
Rachel sampai di rumahnya dan mendapati Cecil dan Bram sedang berbicara di ruang tamu seperti menunggu Rachel.
"Hel, sebentar!" Bram menghentikan langkah Rachel.
"Ada apa?" tanya Rachel malas.
"Uhm... Bisa minta waktunya sebentar? Cecil mau bicara," kata Bram. Rachel melirik Cecil yang masih menunduk menunggu jawaban Rachel. Sebenarnya ia lelah dan terlalu banyak pikiran. Entah apa yang diinginkan Cecil.
"Nanti saja. Aku mau mandi," kata Rachel. Lalu tanpa menunggu persetujuan ia segera masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Air yang dingin membuat tubuhnya kembali segar.
Setelah mandi, Rachel menuju ke dapur dan berniat membuat makanan instan.
"Aku sudah memasak untuk kita," kata Cecil saat Rachel akan meraih panci. Rachel meletakkan kembali panci di tempatnya dan berlalu mengikuti Cecil ke meja makan. Lalu ia mengambil makanan yang tersaji dalam diam dan mulai makan. Mencoba mengabaikan Cecil.
"Mana Bram?" tanya Rachel saat mereka akan makan.
"Dia jemput Noey," jawab Cecil. Lalu mereka kembali diam dan melanjutkan makan.
"Hel..." panggil Cecil. Rachel mendongak dan menatap Cecil dari seberang meja. "Aku minta maaf," Cecil berkata sambil memainkan sendoknya.
"Untuk?"
"Entahlah, selama ini aku merasa kita menjauh. Aku merasa sedikit... Tidak maksudku aku cemburu," kata Cecil.
"Cemburu?" tanya Rachel tak percaya.
"Ya, aku cemburu Bram begitu perhatian. Dan aku ngerasa dia sedikit membandingkan kita itu membuatku tidak nyaman,"
__ADS_1
"Hanya gara-gara itu? Kamu kan tahu gimana aku, Bram dan Noey," kata Rachel.
"Iya, aku terlalu bodoh. Jadi posesif. Terlebih Bram juga punya kekasih lain,"
"Tania?" tanya Rachel. Cecil mengangguk.
"Mereka juga udah bubar," kata Rachel.
"Aku tahu. Dan itu membuatku semakin merasa bersalah, aku datang awalnya karena meminta tolong. Dan akhirnya aku menyakiti kalian," kata Cecil.
"Terus apa yang buat kamu mau meminta maaf? Bukannya selama ini kamu dan Bram menghindar terus?" tanya Rachel.
"Aku merasa sebagai pengganggu. Bram dengan Tania juga kamu dan Noey,"
"Awalnya aku ngerasa aneh aja. Kalian tiba-tiba menghindar. Tapi ya sudahlah, aku nggak mau bahas ini," Rachel beranjak dari meja makan dan akan membawa piringnya ke tempat cuci piring. Tapi tangannya di tahan oleh Cecil.
"Aku minta maaf Hel, aku benar-benar menyesal. Aku tahu aku keterlaluan, sampai-sampai Tania tersakiti. Hubungan kamu dengan Bram juga tidak baik-baik aja,"
"Aku ngerti, maaf Hel," kata Cecil menunduk dan melepaskan tangan Rachel. Rachel bergegas mencuci piringnya dan pergi ke ruang kerjanya.
Rachel membuka jendela kamar yang menghadap ke taman. Waktu sudah lama berlalu tapi setiap ia membuka jendela kamar selalu saja berharap akan menemukan sosok laki-laki yang ia rindukan. Ia sangat merindukan Jim. Entah bagaimana keadaannya sekarang.
Rachel duduk di balkon menikmati semilir angin malam dan air matanya mengalir begitu saja. Rasanya semua seperti mimpi. Baru saja malam itu ia dan Jim ke rumahnya, melihat kedua orangtuanya. Lalu esoknya dia ke rumah sakit dan mendapati bahwa Jim sudah koma beberapa bulan. Bagaimana mungkin? Padahal selama ini mereka bertemu, saling bercerita dan tertawa. Melihat Jim latihan menari setiap malam.
Lalu tiba-tiba Rachel pingsan. Meski ia tidak yakin. Rasanya ia tertidur dan memimpikan dirinya dan Jim. Tapi apa yang dia mimpikan? Rachel tak bisa mengingatnya sampai saat ini. Lalu ia terbangun dan mendapati Jim akhirnya sadar dan malah amnesia. Ia melupakan Rachel. Tapi benarkah mereka tidak saling mengenal satu sama lain?
Rasanya tidak mungkin. Karena Jim menyebut namanya saat berkenalan. Dan Rachel selalu memanggilnya Jim. Dan pria yang koma itu bernama Jim. Bagaimana bisa? Apa selama ini Jim pura-pura koma? Lalu keluar dari rumah sakit untuk latihan dan kebetulan mereka bertemu lalu berkenalan.
__ADS_1
Tapi saat Jim sadar, mengapa ia lupa pada Rachel. Apa dia cuma berpura-pura tidak mengenal Rachel? Jika memang begitu, sakit sekali rasanya. Karena Jim pernah mengungkapkan perasaannya pada Rachel dan disambut Rachel. Artinya mereka mash status berpacaran. Lagi-lagi Rachel merasa ini semua tidak mungkin.
"Jim... Aku merindukanmu," bisik Rachel. Ia berdoa jika memang semua ini nyata, ia ingin bertemu dengan Jim. Ia akan mengatakan banyak hal pada pria itu.
Sekali lagi Rachel melirik ke taman yang kosong itu lalu ia berbalik dan menutup jendela kamarnya. Rachel memutuskan untuk membuat beberapa sketsa gambar. Sampai hampir tengah malam akhirnya kantuk melanda. Rachel malas untuk turun jadi dia hanya menggelar karpet tebal lalu merebahkan diri di ruang kerjanya.
* * *
Matahari bersinar menusuk tepat di wajahnya. Rachel mengerjapkan matanya dan melihat ke sekeliling. Ia kesiangan.
Rachel duduk dan memperhatikan di sekitarnya. Banyak sampah kertas berserakan. Rachel beranjak memungut kertas-kertas itu dan membuangnya ke tongg sampah. Ia membuka je dela kamar. Lalu beralih ke meja kerjanya yang berantakan.
Rachel mengemas semua peralatan gambarnya juga kertas-kertas sketsanya. Rachel memeriksa semua hasil sketsanya dan ternyata hampir semua adalah wajah Jim.
"Aku seperti orang gila," komentar Rachel pada gambar Jim. Ia merapikan kertas-kertasnya, menumpuknya menjadi satu dan di simpan di laci mejanya.
"Gara-gara kamu, aku udah kayak orang gila Jim. Andai saja Tuhan berbaik hati mempertemukan kita. Entah apa salahku sampai-sampai keluargamu tak mengijinkan kita untuk bertemu," Rachel berkata sambil menatap lukisan wajah Jim yang ia pajang di meja kerjanya.
Rachel segera membersihkan ruang kerjanya dan turun untuk mandi dan bersiap ke kantor. Rachel tidak menemukan Bram ataupun Cecil. Sepertinya ia tadi malam agak keterlaluan terhadap Cecil. Ia lelah lalu Cecil bercerita masalahnya. Pikiran Rachel yang ruwet membuatnya terlihat kejam. Mungkin nanti ia akan menyapa Cecil.
Rachel bersiap untuk berangkat ke kantor. Hari ini ia tak sempat sarapan. Nanti ia akan membeli di kantin atau di jalan. Rachel memeriksa sekeliling ruangan ternyata Cecil dan Bram tidak ada di rumahnya. Lalu Rachel keluar dan mengunci pintu.
Baru saja ia berjalan beberapa meter, di belakangnya terdengar suara klakson yang nyaring. Membuat gadis itu terlonjak kaget da menatap si pengemudi hendak memarahi dan menyumpahi si pembuat onar. Rachel berbalik dengan wajah masam dan melihat sebuah mobil berjalan perlahan lalu berhenti di sampingnya. Sang pengemudi membuka jendelanya dan memlerlihatkan senyum jahilnya.
"Hai Rachel... Butuh tumpangan?" ia menawarkan sambil tersenyum lebar. Rachel melengos dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Yakin nggak mau ikut?" goda si pengemudi. Rachel berbalik dan...
__ADS_1
Yeay, bersembeng (lagi)
Terimakasih yang masih setia baca ceritaku. Meski agak lelet updatenya, tapi aku berharap kalian mau like, komen dan boleh minta vote atau koinnya juga boleh buangeeet. Salam author.