Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
59


__ADS_3

Sejenak Rachel membeku, ini seperti De Javu...Dia-seseorang disana... Yang menatapnya adalah Jim. Pria itu menatap Rachel sejenak lalu segera berlalu dan duduk bersama teman-temannya dan mulai mengobrol. Seolah memamg mereka tidak pernah kenal.


"Kamu kenapa Hel?" tanya Andre saat melihat Rachel duduk membeku.


"Ti... Tidak, hanya..."


"Hanya apa?"


"Tidak apa-apa," jawab Rachel tapi matanya sesekali melirik ke arah beberapa orang yang sedang mengobrol. Andre mengikuti pandangan Rachel.


"Kamu kenal mereka?" tanya Andre.


"Uhm..." Rachel hanya memainkan sendok, bingung harus menjawab apa. Bila dia mengatakan bahwa salah satu diantara mereka adalah pacarnya pasti tidak akan ada yang percaya. Tidak ada satupun yang mengenalinya. Bila mengatakan tidak kenal tapi bias rindu itu terlihat di wajah Rachel.


"Kamu kayak orang bingung gitu, ada apa sih?" tanya Andre.


"Nggak apa-apa, Ndre. Beneran. Yuk buruan makan!" ajak Rachel.


Tak lama kemudian seseorang masuk dan berjalan melewati mereka. Bertubuh tinggi dengan hidung mancung.


"Waah... Ternyata... Apa kabarnya bro!" ucap pemuda itu sambil menepuk bahu Andre.


"Cukup baik!" jawab Andre sedikit kaku.


"Hmmm... Apa dia pacar barumu?" tanya pria itu menunjuk Rachel. Rachel menggeleng.


"Ya, dia pacarku!" jawab Andre lantang.


"Ckckck... Sayang sekali gadismu tidak mengakuinya. Oh ya, kenalkan aku Edric!" pria itu mengulurkan tangannya. Rachel menatap tangan Edric sejenak lalu menatap kedua mata Edric.


"Rachel..." jawabnya pelan.


"Cantik! Tapi sayang kamu sama orang yang salah," senyum Edric seketika merekah saat mengatakan itu sambil menatap Rachel, lalu mengedipkan sebelah matanya.


"Apa maksudmu!" bentak Andre mendorong tangan Edric.


"Sudah... Sudah... Malu diliatin orang!" kata Rachel. Akhirnya Edric pamit dan bergabung bersama teman-temannya. Semua temannya menatap kearah Rachel dan Andre. Begitu juga dengan Jim. Sejenak mata Rachel dan Jim sling menatap. Lalu pria itu membuang pandangannya ke makanan. Seolah makanan itu lebih menarik. Hati Rachel berdenyut saat melihat sikap Jim.


Andre duduk di kursinya dan menatap Rachel dengan pandangan meminta maaf.


"Maaf soal tadi..."


"Nggak apa-apa, kamu kenal dia?" tanya Rachel.


"Aku kenal, cuma hubungan kami tak pernah baik,"


"Begitu... Tapi aku nggak asing dengan wajah Edric ini," kata Rachel.

__ADS_1


"Oh ya? Kamu pernah ketemu?" tanya Andre.


"Kayaknya pernah. Bukannya dia itu yang bisa dance? Dulu pernah kamu ajak aku, yang malam-malam itu," kata Rachel setelah ingat kembali.


"Ada aku kenalin ke dia? Aku lupa," kata Andre.


"Ada! Tapi kayaknya namanya bukan Edric deh, Erik kalo nggak salah,"


"Oooh Erik itu adiknya, dia kakaknya. Aku berteman dengan Erik tapi dengan Edric tidak begitu baik," kata Andre.


"Hmmm gitu, Erik itu juga kurir?" tanya Rachel.


"Nggak, Erik itu kuliah sambil ngedance. Yang kurir itu Edric, yang barusan,"


"Ooh muka mereka mirip," kata Rachel.


"Adik kakak yang hanya berjarak setahun. Mirip memang tapi kalo kamu perhatiin baik-baik mereka sediki berbeda," Andre menjelaskan. Rachel manggut-manggut.


Setelah selesai makan, mereka berjalan keluar dan saat itulah mereka berpapasan dengan Erik.


"Kamu...?"


"Hai!" sapa Erik pada mereka berdua.


"Mau pulang? Udah selesai?" tanyanya. Rachel mengangguk.


"Kami duluan ya..." kata Andre setelah berbasa-basi sebentar.


"Kami mau bekerja!"


"Sebentar aja," pinta Erik. Andre menatap Rachel yang memohon padanya lewat sorotan mata.


"Aku tunggu di mobil!" kata Andre lalu dia berbalik.


"Sebentar Ndre!" panggil Rachel, ia mengejar Andre yang saat itu menunggunya sambil tersenyum.


"Ayo ke kantor!" ajak Andre saat Rachel sampai di dekatnya.


"Maaf Ndre, kamu duluan aja. Nggak usah nunggu aku. Aku ada perlu,"kata Rachel.


"Uhmm... Ya udah, aku duluan!" senyum di wajah Andre hilang lalu ia pergi.


Rachel berbalik dan tersenyum ke arah Erik yang menunggunya.


"Nggak jadi ke kantor?" tanyanya.


"Ntar aja nyusul, kamu mau ngomong apa?" tanya Rachel.

__ADS_1


"Boleh aku tahu siapa yang dulu kamu sebut Jim?" tanya Erik.


"Tumben... Bukannya kamu juga kenal dia?" tanya Rachel.


"Ya, aku kenal. Aku hanya ingin tahu," kata Erik.


"Bertubuh tinggi, berkulit putih, saat aku mengenalnya rambutnya keperakan, bermata sipit, suka dance, bertindik di salah satu telinganya," jawab Rachel cepat. Erik hanya mendengarkan sambil mengangguk.


"Masih ingat dengan foto yang aku tunjukin dulu?" tanya Erik.


"Masih, emang kenapa sih nanya gini?" tanya Rachel.


"Aku harus memastikan sesuatu,"


"Kamu kira aku berbohong?" tanya Rachel sedikit kesal.


"Wajar Hel kalo aku curiga. Asal kamu tahu, apa yang kamu tahu waktu malam itu bikin aku kaget. Nggak mungkin Jim bisa ketemu kamu sementara dia..."


"Sementara dia koma di rumah sakit? Lalu beberapa waktu dia menghilang dan kemudian hari ini aku ketemu dia dan seolah kami tidak kenal. Ini menyakitkan!" keluh Rachel.


"Gimana kamu bisa tahu semua itu?" tanya Erik.


"Apa setelah aku cerita kamu bakal percaya sama aku? Kalo nggak mending aku nggak usah cerita karna orang kita bicarain ada di dalam sana dan sementara hilang ingatan, padahal..." Rachel tak sanggup lagi meneruskan cerita sedihnya. Siapa yang akan percaya dengan ceritanya. Tidak ada, bahkan Bram juga termasuk Erik dan orangtua Jim semua tak akan percaya.


"Sssh... Aku ngerti. Justru itu aku juga mau memastikan. Bukan mau nuduh kamu bohong. Cuma aku ngerasa semua ini aneh, bagi aku," kata Erik.


"Sudahlah! Kamu nggak akan percaya," kata Rachel.


"Gimana kalau kita masuk?" tawar Erik. Rachel jadi terdiam. Dia sangat ingin masuk dan bertemu dengan Jim tapi itu tidak mungkin bila Jim masih dalam masa hilang ingatan.


"Sebaiknya tidak!"


"Kamu mau lari? Ayolah... Buktikan kalo memang kamu kenal dia," kata Erik.


"Dia yang pakai baju biru kan? Dia di dalam sana," kata Rachel.


"Bener! Ayolah, berpura-pura tidak kenal. Aku bakal ngenalin kamu ke dia. Kita liat reaksinya," kata Erik.


"Reaksinya bakalan sama aja, anak itu udah kayak kulkas," keluh Rachel.


"Ayolah dicoba dulu, setahuku dia memang sedikit amnesia. Tapi beberapa hal lainnya dia mulai mengingat. Siapa tahu, kamu bisa juga mengembalikan ingatannya," kata Erik. Rachel berpikir mungkin ada benarnya juga. Kita tidak akan tahu sebelum kita mencoba. Akhirnya Rachel mengangguk.


Erik dan Rachel masuk ke dalam dan menemui teman-temannya yang sedang asyik ngobrol sambil tertawa. Diantara tawa itu, Rachel merindukan tawa khas dari Jim yang selalu ia ingat. Rachel menyiapkan diri, menghembuskan napas dan berjalan mengikuti Erik dengan perlahan.


"Hai semua! Sorry telat,!"


"Nggak heran," komen anak-anak lainnya menanggapi Erik.

__ADS_1


"Siapa tu? Kenalin napa..." ujar salah satu diantar mereka. Rachel hanya menunduk.


"Siapa dia?" tanya Jim. Seketika Rachel mengangkat wajahnya dan menatap Jim. Dan...


__ADS_2