
Rachel terbangun dan membiarkan dirinya merasakan sinar matahari masuk ke kamar dan menyiraminya dengan kehangatan yang dirindukannya. Ia abaikan jam masuk kantor sesaat.
Di luar terdengar suara mobil keluar halaman dan pergi. Rachel beranjak dari tempat tidur lalu mengintip dari jendela. Cecil dan Bram sudah berangkat kerja tanpa membangunkannya. Biasanya jika ia telat bangun Cecil akan mengetuk pintu kamarnya membangunkan tapi tidak pagi ini.
Rachel merasa lucu, seolah ia yang berbuat salah dan dihindari oleh Cecil dan Bram. Rachel tak ada merasa bersalah, seharusnya merekalah yang merasa bersalah. Kasihan Tania yang hubungannya harus berakhir dengan cara yang tidak baik.
Rachel terpaksa memesan taksi online dan pergi ke kantornya. Mencoba mengabaikan Cecil seperti dirinya yang menghindari Rachel.
"Kalian baik-baik aja?" tanya Boy sesaat menjelang istirahat saat ia memberikan draft pesanan Rachel.
"Baik, kenapa kamu nanya gitu?" tanya Rachel tetap fokus pada draft-nya.
"Yakin?"
"Emang kenapa sih Boy? Kami baik-baik aja,"
"Selow dong beb, cuma nanya aja kok sewot gitu," balas Boy. Rachel mengangkat bahu cuek.
"Aku nitip makan siang dong, boleh ya," pinta Rachel.
"Boleh, kebetulan aku juga makan di kantor, nitip apa?" tanya Boy, Rachel menyebutkan pesanannya lalu Boy segera berlalu.
Rachel melanjutkan pekerjaannya tanpa mempedulikan sekitarnya. Bahkan ia merasa beberapa kali Cecil melirik ke arahnya. Ia menyibukkan diri dan malas rasanya berbasa-basi menanyakan masalah dirinya dan Cecil. Jika Cecil memilih bersikap menghindar, ia juga akan menghindari gadis itu juga Bram.
Bahkan di sore hari saat mereka berdua harus ikut ke ruangan ibu Andini masih saling berdiam diri tanpa mau memulai obrolan.
"Aneh banget sih," komentar Boy. Rachel mengangkat alisnya dan menatap Boy cuek.
Setelah dari kantor, Rachel bergegas pulang dengan taksi. Rumah sepi. Itu berarti Cecil belum pulang.
"Kak!" teriak Noey di belakangnya saat ia membuka pintu.
"Noey! Tumben, ayo masuk!" ajak Rachel masuk ke rumah diikuti oleh Noey.
"Makasih kak, baru pulang juga yah?" tanya Noey yang membanting tubuhnya di sofa.
"Iya, kamu sendiri?" tanya Rachel.
"Sama, cuma lagi capek mau ikut kelas malam. Bolos sehari nggak apa kali ya," kata Noey.
"Ya gak apa dong, asal jangan keseringan aja," kata Rachel.
__ADS_1
"Malam ini aku numpang tidur di sini ya," pinta Noey.
"Boleh aja, mandi sana!" kata Rachel. Noey menurut dan segera ke kamar mandi.
Malamnya, Rachel dan Noey baru saja selesai makan malam. Bram dan Cecil baru pulang. Mereka sedang tertawa lepas dan seketika terdiam melihat Noey dan Rachel yang sedang asyik menonton televisi sambil ngemil kuaci.
"Hai Noey, udah lama?" tanya Cecil.
"Dari sore, kalian darimana aja? Kok nggak ngajak kita?" tanya Noey. Cecil merasa canggung dan melirik Bram disampingnya yang sama bingungnya. Mereka tidak menyangka akan ada Noey dan Rachel malam itu.
"Kami dari belanja untuk dapur," akhirnya Bram bersuara.
"Aku mau mandi dulu, kamu beresin ini yah!" pinta Bram sambil menyerahkan barang belanjaan ke tangan Cecil. Dan Cecil segera berlalu dengan canggung.
"Kalian kenapa sih?" tanya Noey.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Rachel.
"Kok nggak teguran gitu?" tanyanya. Rachel hanya mengangkat bahu dan tak menjawab pertanyaan Noey.
***
Malam itu Noey tidur lebih awal, mungkin ia lelah harus bekerja dan kuliah. Rachel membiarkan gadis itu tertidur, ia segera ke lantai atas. Ia membuka jendela yang menghadap ke taman. Sepi disana. Tentu saja, karena malam ini rintik hujan kembali turun. Rachel merasa sedih, karena gerimis tentu Jim tak akan datang. Rachel akan menutup jendela saat dilihatnya Jim melambai dan menunjuk ke ruang depan. Rachel mengangguk dan segera turun kembali.
"Kamu dari mana? Kenapa hujan-hujanan?" tanya Rachel.
"Aku harus menemuimu, ada yang harus kubicarakan," kata Jim diantara rintikan air hujan.
"Masuklah! Aku akan..."
"Tidak! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Jim.
"Tapi..."
"Aku tidak memaksamu,kalau mau ikut ambil payungmu. Nanti aku akan mengantarmu kembali,"
"Oke! Sebentar!" Rachel berlari masuk dan kembali dengan sebuah payung. Ia juga memakai jaketnya. Karena udara di luar bertambah dingin.
"Kita mau kemana?" tanya Rachel.
"Aku ingin mengatakan sesuatu dan kamu harus tau," kata Jim.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Nanti kamu akan tahu, ayo kesana!" ajak Jim.
Mereka berbelok disebuah persimpangan dan menyeberang jalan, memasuki sebuah rumah besar yang terlihat mewah. Suasana malam itu sepi, Rachel hanya mengikuti kemana Jim pergi. Ia tak tahu rumah siapa itu dan apa tujuan Jim mengajaknya. Rintik hujan berhenti, Rachel melipat payungnya dan mengikuti kemana Jim pergi membawanya.
"Sebentar!" Jim menunduk dan sebelah tangannya yang dingin ikut memegang kepala Rachel agar ikut menunduk diantara rimbunan tanaman. Rachel melihat seorang satpam berjalan melewati mereka.
"Kita mau kemana?" lagi-lagi Rachel bertanya sambil berbisik.
"Nanti aku jelaskan! Ayo kesana!" Jim menunjuk ke sebuah pohon yang ada di halaman rumah.
"Aku mau menjelaskan sesuatu. Waktuku tak banyak," kata Jim.
"Apa itu? Jangan membuatku penasaran!" kata Rachel.
"Bantu aku. Dia itu ibuku!" kata Jim menunjuk ke dalam rumah. Seorang wanita sedang duduk merenung seorang diri. Rambutnya sebahu, siapapun yang melihat pasti tahu bahwa wanita itu sangat cantik meski kini usianya tak lagi muda. Bahkan Rachel bisa melihat sebagian rambut wanita itu memutih.
Tak lama seorang pria dengan umur yang tak jauh berbeda masuk dan memberikan secangkir teh yang diterima wanita itu sambil tersenyum tipis.
"Ibuku selalu merasa kuat meski sebenarnya dia rapuh. Dia sedang bersedih karena suatu hal. Aku mohon bantu aku," kata Jim.
"Aku akan membantumu tapi bagaimana?" tanya Rachel.
"Maukah kamu menemui ibuku besok?" tanyanya.
"Kenapa harus besok? Kenapa tidak sekarang kita menemuinya?" tanya Rachel.
"Besok kamu akan tahu alasannya. Pergilah ke rumah sakit ini dan temani ibuku. Aku mohon," pinta Jim sambil meletakkan secarik kertas ditangannya. Dan kedua tangan itu menggenggam tangan Rachel.
"Iyaa... Akan aku usahakan. Tapi bagaimana aku menjelaskan?"
"Katakan saja kamu temanku, bantu aku,"
"Baik, besok aku akan menemuinya," kata Rachel. Jika hanya dimintai tolong menemui ibu Jim baginya tidaklah sulit.
Setelah Rachel mnyetujuinya, Jim mengajak Rachel berjalan-jalan. Jim menggenggam tangannya disepanjang jalan. Rachel hanya tersenyum dan membiarkan hal itu. Ia merasa seolah Jim membutuhkannya dan kepercayaannya saat ini.
"Berjanjilah apapun yang terjadi besok, kamu tidak marah dan membenciku," kata Jim.
"Tidak, aku tidak akan membencimu. Karena aku menyukaimu," kata Rachel sambil tersenyum malu.
__ADS_1
"Benarkah?"