Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
16


__ADS_3

Rachel bangun di pagi dengan mata yang sulit dibuka. Rachel menggeliat dan langsung ke kamar mandi. Setelah selesai ia duduk di meja makan bersama Cecil menikmati sarapan pagi sebelum mereka ke kantor.


"Kamu nggak bisa tidur?" tanya Cecil.


"Emang keliatan ya?" tanya Rachel langsung meraih cermin kecil di tasnya dan melihat riasannya. Cecil tertawa pelan.


"Udah, dimakan dulu sarapannya," kata Cecil. Lalu Rachel mencoba menikmati makanan di hadapannya meski ia sedang tak berselera makan, demi menghargai masakan Cecil ia memaksa memasukkan sarapan ke mulutnya.


Setelah sarapan kedua gadis itu pergi ke kantor. Saat sampai di mejanya, Cecil terlihat pucat melihat sebuah buket bunga di mejanya.


"Siapa yang ngirim?" tanya Rachel melihat ke kartu ucapan mungil yang ada di ujung buket.


Dari: Aditia


"Aku takut Hel," kata Cecil.


"Ssst udah, jangan takut. Ini kantor, dia nggak akan berani masuk ke sini," kata Rachel.


"Tapi nanti... "


"Ada aku, nanti kalau kamu takut kita panggil aja Bram,"


"Aku nggak enak kalau melibatkan Bram,"


"Udah nggak apa daripada kamu kenapa-kenapa. Aku sih setuju kalau kamu lapor polisi," kata Rachel.


"Siapa yang mau lapor?" tanya Andre yang tiba-tiba sudah berada di belakang Rachel.


"Bapak! Ngagetin aja," kata Rachel.


"Ada kejadian apa di kantor kita sampai mau lapor polisi segala?" tanya Andre.


"Nggak ada kok pak, ini masalah pribadi," kata Rachel sambil tersenyum.


"Oh ya?" tanyanya sambil tersenyum dan mendekat ke arah Rachel.

__ADS_1


"Bapak? Ada apa?" tanya Rachel gugup karena Andre terang-terangan mendekatinya. Ia segera berjalan mundur tapi sayang ia terbentur dinding pembatas. Ia tak bisa bergerak sementara itu Andre terus maju sambil tersenyum. Tangannya terulur, Rachel memejamkan mata dan...


"Ada semut, nakal ih..." kata Andre sambil membuang sesuatu dari rambut Rachel di ujung jarinya.


"Ma... makasih pak," kata Rachel gugup. Ia tersenyum sambil memainkan sebelah matanya. Untung ia membelakangi Cecil, bila tidak tentu Cecil akan menanyainya.


"Permisi!" Rachel segera meminta diri dan berlari ke mejanya dan sibuk membuka buku laporannya. Andre segera berlalu dari sana.


"Hei! Apa itu tadi? Drama cinta di pagi hari?" goda Cecil.


"Berisik! Nggak ada drama cinta-cintaan, basi!" balas Rachel meski telinganya memerah dibalik rambutnya yang panjang. Cecil hanya tersenyum dan menghidupkan komputernya.


Rachel sedikit pusing, ia memutuskan membuat teh sendiri di pantry. Meski ada OB ia lebih senang membuat teh untuk dirinya sendiri. Rachel berjalan ke pantry, menyeduh teh dan menghirup airnya. Seketika ia merasa lebih rileks.


"Sepertinya kamu agak santai," kata sebuah suara di telinganya.


"Bapak?" Rachel segera berbalik dan melihat Andre yang berdiri sangat dekat dengannya.


"Kamu kayak ngeliat hantu aja," ia terkekeh melihat ekspresi Rachel.


"Bapak ngapain di sini? Mau bikin kopi? Kan ada OB," kata Rachel.


"Ada apa?" tanya Rachel gugup bisa dekat dengan Andre yang wajahnya menjadi idola gadis di kantornya.


"Hanya memastikan kamu baik-baik saja, iamu terlihat kurang fit hari ini," katanya.


"Tidak apa-apa pak, saya hanya lelah," jawab Rachel. Telapak tangan Andre mendarat di keningnya.


"Tidak panas, apa kamu mau istirahat aja di rumah?" tanyanya lagi. Rachel menggeleng.


"Nggak pak, saya nggak apa-apa. Permisi," Rachel. memutuskan untuk pergi. Berdekatan dengan Andre membuat jantung tak sehat, terlebih ini di kantor. Bila ada yang memergoki mereka berdua di pantry akan menjadi gosip.


"Kalau kamu mau pulang jangan segan memberitahuku," kata Andre saat Rachel akan keluar. Ia hanya mengangguk lalu segera keluar. Di depan pintu dilihatnya Boy berjalan akan masuk ke pantry. Ia melihat Andre melangkah keluar ruangan pantry sambil tersenyum lalu melirik Rachel penuh arti. Rachel berusaha cuek.


Rachel duduk sambil meletakkan sisa teh yang belum ia habiskan. Ia merasa badannya lumayan segar, meski kepalanya sedikit berat. Nanti ia akan meminum vitamin dan beristirahat.

__ADS_1


Sayangnya, siang itu beberapa gambar yang ia buat mendapat penolakan dari klien. Mereka menginginkan sesuatu yang berbeda dan sedikit lucu. Jadi Rachel kembali melakukan perbaikan di sana-sini agar gambarnya bisa di terima.


Saat makan siang ia belum menyelesaikan pekerjaannya. Ia hanya memesan makanan dan melanjutkan pekerjaannya. Cecil pun harus makan siang di mejanya karena pekerjaan mereka yang menumpuk. Saat karyawan lain sedang keluar mencari makan siang, Andre lewat dan memberikan cemilan dan sekotak salad untuknya. Rachel berterimakasih dengan canggung sebelum akhirnya Andre berlalu.


"Nih buat kamu," Rachel meletakkan sebagian cemilan di meja Cecil.


"Wuiiih dari pak Andre dibagi-bagi," komentar Cecil.


"Emang kenapa?" tanyanya.


"Nggak boleh loh, itu kan buat kamu," kata Cecil.


"Justru karena buat aku, jadi ya terserah aku mau bagi ke siapa," kata Rachel.


"Kalian ada hubungan spesial ya?" tanya Cecil.


"Ya nggaklah, cuma dulu dia temen satu sekolahan doang," kata Rachel.


"Ooo... beruntung kamu kalau sama pak Andre, udah cakep, kerjaan oke, wajah oke. Kurang aoa coba,"


"Bukan tipe ku," kata Rachel cuek.


"Tipe kamu yang gimana?" tanya Cecil.


"Yaaah, berwajah korea. Cakep-cakep orang sono. Atau jepang juga keren. Selera fashion mereka bagus," kata Rachel.


"Korban film nih anak," kata Cecil. Mereka berdua tertawa.


Seketika ia mengingat kejadian tadi malam dan wajah pria itu kembali terbayang.


"Malah melamun," komentar Cecil. Rachel cue dan meneruskan pekerjaannya sambil tersenyum. Akankah ia menemui pria itu lagi malam ini?


Sejujurnya ia selalu terbayang pria itu. Padahal baru sekali mereka bertemu tapi Rachel merasa nyaman dan menyukainya. Entah karena faktor ia menyukai pria korea atau jepang, karena pria itu memang seperti keturunan korea atau jepang.


Atau mungkin karena pria itu yang kalem, wajahnya yang teduh juga senyum manis dari bibir merahnya? Entahlah, Rachel malah selalu terbayang wajahnya. Hatinya merasa senang hanya dengan membayangkan pria itu. Jatuh cintakah? Rasanya tak mungkin tapi banyak yang berkata cinta pada pandangan pertama bisa saja terjadi.

__ADS_1


Tapi ini terlalu dini. Mereka hanya bertemu beberapa menit. Dan bahkan Rachel tak tahu siapa nama pria itu. Nanti ia akan menanyakannya. Rachel ingin waktu cepat berlalu, agar ia bisa pulang lalu beristirahat dan nanti malam ia akan main di taman itu lagi. Ia percaya, pria itu akan kembali ke sana. Ia akan mengajaknya berkenalan.


Rachel tersenyum sambil memakan saladnya. Yang disalahartikan oleh Cecil. Ia semakin yakin bahwa Rachel menyukai Andre dan sebenarnya mereka memiliki hubungan secara diam-diam Cecil dapat melihat dengan jelas bagaimana Rachel menikmati salad yang diberikan oleh Andre.


__ADS_2