Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
63


__ADS_3

Rachel duduk dengan menyilangkan kedua tangannya tanda kesal. Kedua orang dihadapannya tersenyum sambil menggaruk kepala.


"Maaf nona, kami tidak bermaksud mengerjai. Tapi memang ruangan ini ruang emergency, ruangan kesehatan. Kalau-kalau artis atau tim dancer sedang sakit," ucap salah satu yang memapah Rachel.


"Tetap saja! Kalian seharusnya menjelaskan. Bukannya diam dan menyeretku kemari!" ujar Rachel dengan nada kesal.


"Maaf, kami kira nona salah satu fans grup ini. Karena fans mereka suka ada aja idenya, suka ngerjain kami-kami, jadi kami berdua minta maaf sudah membuat nona panik,"


"Ya sudah, aku juga minta maaf sudah marah-marah. Dan terimakasih sudah membantu," ucap Rachel.


"Nona dengan siapa? Mau kembali ke depan atau..."


Brak!


Pintu tiba-tiba terbuka dan beberap orang masuk sambil memapah seseorang. Mereka sibuk membaringkan orang tersebut, lalu memberikan oksigen.


"Kosongkan ruangan! Biar dia beristirahat sebentar! Sisanya awasi panggung dan tim. Cukup dua orang di sini!" perintah seseorang yang sepertinya manager di salah satu grup. Ia lalu pamit keluar begitu juga yang lain. Tak lama tim medis masuk dan memeriksa.


"Tidak apa-apa, sepertinya hanya kelelahan. Pasien ada riwayat sakit sebelumnya. Sepertinya belum pulih sudah dipaksa latihan berat. Istirahat saja dulu, nanti napasnya sudah normal bisa dilepas," ucap dokter tersebut. Lalu mereka mengantar dokter tersebut keluar.


Rachel hanya diam mendengarkan. Lalu setelah semua orang keluar ia melirik ke tempat tidur diujung ruangan sementara dirinya sendiri sedang duduk. Ia memperhatikan baik-baik apakah ia mengenali orang tersebut. Dia terlihat menggapai ke arah meja. Ia haus.


Rachel melirik ke pintu yang masih tertutup. Rachel sangat kesal dengan mereka yang meninggalkan pasien begitu saja. Rachel mencoba bergerak dan terasa tidak begitu nyeri. Perlahan ia turun dari kursinya dan berjalan perlahan menuju ranjang pasien tersebut. Ia berpegangan pada apa saja yang ada agar membantunya sampai ke tujuan.


"Kamu mau mi..." ucapan Rachel terhenti. Karena yang berbaring tidak berdaya disana adalah Jim. Sosok yang dirindukannya.


"Tolong..." Jim berkata sambil mengangguk. Rachel segera meraih sebotol minuman dan mengangsurkan minuman tersebut ke mulut Jim. Ia membantu agar kepala Jim sedikit tegak. Jim menarik selang oksigen dan meminum air yang disodorkan Rachel.


"Thanks..." jawabnya singkat, lalu kembali berbaring dengan napas yang masih tidak teratur. Seluruh wajah dan lehernya berkeringat. Rachel meraih handuk kecil dan menyeka wajah dan leher Jim.


"Sudah!" ucapnya sambil menepis tangan Rachel. Rachel hanya terdiam menatap Jim. Sepertinya Jim menyadari bahwa gadis disampingnya menatapnya. Jim membuka matanya dan melirik gadis tersebut. 'Cantik!' ucap Jim dalam hati.


"Kamu... Jim?" tanya Rachel. Pria itu mengangguk. Ia mengira Rachel salah satu fans-nya makanya ia tahu. Jim lalu duduk bersandar dan melirik kaki Rachel yang sedikit menggantung.


"Kakimu..." ujar Jim menunjuk kaki Rachel.


"Oh... Ini terkilir," jawab Rachel mengabaikan rasa berdenyut di kakinya.


"Duduklah! kalau dibiarkan begitu ia sakit," ucap Jim menarik lepas selang oksigennya. Sepertinya napasnya sudah membaik. Rachel duduk di sisi ranjang karena memang tidak ada kursi disana. Untuk meraih kursi Rachel tidak sanggup.


"Kamu beneran Jim?" tanya Rachel. Kedua alis pria itu terangkat.


"Apa ada seseorang yang mirip denganku?" tanyanya.

__ADS_1


"Uhm... Tidak. Tapi aku pernah punya pacar yang wajahnya mirip denganmu," ucap Rachel.


"Oh ya? Kebetulan sekali. Tapi aku merasa wajahmu tidak asing. Apa kita pernah jumpa sebelumnya?" tanyanya. Rachel menatap Jim dan meremas tangannya gugup.


"Kita... Kita...."


"Kamu gugup? Hehehehe... Santai saja. Sebentar! Aku mengingatmu!" ucap Jim.


"Kamu ingat?" tanya Rachel.


"Aaaah kamu kan yang diresto! Kita bertemu pagi-pagi! Dan kamu mengenal Eric! Iya kan?" tanyanya. Rachel mengangguk pelan. Ternyata yang ia ingat kejadian saat di resto ketika Rachel sarapan bersama Andre.


"Iya," ucap Rachel sambil tersenyum.


"Waah kebetulan! Nama kamu siapa? Maaf aku terlambat menanyakannya," ia mengulurkan tangannya yang disambut oleh Rachel.


"Rachel!"


"Jim! Aaah Rachel, nama yang bagus! Nggak nyangka kita ketemu lagi,"


"Iya, apa kamu ada mengingat hal lainnya? Rumah sakit? Taman?" tanya Rachel.


"Rumah sakit? Taman?" tanya Jim mencoba mengingat sesuatu dengan wajah mengernyit.


"Iya, bukankah kamu dulu sering latihan di taman saat malam hari?" tanya Rachel mencoba memancing ingatan Jim.


"Kita..."


"Jim! Kamu baik-baik aja?" beberapa orang menerobos masuk. Lalu mereka terdiam dan saling melempar senyuman saat melihat Rachel duduk di ranjang Jim.


"Waaah pantes betah! Ada yang nemanin! Sepertinya juga sudah sembuh!" beberapa temannya menepuk-nepuk bahu dan punggung Jim.


"Hei! Sana!" usir Jim.


"Kenalin! Main usir aja!" ucap mereka.


"Loh? Rachel?" Eric yang baru masuk kaget melihat Rachel yang duduk tak jauh dari Jim.


"Hai!" Rachel nyengir salah tingkah.


"Kaki kamu kenapa?" tanyanya saat melihat kaki Rachel dibalut perban.


"Terkilir!" jawab Rachel.

__ADS_1


"Terus ngapain di ranjang Jim?" tanya Eric.


"Dia membantuku mengambil minuman, lalu tak bisa kembali," jawab Jim saat melihat Rachel tak bisa menjawab karena wajah gadis itu sudah semerah kepiting karena malu.


"Oooooohhhh..." koor suara para dancer memenuhi ruangan tersebut. Rachel semakin menunduk malu.


"Sudah! Kalian membuatnya malu," ucap Jim.


"Aku... Sebaiknya kembali kesana," kata Rachel mencoba turun dari tempat tidur.


"Biar kami bantu," ucap salah seorang dari mereka.


"Modus! Sini kubantu," kata Eric yang meraih tangan Rachel dan membantunya kembali ke tempat duduknya diawal.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Eric saat ia mendudukkan Rachel di kursinya.


"Oke, cuma sedikit sakit," kata Rachel.


"Apa terjadi sesuatu?" bisik Eric.


"Ss... Se... Sesuatu?" tanya Rachel. Eric mencubit pipi Rachel.


"Kemana pikiranmu! Aku hanya bertanya tentang Jim," ucapnya.


"Oooh... Tidak ada. Tapi apa maksudmu dengan terjadi sesuatu?" tanya Rachel.


"Entahlah, aku merasa ada sesuatu diantara kalian," kata Eric.


"Benarkah?" tanya Rachel.


"Sepertinya, apa kamu tahu Jim sedang amnesia?" tanya Eric. Rachel mengangguk.


"Besok kita ketemuan, aku pengen tau beberapa hal. Kamu ada waktu?" tanya Eric. Rachel mengangguk, lalu mereka bertukar nomor ponsel agar memudahkan komunikasi besok.


"Hel? Ya ampuuuun, kamu nggak apa-apa?" tanya Bram yang menerobos masuk ke dalam ruangan. Semua mata menatap Bram yang terlihat peduli pada Rachel.


"Nggak apa-apa, mau pulang?" tanya Rachel. Bram mengangguk. Rachel pamitan pada semua sebelum pulang.


"Waaah baru deket, saingan langsung dua," komentar salah satu dari mereka.


"Dua?" tanya Jim.


"Eric sama cowok tadi!"

__ADS_1


"Aaah Eric belum masuk hitungan!" Jim tertawa. Eric hanya mengangkat bahunya.


"Aku dapat nomor ponselnya!" Eric melambaikan ponselnya. Lalu menjadi rebutan para dancer. Jim hanya tertawa melihat mereka semua.


__ADS_2