Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
26


__ADS_3

"Di sini belum," Jim membawa tangan Rachel dan gadis itu terdiam. Menelan ludahnya dan dengan gugup melirik ke sana. Jim tersenyum manis. Membuat Rachel salah tingkah.


Jim membawa tangan Rachel mengusap lehernya. Rachel semakin merasa gugup dan tak nyaman. Setelah bagian leher dirasa sudah kering, Jim melepaskan tangannya dan dengan cepat Rachel menarik tangannya. Seketika rasa dingin dari tangan Jim menghilang. Ya, setiap bersentuhan dengan Jim, Rachel selalu merasa dingin. Padahal cuaca sangat panas, bahkan Jim juga berkeringat banyak.


Rachel menatap ke depan, mengatur napas dan jantungnya yang tak beraturan. Jim kembali berbaring menatap langit.


"Aku ingin suatu saat menari di panggung besar dengan ribuan penonton. Meski aku bukan bintang utamanya tapi menari membuatku melupakan semua masalah," ungkap Jim.


"Memangnya kamu nggak pernah menari di panggung?" tanya Rachel.


"Pernah, beberapa kali. Tapi setelah itu sampai sekarang aku tak pernah lagi. Aku pikir karena ada yang salah dengan tarianku tapi ternyata... "


"Kenapa?" tanya Rachel saat Jim berhenti melanjutkan kalimatnya.


"Tidak apa-apa, hanya saja aku kecewa dengan diriku sendiri,"


"Jangan berputus asa dan menyalahkan diri sendiri. Tiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Jangan biarkan masalah itu membuat kita lemah, jadikan pelajaran supaya bisa bangkit. Kalahkan keputusasaan menjadi kemenangan," kata Rachel.


"Kamu benar, tapi untuk kasusku rasanya sulit,"


"Sesulit apa? mau ku bantu?" tanya Rachel


"Nggak usah, kalau tiba saatnya nanti aku sendiri yang memintamu untuk menolongku," jawab Jim.


"Begitu?" tanya Rachel, Jim menganggukkan kepalanya dan meminum kembali air di botolnya.


"Aku ingin melihatmu di panggung, tarianmu indah. Apalagi kalau di panggung dengan kostum dan latar belakang yang pas. Kamu menari berpasangan atau kelompok?" tanya Rachel.


"Biasanya kelompok tapi tak jarang juga harus berpasangan,"


"Pasti pasangan kamu menari seindah tarian kamu, serasi," kata Rachel. Mendadak senyuman Jim hilang dan wajahnya terlihat sedih.


"Maaf, kalau aku salah dan membuatmu sedih," Rachel berkata pelan.


"Nggak kok! Lupakan dunia panggung. Tapi aku janji, suatu saat kalau aku menari kamu jadi penontonnya," ucap Jim.


"Janji ya," kata Rachel.


"Janji," Jim menimpali dan menyatukan kelingking mereka. Saat jari kelingking mereka bersentuhan, mata Jim membelalak tanda tak percaya. Ia melihat dengan jari mereka yang menyatu seolah tak percaya. Rachel menatapnya bingung.


Tak lama Rachel melepaskan jari mereka. Jim menatapnya dan napasnya kembali cepat dan tak beraturan.

__ADS_1


"Ada apa? Apa aku menyakitimu?" tanya Rachel.


"Uhm... ti... tidak. Aku harus pergi. Kamu kembalilah ke rumah,"


"Tapi... "


"Cepatlah,"


"Jim? Jim! Aku... "


Belum selesai Rachel berbicara, Jim menyambar handuk kecil dan botol minumnya lalu berlari menjauhi Rachel. Dan menghilang diantara kegelapan malam.


"Rachel!" Bram memanggil di belakangnya. Rachel berputar dan melihat Bram berdiri di pintu gerbang taman. Ia berjalan mendekat dan melihat sekitarnya.


"Cari siapa?" tanya Rachel.


"Kamu dengan siapa?" tanya Bram memegang kedua bahunya.


"Tidak dengan siapa-siapa," Rachel berbohong.


"Jangan bohong!" ia kembali mencengkeram bahu Rachel.


"Sakit! Lepas! Kamu kenapa sih? lagian apa urusanmu kalau aku sendiri atau dengan seseorang!" bentak Rachel.


"Aku bukan bayi," jawab Rachel.


"Kalau kamu kenapa-kenapa..."


"Berdoalah supaya aku tidak kenapa-kenapa, aku bisa menjaga diriku. Dan urus aja dua wanitamu. Jangan menambah pikiran menjadi tiga wanita!" kata Rachel. Ia lalu berjalan menuju rumah dan masuk ke kamar.


Rachel menghembuskan napasnya. Ia merasa kesal dengan Bram yang terlalu ikut campur. Padahal ia tak pernah ikut campur urusan Bram. Mentang-mentang bunda yang memintanya menjaga Rachel, Bram jadi merasa seorang kakak yang terlalu protektif.


Rachel melirik jam di atas meja, sudah pukul 23:45. Hampir tengah malam, pantas saja Bram memarahinya ia keluar malam. Tapi bagaimana Bram bisa tau ia ada di sana? Besok akan ia tanya.


***


Keesokan paginya, Bram mengantar bunda sampai ke rumahnya. Sementara itu, Rachel dan Cecil pergi ke kantor menggunakan taksi online.


"Hati-hati di jalan bun, kabari Rachel kalau sudah sampai. Maaf Rachel nggak bisa antar bunda,"


"Iya, nggak apa kok. Bunda malah pengen pulang sendiri tapi Bram nggak ngasih,"

__ADS_1


"Nggak apa bun, kan anak laki-laki emang gitu tugasnya," Rachel tersenyum.


"Ntar ketahuan orangnya marah loh," kata bunda mencubit hidung Rachel lalu memeluk anak gadisnya. Cecil juga menyalami bunda dan setelah Bram selesai memasukkan barang ke bagasi mobil mereka berpisah. Dan tak lama kemudian taksi online pesanan mereka pun datang.


Hari ini mood Rachel sangat baik hingga ia bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum makan siang dan masih bisa bercanda dengan timnya.


"Hel, gabung yuk ntar makan siang sama-sama," ajak Boy


"Boleh aja, mau dimana?"


"Kesha ntar yang nentukan tempatnya, eeeh by the way itu wajah berseri banget, ada apakah gerangan?" tanya Boy. Rachel mengambil kaca kecil dan memegang pipinya.


"Masa sih? Bukannya aku selalu berseri?" kata Rachel.


"Iya deeeh, susah kalo orang lagi jatuh cinta. Emang siapa sih? Ada gebetan baru nggak bilang-bilang," kata Boy.


"Yeeee, emang nggak ada, kepo aja. Udah yuk siap-siap. Jadi pergi nggak nih?" kata Rachel.


Mereka bergegas bersiap dan meluncur menggunakan mobil Kesha. Tumben aja dia ngajak makan, biasanya ia lebih memilih melakukan apapun sendiri. Mungkin ia masih canggung karena baru bergabung di tim mereka.


Setelah sampai di tempat yang di tuju mereka langsung turun dan memesan makanan dengan hebohnya. Lalu mulai menyantap makan siang sambil mengobrol seru tentang barang-barang branded yang sedang diskon, pakaian yang sedang trend, juga rencana ke salon dan spa. Seolah tidak ada beban padahal dompet mereka semakin menipis karena sudah di akhir bulan.


"Kalian di sini?" tanya seseorang saat mereka asyik ngobrol. Semua mata memandang pada Andre yang baru selesai makan.


"Pak Andre, mari makan pak,"


"Terimakasih, boleh gabung?" tanyanya membuat mereka mengangguk canggung. Andre memilih duduk di samping Rachel yang kebetulan kosong.


"Pesan makan pak?" tanya Rachel.


"Nggak usah, saya udah makan. Lihat kamu aja," jawabnya pelan tapi Rachel yakin mereka semua mendengar apa yang di katakan Andre karena mereka semua berpaling dan menatap Rachel penuh tanya. Rachel yakin bahan gosip sudah terpeta di pikiran mereka.


"Bisa aja, emang muka saya makanan," protes Rachel. Andre hanya tersenyum melihat Rachel.


"Ayo lanjut makannya, ntar bareng pulang ke kantornya," kata Andre. Serentak semua segera melanjutkan makannya yang tertunda karena sibuk menyusun bahan gosip.


Rachel pun lanjut makan dan berusaha tidak peduli dengan orang di sampingnya yang menatapnya sambil tersenyum. Setelah selesai, mereka segera menuju parkiran diikuti oleh Andre yang berjalan bersisian dengan Rachel.


"Ngapain sih ngikutin? Nggak enak ada mereka," kata Rachel.


"Kenapa nggak enak? mereka juga udah paham, kan udah pada gede,"

__ADS_1


"Iiih nyebelin," Rachel bergegas berjalan yang masih diikuti oleh Andre. Membuat bisik-bisik diantara temannya semakin kentara.


__ADS_2