
Rachel masih berwajah masam ketika mereka sudah sampai di kantor. Bagaimana tidak si pengemudi itu terus-terusan membunyikan klakson membuat Rachel terganggu.
"Hel! Jangan manyun terus, ntar dikira nenek-nenek," kata Andre di belakangnya. Rachel berbalik dan menjulurkan lidahnya mengejek. Ya pengemudi yang mengganggunya adalah Andre. Tidak hanya membunyikan klakson ia berkata dengan suara keras bahwa Rachel pacarnya dan sedang merajuk. Membuat banyak orang di jalanan menatapnya sambil tersenyum. Yang akhirnya membuatnya mau ikut semobil dengan Andre dengan wajah memerah.
Tak hanya sampai di situ, Andre juga mengirimkan bungkusan sarapan, cemilan salad buah dan coklat kesukaan Rachel. Seharian ini membuat Rachel seperti menjadi ratu. Sampai-sampai dia lupa bahwa Cecil tidak masuk kerja hari itu.
Menjelang sore, saat ia membuat minuman di pantry barulah ia menyadari bahwa Cecil mengajukan ijin tidak masuk bekerja selama satu minggu. Rachel ingin bertanya tentang cuti Cecil tapi urung karena Andre masuk dan ia meminta di buatkan kopi susu pada Rachel. Dengan wajah manyun ia terpaksa membuatkan secangkir minuman lagi.
"Kamu bikin minuman sambil cemberut, nanti minuman saya tidak manis," komentar Andre yang bersandar di meja sebelahnya. Rachel tak menggubrisnya. Bukannya mau mendiamkan Andre tapi lebih baik menutup mulutnya daripada ia salah ngomong dan nanti menjadi gosip. Karena beberapa karyawan lain masih di sana menikmati minumannya sebelum kembali ke meja masing-masing.
Rachel menyerahkan secangkir kopi susu pada Andre.
"Antarkan ke ruangan saya!" perintah Andre.
"Tapi pak..."
"Sekarang!" Andre berbalik lalu berjalan menuju ruangannya. Rachel menarik napasnya sesaat lalu mengantarkan kopi tersebut ke ruangan Andre. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang menatap mereka sambil berdecih.
Rachel kembali ke mejanya setelah mengantar minuman Andre. Ia mengabaikan bisik-bisik di sekitarnya. Ia meyelesaikan sedikit pekerjaannya lalu buru-buru pulang saat jam kerja sudah berakhir.
"Rachel! Tunggu di sana!" teriak Andre dari ruangannya saat Rachel sudah akan keluar. Rachel berbalik dengan wajah masam dan melihat Andre tersenyum padanya. Sebenarnya Rachel ingn kabur saat ini tapi daripada nanti Andre menyusulnya dan semakin membuatnya malu. Ia memutuskan menunggu di lorong.
"Jangan lupa pajaknya ntar kalo udah jadi ya saaaayyyyy," goda Boy dengan wajah centilnya.
"Mau aku sate kamu?" ancam Rachel. Boy malah tertawa dan berlalu.
Andre sampai dan menarik tangan Rachel menuju parkiran.
"Pak! Saya bisa jalan sendiri!" kata Rachel.
"Saya tahu,"
"Iya makanya lepas! Saya malu," kata Rachel.
"Kan kamu, saya malah seneng," kata Andre membuat Rachel semakin kesal karena di parkiran sudah ramai orang yang akan pulang.
"Ayo masuk!" Andre membukakan pintu dan menyuruh Rachel masuk di bawah tatapan Andre yang sedikit mengancam.
__ADS_1
"Kamu tuh ngapain sih kayak gini? Aku males ntar malah jadi gosip," komentar Rachel saat mobil Andre sudah meluncur di jalanan. Melepaskan bahasa formalnya saat mereka berdua saja.
"Emang kenapa? Bagus kan?" kata Andre sambil tersenyum.
"Ndre! Aku serius,"
"Emang aku bercanda?" tanya Andre lagi sambil menatap Rachel sebentar. Rachel membuang mukanya dan menatap jalanan melalui jendela.
"Aku males jadi bahan gosip," kata Rachel.
"Ya udah kita pacaran diam-diam aja! Aauuuu... Iya ..iyaa!" Andre mengaduh karena Rachel memuul bahunya bertubi-tubi.
"Makanya nggak usah aneh-aneh!" kata Rachel.
"Serius Hel, emang ada yang aneh kalo kita pacaran?" tanya Andre.
"Ya nggak, tapi kan..."
"Ya udah kita pacaran aja!" jawab Andre enteng. Lalu terdiam melihat tatapan Rachel yang tajam.
"Jadi mau langsung nikah? Aku malah lebih setuju. Aku siap jumpai bunda kamu,"
"Andreee!" teriak Rachel di samping telinga Andre. Membuat pria itu kaget dan seketika mengusap telinganya yang terasa berdengung.
"Sadis banget sih! Tapi aku serius Hel. Entah sejak kapan aku mulai suka kamu," kata Andre, ia menghentikan mobilnya karena mereka ada di persimpangan lampu merah.
"Saat ini aku nggak mau pacaran Ndre, aku mau sendiri dulu," kata Rachel.
"Kenapa? Apa ada alasan lain?" tanya Andre. Rachel diam saja menatap jalanan di depannya.
"Uhm... Tidak!" jawabnya setelah agak lama. Andre sedikit kecewa dengan jawaban Rachel. Rasanya hatinya patah sebelum berjuang.
Mereka terdiam sambil menunggu lampu kembali hijau. Rachel memperhatikan anak-anak muda yang sore itu bermain di trotoar juga di halaman sebuah gedung. Sepertinya ada atraksi dance street. Enrahlah saat ini sepertinya kegiatan itu di gandrungi anak-anak muda sekarang selain melihat beberapa anak muda yang latihan skateboard.
Lampu hijau kembali menyala, Andre mulai memasukkan persneling dan mobil mulai bergerak perlahan. Tak sengaja mata Rachel melihat seseorang dengan rambut keperakan sedang melompat. Ia mengucek matanya. Mengingatkannya pada Jim. Mungkinkah itu dia?
"Ndre! Stop! Stop! Aku mau turun di sini!"Rachel memukul lengan Andre sambil meihat ke belakang.
__ADS_1
"Nggak bisa Hel, ini rame banget! Nggak bisa menepi," kata Andre.
"Please Ndre! Atau putar balik!" kata Rachel.
"Oke sebentar! Kita cari tempat muter di depan sana. Ini lagi rame banget," kata Andre. Rachel berkali-kali menatap ke belakang. Ia yakin itu Jim. Ia sudah sangat merindukan pria itu. Jika memang itu Jim berarti ia sudah sembuh. Ia harus menemui Jim. Ada banyak hal yang mau dia katakan.
Mobil Andre berbelok di U-turn dan kembali menuju ke halaman gedung tempat dimana ia melihat Jim di sana. Jika memang benar itu Jim. Ia berharap itu memang benar-benar Jim, sosok yang sangat ia rindukan.
Saat mobil Andre masuk dan menghentikan mobilnya, Rachel bergegas turun dan berlari ke kerumunan yang sekarang tidak lagi ramai. Ia mendekat dan melihat satu per satu wajah mereka. Tidak ada yang berambut keperakan. Tidak ada Jim di sana. Rachel berbalik dan melihat ke sekeliling berharap Jim ada di sana. Tapi nihil.
Rachel bergegas jalan berkeliling melihat wajah-wajah yang asing. Tidak ada Jim di sana.
"Hel..." panggil Andre.
"Sebentar!"
"Kamu cari siapa?" tanya Andre.
"Tadi aku liat ada laki-laki. Berkulit putih, berambut keperakan,"
"Lalu? Siapa dia?" tanya Andre. Rachel hanya diam dan terus berkeliling. Megabaikan pertanyaan Andre.
"Bantu aku! Aku rasa dia masih di sini!"
"Hel..."
"Tolong aku sekali ini please," kata Rachel penuh harap dan masih berkeliling bahkan ia memutari gedung itu.
"Oke, aku bantu,"
Andre ikut mencari sambil berpencar dengan mengingat ciri-ciri seperti yang di sebutkan Rachel. Namun saat mereka kembali bertemu, Andre menggeleng sebagai jawaban. Rachel putus asa dan jongkok di depan Andre sambil memegangi kepalanya. Andre merasa kasihan melihatnya.
"Hel... Itu di sana!" Andre menunjuk ke arah pagar di samping gedung. Rachel mengangkat wajahnya dan memperhatikan arah yang di sebutkan Andre. Di sana....
Bersembeng lagi ya...
Thanks ya yang masih setia ngikutin cerita ini. Support aku denga like, komen atau vote. Thankyou so much. 😊
__ADS_1