel.


"Noey pengen kakak dan Kak Bram itu bersatu. Bagi Noey kalian berdua itu segalanya bagi Noey,"


"Noey, maaf..."


"Noey ngerti, tapi beneran Noey penasaran. Selama kalian sama-sama nggak ada sedikitpun rasa gitu?" tanya Noey. Bram mematung menatap Noey, tanpa ekspresi. Rachel menatap Bram meminta jawaban. Bram hanya mengangkat bahunya.


"Gimana ya ngomongnya, ya ginilah kami Noey,"


"Kalo liat di film-film, biasanya cewek ama cowok sahabatan bisa jadi cinta,"


"Kebanyakan nonton, udah ah kalo modelan kamu kayak gini tinggal di rumah aja. Nggak usah sok-sokan ngekos!" kata Bram.


"Kak!"


"Kita nggak bisa maksain sesuatu yang nggak seharusnya, paham bocil?" tanya Bram.


"Ishhh... Kak!" Noey marah karena rambutnya diusel2 Bram.


"Udah ah, nggak usah dipikirin. Kamu liatkan kami baik-baik aja dan otewe bahagia dengan pasangan kami," kata Rachel.


"Jadi?"


"Udah tidur sana!" perintah Bram. Noey menghempaskan bantalnya dan masuk ke kamarnya.


"Jangan diladenin dianya," *ucap Bram.


"Nggak kok!" jawab Rachel.


"Tapi seandainya terjadi gimana?" tanya Bram.


"Terjadi apanya?"


"Sesuatu diantara perasaan kita..."

__ADS_1


"Nggak mungkin Bram!"


"Kan aku bilang seandainya..."


"Nggak tahu, aku nggak pernah mikir sampai sana. Lagian aku sudah ada Jim meski dia masih hilang ingatan. Dan kamu ada Tania. Udah deh, pikiran aku udah mumet! Jangan ditambah-tambah lagi!" ucap Rachel. Lalu ia masuk ke kamarnya*.


Flash Back off...


Andainya memang ada seperti itu diantara diriya dan Bram tentu tidak akan ada Tania atau Jim. Rachel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia lalu beranjak ke meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia haus. Ternyata teko mini itu airnya sudah habis. Rachel beranjak meraih teko dan membawanya ke dapur.


"Jangan ngomong yang aneh-aneh!" ucap Bram sedikit berbisik.


"Nggak kak! Bukannya beneran gitu? Kalian pasti sudah ngobrol!" bisik Noey.


"Iya tapi kan semua dikembalikan ke kami, bukan mutlak keputusan bunda!" kata Bram. Rachel bersembunyi di kegelapan, untunglah hampir semua lampu sudah dimatikan sehingga mereka tidak tahu Rachel sedikit menguping. Ia penasaran apa yang dibicarakan oleh Bram dan Noey hingga menyebut bunda.


"Kak! Usaha dong, gimana kek gitu. Perjuangin!"


"Hih! Susah banget ngomong ama bocil! kakak nggak mau lagi denger hal ini disebut-sebut!" kata Bram.


"Iyaaaa!" jawab Noey.


"Dah! Tidur gih! Kakak mau lanjutin kerjaan dikit lagi," ucap Bram. Noey kembali ke kamarnya sedangkan Bram membawa laptopnya ke ruang santai. Pikirannya sedang ruwet, sebenarnya tak ingin melakukan apapun. Ia mengatakan akan bekerja hanya untuk mengusir Noey yang menuntutnya.


Bram menyalakan laptopnya lalu asyik bermain game. Sementara itu Rachel, setelah dari dapur ia duduk di samping Bram.


"Haus... kamu sendiri malah main game!" kata Rachel.


"Bentar doang," kata Bram. Ia asyik dengan dunianya sendiri, akhirnya Rachel bosan dan akan beranjak ke kamar.


"Hel...!" panggil Bram, Rachel menoleh. "Bisa kita ngobrol, diatas?" tanya Bram. Rachel mengangguk. Mereka pergi ke kamar kerja Rachel.


Rachel membuka tirai jendela kamarnya dan membuka jendela juga pintu menuju balkon. Semilir angin berhembus menyejukkan diantara panasnya hawa malam itu. Rachel melirik ke taman di depan rumahnya. Kosong.


"Ada apa? Serius banget," tanya Rachel yang duduk di samping Bram.


"Gimana progress pendekatan ke Jim?" tanya Bram.


"Sejauh ini masih oke, beberapa kali ketemu. Nanti kayaknya dia ngajak jalan," jawab Rachel. Bram mengangguk lalu berdiri bersandar di pagar balkon.


"Syukurlah!"


"Kamu sendiri? Gimana Tania?" tanya Rachel.


"Dia benar-benar nolak aku mentah-mentah! Sekarang ya jalanin aja dulu," kata Bram.

__ADS_1


"Hmmm... Mudah-mudahan Jim segera kembali ingatannya, capek juga lama-lama kayak gini," keluh Rachel.


"Boleh aku nanya?" tanya Bram.


"Boleh, nanya apa?"


"Nggak jadi deh!" kata Bram.


"Iiih... Buruan!"


"Nggak! Nggak jadi!"


"Hmmmh... Bikin penasaran aja!" ucap Rachel.


"Santai ah... Bos kamu gimana?" tanya Bram.


"Andre? Biasa-biasa aja. Tapi kenapa sih kamu nggak suka banget ama dia? Dia ada salah atau gimana?" tanya Rachel.


"Nggak kok, aku cuma nggak mau kamu deket ama dia. Dia nggak sebaik itu. Kalau orang lain sih terserah dia aja, tapi kalo kamu atau Noey dekat ama dia, aku nggak setuju," kata Bram.


"Emang jahatnya dia gimana?"


"Duh Hel... Jangan lugu polos banget gitu! Udah ikutin aja apa kata aku, jauhi Andre!"


"Tapi sejauh ini dia baik banget bahkan kemarin nembak aku..." Rachel menutup mulutnya reflek, dia keceplosan!


Bram menatapnya tajam lalu kedua tangannya memegang kedua bahu Rachel sampai Rachel kesakitan.


"Beneran dia...?"


"Iya... Dih sakit Bram!" kata Rachel. Bram akhirnya sadar dan melepaskan tangannya.


"Sorry..." ucap Bram dan dia duduk kembali bersandar pada pagar.


"Kamu tu kenapa sih nggak suka banget ama Andre? Tiap ditanya selalu nggak ngasih tau alasannya!" kata Rachel.


Bram diam seribu bahasa. Rachel kesal dengan sikap Bram, Rachel beranjak meninggalkan Bram dan kembali ke kamarnya.


Sepeninggal Rachel, Bram mengusap wajahnya kasar. Ia tak bisa jujur pada gadis itu mengingat betapa pahit kenangannya dulu saat mengenal Andre. Meski semua orang mengatakan Andre baik, Bram tak percaya. Tidak akan pernah!


Bram berdiri di balkon dan menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya. Lagi-lagi karena Andre, dia selalu tidak sependapat dengan Rachel. Bram ingin agar suatu hari Rachel dapat melihat dengan jelas dan tahu siapa Andre sebenarnya.


Bram berbalik, menutup pintu kamar dan jendela lalu turun untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengabaikan semua pikiran yang terlalu berisik di kepalanya.


Sama halnya dengan Bram, Rachel juga memikirkan kejadian tadi. Bukan kali ini saja Bram menentang kedekatannya dengan Andre tapi sudah beberapa kali. Entah ada masalah apa mereka dahulu, Bram tak pernah bercerita.

__ADS_1


Dengan kesal Rachel membalik bantal, menepuk-nepuknya lalu berbaring dengan nyaman. Rachel berbalik dan mencoba untuk tidur. Bram membuat moodnya menjadi tidak lebih baik.


__ADS_2