Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
72


__ADS_3

Saat teringat Jim, ternyata Jim lewat sambil bersepeda. Tapi benarkah itu Jim? Rachel berdiri dan membuka jendela. Sayang, sosok yang terlihat seperti Jim sudah tidak terlihat lagi. Rachel kembali ke kasurnya. Apa benar itu Jim yang lewat? Kenapa rasanya tidak mungkin? Tapi bisa saja dia lewat. Atau apakah itu hanya halusinasinya karena memikirkan sosok Jim?


Tok.... Tok... Noey mengetuk pintu kamar.


"Masuk!"


"Kak?" tanya Noey dengan kepala yang menyembul sedikit di depan pintu.


"Masuk sini!" ajak Rachel. Noey ragu-ragu masuk dan duduk di pinggir ranjang.


"Maaf ya kak," ucap Noey.


"Nggak lah, kakak yang harusnya minta maaf tadi malah marah-marah nggak jelas," ucap Rachel lebih dulu. Lalu mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya mereka tersenyum.


"Maafin kak Bram ya," kata Noey.


"Tenang aja, kami nanti juga baik-baik aja kok. Kamu udah makan?" tanya Rachel.


"Belum," jawab Noey lemah.


"Yuk kita makan!" ajak Rachel.


Mereka makan sambil bercerita seperti biasa, Rachel membuat suasana tidak lagi canggung. Setelah makan, mereka duduk sambil menonton drama.


"Noey, bentar yah! Kakak ke depan dulu. Beli cemilan dan stok es krim. Kamu mau ikut?" tanya Rachel. Noey menggeleng.


"Nggak kak, capek. Nitip minuman yah hehehe," pinta Noey.


"Oke, kakak pergi sebentar ya," pamit Rachel. Ia memilih untuk berjalan menggunakan payung karena cuaca cukup terik.


Sampai diminimarket, Rachel segera memilih beberapa cemilan dan dimasukkan ke dalam keranjang belanjaan. Ia lalu beralih ke aneka minuman namun ia terdiam saat melihat Jim sedang memilih minuman dingin.


"Jim...!" panggil Rachel. Jim menoleh ke kiri dan kanan. Ia menemukan Rachel yang berjalan ke arahnya.


"Kamu di sini, beli apa?" tanyanya.


"Cemilan aja," jawab Rachel.


"Aku temenin ya..." pinta Jim, Rachel tertawa dan mengangguk. Setelah memilih minuman mereka ke kasir. Lalu mereka jalan pulang, Jim sambil menuntun sepedanya.


"Jadi bener kamu tadi yg sepedaan tengah hari panas gini?" kata Rachel.


"Loh? Kok kamu tau?" tanya Jim.


"Tadi di rumah sepintas liat kamu dari jendela, kirain cuma halu taunya bener," jawab Rachel.


"Jadi rumah kamu disekitaran sini?" tanya Jim. Rachel mengangguk.


"Iya, kenapa emangnya?" tanya Rachel.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, kita neduh dulu yuk. Panas banget," kata Jim. Wajahnya memerah karena panas, jadi mereka mampir ke sebuah taman dengan banyak pohon rindang.


Sambil berteduh, mereka bercerita banyak hal meski Jim jarang sekali tersenyum. Biasanya ia akan tersesenyum bahkan tertawa lebar hingga yang terlihat hanya garis matanya yang semakin menyipit.


"Aku mau bertanya sekali lagi," ucap Jim sambil memainkan botol minuman di tangannya.


"Mau tanya apa?"


"Apa benar kita dulu pernah dekat?" tanya Jim. Rachel menatapnya sambil terbelalak. Apa Jim sudah mulai mengingat sedikit-sedikit?


"Uhm... Ya. Tapi aku juga nggak ngerti Jim,"


"Maksud kamu?" tanya Jim. Rachel bingung harus mulai cerita dari mana. Dan ia tidak yakin Jim akan mempercayai ceritanya.


"Apa kamu bakal percaya?" tanya Rachel.


"Aku harus dengar dan tahu dulu ceritamu,"


"Apa ingatanmu sudah kembali?" tanya Rachel. Jim menggeleng membuat Rachel lemas seketika.


"Cuma ada sedikit, sepintas aku mengingat. Dan senyum kamu rasanya nggak asing, suara kamu juga tidak asing di telingaku," ucap Jim.


"Benarkah? Sebaiknya kita ngobrol di rumah. Di sini panas," ucap Rachel. Jim mengangguk. Karena sepeda yang dinaiki Jim tidak ada boncengan jadilah mereka jalan berdua sambil menuntun sepeda Jim. Rachel memayungi mereka berdua agar tidak panas.


Saat mereka jalan, sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka. Kaca mobil terbuka dan terlihatlah wajah cantik Nae. Yang katanya adalah pacar Jim.


"Hai Jim! Aku mencarimu, kata mama kamu pergi ke market, jadi aku menyusul," ucapnya sambil tersenyum ke arah Jim tanpa menyapa Rachel.


"Tunggu apa lagi? Ayo naik, kita pulang!" ajak Nae.


"Maaf Nae, tapi aku ada urusan sebentar. Ini penting, kamu boleh pulang duluan?" tanya Jim. Nae, gadis itu cemberut.


"Nggak apa-apa Jim, kamu pulang aja. Aku duluan ya," pamit Rachel.


"Hel... Hel... Tunggu! Aku ikut!" Jim menarik tangan Rachel.


"Jim, jangan gini. Kasian pacar kamu!" kata Rachel melepaskan tangan Jim.


"Nggak! Aku harus tau sesuatu. Ini penting,"


"Tapi..."


"Sudah! Ayo jalan. Nae kamu pulang duluan, ini penting!" ucap Jim menarik tangan Rachel dan mengajaknya berjalan menuju rumah Rachel.


Mereka jalan dengan sedikit terburu-buru karena mobil Nae masih mengikuti mereka.


"Biarkan saja dia!" ucap Jim saat Rachel selalu melihat ke arah mobil Nae.


Mereka sampai di rumah Rachel. Mobil Nae melewati rumah Rachel dan melaju pergi.

__ADS_1


"Syukurlah!" ucap Jim sambil mendudukkan diri di kursi teras rumah Rachel.


"Sebentar ya, aku ambilkan minum," kata Rachel. Jim mengangguk. Ia menatap taman di depan rumah Rachel, terlihat famliar. Tapi ia tak ingat pernah pergi ke sana.


"Diminum Jim," kata Rachel meletakkan dua gelas minuman dingin juga cemilan.


"Thanks Hel... Kamu tinggal di sini sendiri?" tanyanya. Rachel mengangguk.


"Sekali-sekali adik temenku nginep sini kadang sama temenku juga," jawab Rachel.


"Nggak takut tinggal sendiri?" tanya Jim.


"Kadang-kadang aja Jim,"


Lalu mereka bercerita banyak hal sampai akhirnya Noey keluar rumah dengan mata mengantuk khas bangun tidur.


"Kak, lama banget belanjanya...." Noey terdiam sejenak saat melihat Jim. Lalu segera merapikan rambutnya yang sewarna dengan Rachel.


"Kenalin, ini Jim temen kakak, Jim kenalin ini adik temen yang aku ceritain," Rachel mengenalkan mereka.


"Hai... Jim!" Jim menyodorkan tangannya.


"Hai... Noey," jawab Noey sedikit gugup menyambut uluran tangan Jim.


"Aku masuk dulu yah, lanjutin ngobrolnya," kata Noey. Rachel tersenyum. Begitu juga dengan Jim disertai dengan senyuman manisnya.


"Kupikir dia adik kamu," kata Jim. Rachel hanya tertawa.


"Dia emang lengket banget ama aku," jawab Rachel. Mereka asyik mengobrol hingga tak terasa matahari bergulir ke barat tanda sudah semakin sore. Dan taman itu, yang tadinya kosong mulai diisi anak-anak yang bermain.


"Rame juga yah ternyata..." ucap Jim.


"Iya, terkadang sampai malam,"


"Oh ya?"


"Ya, tapi biasanya remaja. Ada yang gitaran, main skateboard, atau latihan menari," ucap Rachel.


"menari?" tanya Jim.


"Ya, menari. Bahkan sampai larut malam," Rachel menjelaskan.


"Kamu kok tahu?" tanya Jim.


"Aku melihat mereka dari balkon. Kalau malam ruang kerjaku di atas,"


"Oooh pantesan, kalau emang banyak orang di malam hari, kapan-kapan aku mau coba latihan di sana!" ucap Jim.


"Ya boleh, nanti aku temani!" kata Rachel.

__ADS_1


"Thanks, aku pamit dulu. Sudah sore!" kata Jim. Rachel mengantarkan pria itu hingga ke pintu pagar. Jim melihat taman itu sepintas, merasa tidak asing. Lagi-lagi ingatannya seperti kembali tapi terlalu sedikit. Mungkin jika sering kesana ia akan mengingat banyak hal. Jim berharap semoga saja...


__ADS_2