Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
46


__ADS_3

Jim terbangun karena gerakan di sampingnya. Rachel sudah bangun. Jim segera menariknya dan memeluk pinggang istrinya.


"Jim! Lepas!"


"Sebentar saja, please," pinta Jim masih dengan posesif memeluk Rachel. Rachel membiarkan tubuhnya dipeluk Jim.


"Maafkan aku soal tadi malam," bisik Jim.


"Tidak, akulah yang harusnya minta maaf. Terlalu ingin tahu," jawab Rachel.


"Kamu berhak tahu, nanti aku akan ceritakan tentang dia. Sekarang temani aku mandi," bisik Jim.


"Jim! Nggak!"


"Kenapa? Kamu menolak?" tanya Jim.


"Uhmm... Aku..."


"Kebanyakan alasan," Jim segera mengangkat tubuh Rachel dan membawanya ke kamar mandi. Rachel mencoba berontak tapi tetap saja tenaganya tidak sekuat Jim.


"Yang, kamu masih marah?" tanya Rachel saat mereka berendam di bathup. Rachel bersandar di dada Jim.


"Tidak, kenapa harus marah? Istriku menemani mandi, masa marah," Jim terkekeh mebuat wajah Rachel memerah mengingat apa yang mereka lakukan sesaat sebelum mandi.


"Bukan itu maksudku. Tentang tadi malam," kata Rachel.


"Tidak, sudah jangan bahas itu lagi. Ini momen kita berdua. Mau nambah lagi?" goda Jim.


"Nggak! Udahan yuk, aku lapar," kata Rachel.


"Aku juga lapar," bisik Jim saat melihat tubuh Rachel yang sedang meraih handuk.


"Mesum sekali lagi aku kunci kamar mandi dari luar!" kata Rachel melilitkan handuk di tubuhnya.


"Haaaa... Ngancam! Nggak seru," kata Jim yang ikut keluar dari bathup. Membuat Rachel memalingkan wajahnya yang memerah.


Jim dan Rachel sedang duduk untuk sarapan.


"Wah sarapannya kesiangan nih," goda bibi.

__ADS_1


"Sarapannya ngantri" balas Jim.


"Wah seru dong!" kata bibi sambil memberikan teh hangat untuk Rachel.


"Luar biasa bi," Jim berkata sambil mengedipkan sebelah matanya. Rachel hanya menunduk malu, ia menyesap tehnya. Rachel memang sangat menyukai teh hangat yng dicampur sedikit jahe. Udara pedesaan yang dingin sangat cocok menikmati minuman hangat itu.


"Abis sarapan kita jalan ya," ajak Jim


"Kemana?" tanya Rachel.


"Masih di area perkebunan," kata Jim.


"Oh... Oke!" Rachel mengiyakan ajakan Jim. Daripada ia bosan menunggu di rumah.


Mereka kembali menyusuri jalan perkebunan dengan mengendarai motor. Setelah melewati jalan beraspal, mereka memasuki jalan tanah dengan sedikit menanjak. Rachel mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Jim, karena jalanan yang mereka lalui sangat kecil dan licin.


Perjalanan berakhir pada sebuah saung. Saung itu biasanya untuk beristirahat para petani, seperti rumah kecil tanpa dinding dan biasanya lebih tinggi dari tanah sehingga untuk naik kita perlu menapaki beberapa anak tangga. Ada beberapa saung di sana. Di sekeliling mereka terbentang perkebunan teh. Rachel menghirup udara segar itu dalam-dalam sambil merentangkan tangan. Aroma khas dedaunan dan juga tanah yang basah memasuki indera penciumannya.


"Indah sekali Jim!" kata Rachel menatap hamparan tanaman teh di hadapannya. Jim sudah lebih dahulu duduk di saung. Ia melepaskan sarung tangannya dan duduk menatap Rachel. Ia sedikit lelah.


"Aku tidak bisa membawamu ke tempat eksotik, tempat romantis ataupun luar negeri. Hanya ini saja,"


"Itu aku setuju, makanya ayahku membelikan perkebunan ini untuk menikmati kesegaran udaranya,"


"Hmmmm... cerdas, jika ini dipertahankan. Ini akan jadi sumber udara segar juga penghasilan," kata Rachel. Jim menggangguk.


"Duduk di sini!" Jim menepuk lantai di sampingnya. Rachel beranjak mendekat. Dan memposisikan dirinya duduk di samping Jim lalu menatap hamparan hijau daun teh.


"Kamu capek?" tanya Rachel saat melihat Jim menutup matanya dan mendongakkan wajahnya.


"Tidak, tapi sepertinya aku harus menjelaskan sesuatu padamu, kan?" tanya Jim masih sambil terpejam.


"Uhm... jangan terlalu dipikirkan. Semalam aku hanya..."


"Leana... Gadis itu yang ingin kamu ketahui? Juga masa laluku?" tanya Jim memotong pembicaraan Rachel.


"Tidak apa-apa jika kamu ingin menyimpannya Jim, aku terlalu ikut campur dan..."


"Tidak! Kamu juga harus tahu agar tidak ada kesalahpahaman,"

__ADS_1


"Tidak Jim, aku nggak merasa gitu," bantah Rachel.


"Nggak apa-apa, biar kamu nggak ragu lagi denganku," kata Jim sambil tersenyum. Rachel sebenarnya bukan ragu dengan Jim tapi bila mengingat hubungan Jim dan Leana ia merasa menjadi orang ketiga di sini. Meskipun keadaan Leana yang belum diketahui.


"Aku nggak ragu," sambung Rachel.


"Iya, aku akan jelasin apapun yang kamu mau tahu. Maafkan aku soal tadi malam. Aku hanya ingin menikmati waktu kita berdua tanpa ada cerita tentang masa lalu. Tapi bukan berarti aku menyembunyikan kisahku. Kamu boleh nanya apapun, aku akan jawab sejujur-jujurnya aku," Jim menjelaskan. Rachel mendengarkan sambil menunduk.


"Maaf kalau aku jadi membuka ingatanmu tentang masa lalu. Aku merasa ada yang janggal,"


"Soal apa? Biar aku jelaskan semua," kata Jim.


"Uhm... Aku hanya merasa bersalah,"


"Kenapa?"


"Kita menikah sementara itu Leana masih terbaring koma. Bukankah saat itu kamu dan Leana masih berpacaran?" tanya Rachel.


"Yang sebenarnya terjadi, memang kami berpacaran saat itu. Dia anak yang baik dan penurut dengan orangtuanya. Dia juga sangat mengerti dengan kegiatanku saat itu. Hanya saja, aku terlalu sibuk dengan duniaku untuk mengejar karirku. Berkali-kali dia mengalah untuk bepergian jika jadwal bentrok dengan jadwal latihanku. Dan di saat aku tidak latihan, rasanya badanku saat itu lelah. Jadi aku lebih memilih beristirahat. Memang aku seegois itu," ungkap Jim saat melihat Rachel memicingkan matanya menatap Jim.


"Lalu?" tanya Rachel lagi.


"Ya, aku saat itu sangat lelah. Kami latihan saat akan menemani salah satu artis yang akan konser jadi jadwal latihan memang padat sekali, bahkan waktu istirahat sangat sedikit. Entah kenapa saat itu, Leana memaksa untuk bertemu. Biasanya ia akan mengalah bila mengetahui jadwalku,"


Jim menarik napas perlahan dan menghembuskannya.


"Aku marah saat itu, disaat tubuhku lelah dengan jadwal konser, Leana juga memaksa meminta pergi, lalu dengan kesal aku pergi menjemputnya karena ia terus merengek meminta sedikit waktu untuk kami berdua,"


"Hmmm..." Rachel mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Saat itu aku menjemputnya, dia sudah ada di depan rumah. Saat itu aku mau berpamitan pada keluarganya tapi dia menolak. Dan bergegas mengajakku pergi. Meski saat itu merasa heran, aku lalu pergi dengan Leana diboncengan. Saat semakin jauh dari rumahnya, dia terisak menangis,"


"Kenapa?" tanya Rachel yang semakin penasaran.


"Entahlah, saat itu aku membiarkan dia menangis. Aku membawanya ke suatu taman. Di sana dia menceritakan semua. Bahwa keluarganya tidak menyetujui hubungan kami. Bahwa seorang dancer sepertiku tidak mungkin bisa membiayai kehidupan Leana kedepannya, Leana menentang keluarganya. Itu pertama kalinya ia lakukan. Ia memaksa mengajakku kabur tapi itu tidak mungkin mengingat karirku baru saja dimulai,"


Rachel menatap suaminya dengan sendu, sungguh pilihan yang sulit bagi seorang laki-laki bila dihadapkan dengan pilihan itu. Rachel membelai tangan Jim yang bertaut dengan tangannya.


"Lalu...."

__ADS_1


Bersembeng lagi ya😅🙏


__ADS_2