Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
40


__ADS_3

Rachel terbangun dari tidurnya. Tempat tidur di sampingnya kosong. Rachel turun dari tempat tidur dan mencari Jim, rupanya pria itu sedang menikmati secangkir kopi di depan laptopnya.


Rachel memeluk bahu Jim dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi Jim.


"Sudah bangun?" tanya Jim.


"Hmmm,"


"Masih mengantuk?"


"Tidak, aku sudah puas tidur. Kamu masih ada kerjaan?" tanya Rachel yang berjalan memutar lalu duduk di samping Jim.


"Sedikit, sementara aku menyelesaikan ini, kamu mandi ya. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat," kata Jim.


"Okeh," Rachel mencium pipi jim dan segera berlalu. Jim melanjutkan pekerjaannya setelah selesai ia menunggu Rachel di kamar.


Setelah keduanya selesai mandi, mereka menaiki motor yang sudah ada di sana. Mereka berjalan sekitar dua kilometer dan Rachel merasa takjub dengan keindahan sebuah danau yang memancarkan sinar matahari sore.


"Danau apa itu?" tanya Rachel.


"Danau itu tidak memiliki nama,"


"Kenapa?"


"Entahlah, mungkin tidak banyak orang tau bagaimana terbentuknya dan yah sampai sekarang juga tidak ada pengunjung. Tapi indah kan?"


"Ya, bisa kita mendekat?" tanya Rachel.


"Tentu, ada jalan masuknya," kata Jim. Mereka berbelok saat menemukan jalan untuk mencapai tepian danau. Meskipun jalannya hanya setapak dan dipenuhi rumput ilalang, tapi jalan itu sudah semenisasi. Motor mereka berhenti tak jauh dari tepian danau yang tenang. Rachel turun dan mendekat.


"Kamu suka?" tanya Jim memeluk pinggang ramping Rachel.


"Tenang di sini. Aku suka, apa ada ikannya?" tanya Rachel.


"Tidak tahu, tidak pernah ada yang melihat orang memancing di sini. Lagian, airnya yang terlalu tenang bukan berarti tidak berbahaya. Kita tidak tahu ada hewan apa saja di dalamnya," kata Jim. Rachel bergidik mendengarnya.


"Kamu menakutiku kan?"


"Tidak! Ini serius Hel... Aku tak berani menjamin. Danau ini ada hanya untuk dinikmati dan dijaga," kata Jim sambil meletakkan dagunya di bahu Rachel.


"Lihat Jim! Danau ini menelan matahari!" kata Rachel. Jim tertawa.


"Dia bukan menelan tapi memang matahari akan tenggelam. Ayo kita pulang! Aku juga mau mampir membeli beberapa makanan. Kamu pasti suka, ayo!" Jim menarik tangan Rachel. Rachel mengikuti Jim mendekati motor mereka dan segera berlalu dari sana.

__ADS_1


"Ayo duduk di sini!" Jim menarik tangan Rachel dan mendudukkan gadis itu di sampingnya saat sampai di sebuah warung yang menyediakan berbagai makanan.


"Pesan apa pak?" tanya pelayan di sana.


"Aku mau mie ini dan ayam. Sambalnya dipisah,"


"Ada lagi?" tanya si pelayan yang terus menatap Jim.


"Kamu mau apa sayang?" tanya Jim. Membuat wajah Rachel memerah.


"Samakan saja," jawab Rachel.


"Minuman hangat ini dua," kata Jim menunjuk buku menu.


"Baik, di tunggu ya pak," pelayan itu segera berlalu.


Warung makan itu lumayan besar dengan bentuk panjang. Sekelilingnya hanya dibuat pagar dengan kayu yang membentuk saling silang da tidak berdinding. Di depannya ada dua stand menjual jagung bakar dan aneka minuman hangat.


"Kamu mau jagung itu?" tanya Jim saat melihat ke arah mana mata Rachel.


"Mau!" jawab Rachel cepat. Jim segera memesan dan kembali duduk di samping Rachel.


"Nih coba diminum," Jim menyodorkan segelas teh jahe. Seketika membuat tubuh menjadi hangat.


"Untuk?"


"Semuanya,"


"Kamu bahagia?" tanya Jim. Rachel mengangguk.


"Sangat bahagia,"


"Aku mau membuat banyak kenangan untuk kita," kata Jim.


"Kayak mau kemana aja bikin kenangan banyak-banyak," kata Rachel.


"Kita nggak tahu gimana kedepannya, aku... Aku mau kita punya banyak cerita yang bisa kita ceritakan nantinya," Jim menggenggam jemari Rachel.


"Udah ah, aku jadi sedih. Ayo kita buat banyak kenangan," Rachel tersenyum dan membalas menggenggam tangan Jim.


Tak lama pesanan mereka datang dan mereka menyantap berbagai makanan. Lalu mereka kembali ke rumah. Terlihat pak Seno dan bibi sedang menonton televisi sambil tertawa.


"Wuah asyik nonton nih, kebetulan kami bawa martabak. Masih hangat, ayo kita makan," ajak Rachel.

__ADS_1


"Kamu masih mau makan martabak?" tanya Jim.


"Emangnya kenapa?" tanya Rachel.


"Nggak apa-apa, suka aja liatnya. Ayo duduk!" ajak Jim.


Mereka menikmati film komedi bersama hingga akhirnya Rachel tertidur di sofa. Malam semakin larut, Jim menyadari Rachel sudh tertidur. Mereka segera beranjak tidur. Jim menggendong Rachel ke kamarnya, menutupinya dengan selimut. Jim menatap wajah Rachel lama, lalu membelai kepalanya.


"Maafkan aku dan selamat tidur," Jim mengecup krning Rachel sebelum akhirnya ia ikut berbaring di samping Rachel dan memeluk pinggangnya.


Tengah malam, hebusan angin dingin membuatnya seketika membuka matanya. Dia tahu ada seseorang yang datang.


"Tak kusangka kau sampai sejauh ini dengan gadis itu," senyum sinis Briel terlihat saat ia sampai di kamar itu. Gaun putih panjangnya melambai seolah ada angin yang meniup. Padahal disekitar mereka tidak ada angin.


"Sudah kubilang, aku akan melakukan apapun demi gadis itu," ucap Jim sambil menatap Rachel yang masih tertidur pulas.


"Ya, aku mengerti. Aku hanya mengingatkan saja, waktumu tak banyak. Sebentar lagi ingatanmu akan hilang," ucap Briel.


"Aku tahu dan ingat itu, terimakasih," jawab Jim.


"Hmmh... Aku heran dengan orang-orang seperti kalian. Rela melakukan hal beresiko begini, padahal yang terburuk akan terjadi,"


"Aku tahu semuanya Briel, dan satu yang kamu tidak tahu,"


"Hmmm apa itu?"


"Cinta. Kamu tidak tahu bagaimana cinta itu kuat dan tidak akan mudah hilang," kata Jim.


"Menyakitkan bukan?" tanya Briel.


"Memang menyakitkan tapi banyak yang juga hal membahagiakan," jawab Jim sambil tersenyum.


"Buat apa bahagia bila menyakitkan," ucap Briel.


"Kamu nggak akan ngerti Briel,"


"Ya.. Ya... Ya... Terserah kamu. Aku hanya mengingatkan waktumu yang sedikit lagi, jadi bersiaplah," kata Briel sambil berjalan ke arah jendela. Lalu seketika ia menghilang di telan gelapnya malam.


Jim menatap ke depan, di kegelapan malam. Segelap masa depannya. Ia tak tahu akan bagaimana hidupnya selanjutnya. Bagaimana dengan Rachel yang mencintainya tapi harus menerima kenyataan pahit. Ingin sekali Jim menjelaskan semuanya, semua hal yang berkecamuk di dalam kepalanya. Berharap Rachel mengerti dan... Entahlah, Jim tak berani membayangkan apa yang akan terjadi bila ia menceritakan segalanya pada Rachel.


Rachel menggumam dalam tidurnya, menyadarkan Jim dari lamunannya. Segera Jim mendekati Rachel dan memeluknya. Tak lama, Rachel kembali tertidur dengan tenang. Hingga subuh menjelang, barulah Jim bisa memejamkan matanya. Terlalu banyak yang dipikirkan hingga ia tak bisa tidur.


Jim berharap, besok dan seterusnya ia akan bisa menikmati hari bersama Rachel. Menghabiskan waktu,melewati siang dan malam. Lalu menua bersama hingga ajal menjemput. Hanya sesederhana itu keinginannya. Tapi seolah Tuhan masih mempermainkan nasibnya atas cinta. Entah apa kesalahannya hingga ia terjebak di dunia yang seolah tanpa batasan. Tanpa sekat. Dirinya dan seseorang yang ada di hadapannya. Meski terlihat dekat tapi terasa jauh.

__ADS_1


__ADS_2