
"Guyssss... mau kembali ke kantor? saya pinjam Rachel sebentar ya, biar sama saya aja ke kantornya, boleh kan?" tiba-tiba Andre bersuara saat mereka akan naik ke mobil. Mereka saling tatap dan mengangguk.
"Tapi kan, aku bareng kalian,"
"Nggak apa kok Hel, santai," kata Cecil.
"Iya, mobil kita juga rada sempit kan," Boy menimpali membuat Rachel menjadi gemas. Bisa-bisanya dia bilang sempit.
"Terimakasih ya," Andre tersenyum dan menarik tangan Rachel menuju mobilnya.
"Ndreee...," panggil Rachel sebelum masuk ke mobil dan menahan pintu sebelum di buka Andre.
"Apa?" jawabnya sambil tersenyum
"Aku pulang bareng mereka aja,"
"Kamu nggak suka pulang bareng aku?"
"Bukan gitu, aku kan pergi bareng mereka ya pulangnya bareng mereka, nggak enak jadinya nih,"
"Udah ah santai aja, tuh mereka juga udah jalan," tunjuk Andre pada teman-teman Rachel yang melambai heboh dari mobil. Rachel menghembuskan napasnya dan masuk ke mobil Andre. Andre dengan senang menutup pintu mobil dan berlari ke sisi lainnya.
"Mau kemana kita? jalan dulu?" tawar Andre.
"Ke kantor aja please," pinta Rachel.
"Oke, kita ke kantor," Andre tersenyum.
***
"Eeeh... yang jadian beneran nggak bilang-bilang,"
"Berarti beneran yang pak Andre berantem kemarin itu karena kamu?"
"Rachel cerita dong!"
Berbagai pertanyaan membuat Rachel bingung harus menjawab. Karena pertanyaan itu tak berjeda.
"Sssst... mau denger?" kata Rachel dengan jari telunjuk di hidung mancungnya membuat mereka semua terdiam dan mengerumuninya.
"Aku dan pak Andre, cuma temen," jawab Rachel, membuat sebagian berwajah tak percaya dan sebagian lainnya malah bersyukur karena masih ada kesempatan.
"Yaaah yang bener dong,"
"Terus tadi gimana?"
"Nggak percaya ah," lagi-lagi mereka protes.
__ADS_1
"Ya udah kalau nggak percaya. Kami hanya teman kok," kata Rachel lagi. Kerumunan segera membubarkan diri, Cecil masih menanti jawaban pasti dari Rachel.
"Tenang aja, aku sama pak Andre cuma temen. Dan kalau kamu disuruh Bram buat bantu ngawasin aku, percuma!" kata Rachel.
"Nggak kok, kan aku cuma mastiin aja," kata Cecil
"Kan aku udah jawab jujur dari tadi. Pada nggak percaya,"
"Ya udah maaf ya, yuk kerja lagi," kata Cecil. Rachel diam dan melanjutkan pekerjaannya. Tak begitu menggubris Cecil. Ia tahu Bram mengantar bunda dan pasti ia meminta Cecil memata-matai Rachel.
Sorenya mereka pulang, Andre sudah mengirim pesan sejak siang agar dia yang mengantar pulang ke rumah. Tapi Rachel menolak dengan halus. Ia tak ingin semua menganggap mereka memang ada hubungan. Rachel bukannya tidak suka dengan Andre tapi ia tak ingin menjadi bahan gosip. Siapa sih yang bisa menolak pesona Andre? Termasuk juga Rachel. Tapi ia menjaga agar tidak menjadi bahan gosip.
Sore hari Rachel pulang bersama Cecil, setelah membersihkan tubuh Rachel turun untuk membuat mie instan. Ia ingin sekali makan sesuatu yang segar.
"Kok bikin mie instan? rancananya aku mau masak," kata Cecil yang melihat Rachel menyeruput mienya.
"Lagi pengen aja," jawab Rachel.
"Cil, aku mau nanya," kata Rachel. Cecil duduk di sampingnya.
"Nanya apa?"
"Apa kamu ada hubungan lagi dengan Bram?" tanya Rachel.
"Uhm... itu... aku,"
"Kami temen dekat aja Hel,"
"Yakin?"
"Kok kamu nanyanya gitu? kayak nggak percaya?"
"Yah kan cuma nanya, sama kayak kamu nanya hubunganku dengan Andre," jawab Rachel membuat Cecil terdiam. Lalu mereka makan dalam diam.
"Hei kok pada diem-dieman?" tanya Bram yang baru saja masuk.
"Nggak apa-apa, udah pulang?" tanya Cecil.
"Udah dari sore sih, cuma tadi ke rumah dulu. Ada yang kangen tuh," kata Bram. Noey berlari masuk dan duduk di samping Rachel.
"Cieeee yang udah kerja," kata Rachel.
"Ehehehehe ntar gaji pertamaku kita makan di luar ya kak," kata Noey.
"Boleh juga, kerja yang rajin yah," kata Rachel. Ia mengangguk.
***
__ADS_1
"Kak, kakak tau nggak hubungan mereka?" tanya Noey saat mereka sedang nonton malam itu, sementara itu Cecil dan Bram sedang duduk di luar.
"Nggak ngerti Noey, ditanya katanya temenan tapi kamu bisa nilai sendiri. Kasihan Tania,"
"Hu'um... kakak nggak ngomong sama kak Tania?"
"Nggak ah, nggak mau ikut campur. Bram diingetin berkali-kali cuek aja,"
"Nggak kapok kayaknya," kata Noey. Rachel mengangguk. Dulu Bram dipanggil playboy cap sendal oleh Rachel. Pacaran dengan beberapa wanita yang ujung-ujungnya mereka yang sakit hati membalas perlakuan Bram. Sejak itu Bram tak lagi mau berpacaran. Dan sekarang setelah bersama Tania malah ia dekat dengan Cecil. Lupa akan Tania. Beberapa kali Tania menelpon Rachel menanyakan Bram, Rachel lebih sering berbohong. Satu sisi ia kasihan dengan Tania tapi di sisi lain ia juga kasihan melihat Cecil.
Saat Rachel sedang melirik jendela, ia teringat Jim. Dia ingin melihat Jim sebentar. Rachel berdiri di jendela dan mengintip apa bisa melihat ke taman. Tapi sayang taman tidak terlihat karena tertutupi pagar.
"Ada apa sih?"
"Haduh! Iih ngagetin!" kata Rachel yang mendapati Noey juga mengintip di sampingnya.
"Kakak ngapain?"
"Ehehehehe... mau lihat taman di depan tapi nggak keliatan, yuk ke lantai atas aja," ajak Rachel.
"Ngapain ngeliatin taman? nggak ada yang main kali," kata Noey.
"Yeeee ada loh,"
"Nggak ada anak kecil yang main malem-malem. Tuyul sih ada,"
"Hussss!"
Mereka menaiki tangga dan saat memasuki ruang kerjanya Rachel langsung menuju ke pintu menuju balkon. Ia membuka pintu dan berdiri di balkon melihat sekelilingnya.
"Wuaaaah bagus pemandangannya, bintangnya lebih kelihatan!" seru Noey.
"Nah bagus kan pemandangannya? Ada yang lebih bagus lagi loh," Rachel mengedipkan sebelah matanya.
"Oh ya? Apaan tu?" Noey penasaran.
"Ehehehehe... ada deh, ntar kamu tahu sendiri. Oh ya kita lesehan di sini sambil menikmati pemandangan bagus," Rachel berkata sambil masuk kembali ke dalam dan mengambil karpet kecil lalu di bentangkan di balkon. Ia juga mengambil cemilan dan minuman.
"Ada apa sih? semangat banget," kata Noey.
"Ntar kamu bakalan tau kok," kata Rachel masih bersikap misterius.
"Oke deh," Noey menjawab sambil mengambil tempat duduk yang nyaman. Sementara itu Rachel mencari sosok yang membuatnya selalu ingin bertemu. Ia menyipitkan matanya dan melihat ke sekeliling taman. Ia tahu malam ini pas Jim akan latihan seperti biasa. Ia akan mengenalkan Noey pada Jim.
Matanya tajam memperhatikan taman. Karena malam ini bulan tertutupi awan jadi lebih gelap dari biasanya. Tapi tidak ada sesuatu yang bergerak di taman itu. Semua hening bahkan angin pun ikut berdiam diri ikut mengawasi. Rachel menarik napas. Apa mungkin Jim terlambat datang ke taman? Sesuatu bergerak! Rachel menajamkan kembali matanya dan ternyata....
bersembeng ya zeyeng😉
__ADS_1