Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
66


__ADS_3

"Jim? Kamu di sini?"


Jim berbalik saat seorang gadis menepuk bahunya dan Jim melongo menatap gadis tersebut. Dia adalah Naehara, seorang gadis keturunan jepang yang akhir-akhir ini dekat dengannya.


"Oh, Nae! Kamu di sini juga?" tanya Jim.


"Aku mencarimu. Kata orangtuamu kamu keluar mencari angin, ternyata kamu di sini," gadis itu duduk di samping Jim langsung bergelayut di lengan Jim sambil menatap ke arah Rachel. Rachel ingin marah tapi itu tak bisa dilakukannya karena status mereka yang masih belum jelas. Jim menarik tangannya sambil tersenyum.


"Iya, aku hanya mau berjalan-jalan sebentar, tapi bertemu dengan Rachel. Oh ya kenalin, ini Rachel temanku, ini Nae," Jim mengenalkan mereka berdua. Mereka saling berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing.


Saat itu mereka sedang duduk di salah satu stand makanan. Awalnya Rachel ingin makan, tapi seketika rasa lapar itu hilang begitu saja. Ia tak ingin makan tapi Jim telah memesankan makanan dan minuman mereka.


Rachel memainkan pipet di gelasnya dalam diam. Tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana. Karena obrolan didominasi oleh Nae sepenuhnya. Saat Rachel memutuskan untuk pulang, makanan mereka tiba. Jim ingin memesankan makanan lagi untuk Nae.


"Tidak usah, aku hanya makan sedikit. Boleh aku makan sebagian punyamu?" tanya Nae sambil tersenyum. Jim yang memang berhati lembut dan selalu tidak tega mengangguk. Dengan semangat Nae meraih garpu dan mulai makan, begitu juga Jim meraih sendoknya dan ikut makan dalam piring yang sama.


Kali ini selera makan Rachel benar-benar menguap. Ia hanya menenggak minumannya hingga habis dan melirik jam di tangannya.


"Aku harus kembali!" kata Rachel.


"Tapi kamu belum makan!" kata Jim.


"Maaf, tapi aku sudah kenyang!" jawab Rachel melirik ke arah Nae yang masih menyuap makanan.


"Tapi..."


"Maafkan aku, aku menyesal. Lain waktu gantian aku yang akan mentraktirmu," kata Rachel. Lalu ia pamit pada mereka dan kembali pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Jim menatap kepergian Rachel, seolah merasa sangat kehilangan. Padahal mereka belum begitu dekat.


'Perasaan apa ini? Kenapa rasanya sedih melihat dia pulang,' batin Jim. Setelah itu ia menemani Nae makan dan mengantar gadis itu pulang.


* * *


Rachel membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan kembali memikirkan pertemuannya dengan Jim yang tidak disengaja. Ia tersenyum dan seketika hatinya merasa bahagia seolah ingin meletupkan rasa senang. Tapi seketika rasa itu berganti dengan perasaan sedih. Semua begitu cepat berganti saat mengingat bagaimana Nae datang dan bergelayut manja pada lengan Jim.

__ADS_1


Rachel membalikkan tubuhnya dan menatap ke jendela kamarnya melayang membuka kenangan demi kenangan saat bersama Jim. Rachel tak ingin mempercayai semua ini. Bahwa ia bertemu engan Jim, berinteraksi dengannya, menjalin hubungan, lalu kenyataan menamparnya. Bahwa Jim sedang terbaring koma beberapa bulan. Lalu siapa yang ia temui setiap malam? Semua terasa sangat nyata saat itu. Sekarang di dunia yang nyata, Jim seolah berada di tempat lain. Rachel menghela napasnya dan ia bangkit dari tidurnya. Ia berjalan ke jendela kamarnya dan menyibakkan tirai jendela. Sepi. Begitu juga dengan taman di seberang sana.


Kemarin taman itu pernah menjadi tempat yang dinantinya, tempat yang dirindukannya. Tempatnya berbagi cerita bersama Jim juga menemaninya latihan. Tapi sekarang semua tinggal kenangan. Entah sampai kapan ia menunggu ingatan Jim akan kembali.


Rachel beranjak dari jendela, lalu membaringkan tubuhnya kembali. Ia mencoba untuk tidur dan berharap bisa melupakan semua.


Sementara itu, Jim sedang menatap langit. Ia memikirkan Rachel. Sepertinya gadis itu dekat dengannya, semua yang ada di dirinya sangat tidak asing bagi Jim. Jim mengumpat pelan karena ia masih belum mengingat banyak hal.


Ia meraih ponselnya dan mengirimi Erik pesan singkat. Ia baru ingat, nomor ponsel Rachel belum ia dapatkan padahal berkali-kali ia bertemu gadis itu tapi selalu lupa menanyakannya. Entahlah, saat bersama Rachel ia melupakan semua yang ada disekelilingnya. Bahkan hal penting seperti nomor ponsel saja ia bisa melupakannya.


Jim berbaring di tempat tidurnya menatap langit-langit kamarnya. Ia memikirkan kisahnya. Baru saja ia menikmati perannya sebagai kekasih Nae, namun Rachel juga datang. Tapi ingatannya justru tidak asing dengan Rachel. Benarkah ia dan Nae sudah lama berpacaran? Seperti yang gadis itu katakan saat ia pulih dan kembali ke rumah.


Dan Nae, gadis jepang itu sangat manja. Terkadang Jim merasa risih saat ia ada tapi gadis itu pacarnya. Dan mungkin saat ingatannya normal gadis seperti itulah yang ia dambakan. Jim mengusap wajahnya memikirkan kedua gadis yang kini mengisi kepalanya.


Baru saja akan terpejam, ponselnya berdering. Jim meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera. Erik calling...


Dengan cepat Jim menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Halo..."


"Oke!" Jim menekan tombol merah pada ponselnya. Jim bergegas bangkit, meraih jaket jins yang tersampir pada sandaran kursi lalu segera keluar. Jim menstarter motornya dan melesat menuju markas. Mereka menyebutnya markas. Sebuah rumah minimalis milik Erik yang digunakan untuk kumpul bersama.


Jim memakirkan motornya di teras dan masuk melalui pintu belakang. Di sana sudah berkumpul semua teman-teman dancernya.


"Ada apa?" tanya Jim sambil duduk.


"Ada event lagi, kita harus membagi kelompok jadi dua. Satu kelompok ikut tour dan lainnya tetap stay," kata Erik.


"Aku ikut!"


"Sorry Jim, kali ini kamu nggak ikut tour. Masih proses penyembuhan. Fokus sembuh dulu," bantah Erik.


"Oke, tim yang ikut tour berapa orang?" tanya Jim

__ADS_1


"Butuh sekitar 15 orang, mungkin bisa lebih atau kurang. Pastinya besok,"


"Jadi, malam-malam nelpon untuk ini?" tanya Jim.


"Nggak, ada yang lain. Setelah ini ikut aku," kata Erik.


Setelah itu, beberapa anak lain bersantai ada juga yang latihan dance. Sedangkan Jim mengikuti Erik ke dapur. Erik membuatkan minuman dingin untuk mereka berdua. Lalu keduanya duduk berhadapan.


"Gimana kamu dan Nae?" tanya Erik.


"Biasa aja, justru aku lebih tertarik ke Rachel. Kayak ada satu ingatan tentang dia, tapi aku lupa,"


"Hmmm...status kamu dan Nae?"


"Masih!"


"Kamu mau mempertahankan Nae?" tanya Erik.


"Entahlah, aku masih bingung. Benarkah kami memiliki hubungan seperti yang dia katakan,"


"Kamu ragu?" tanya Erik menatap Jim tajam.


"Jujur sih iya,"


"Cepat ambil keputusan. Kamu lanjut dengan Nae atau tidak,"


"Kenapa? Ada sesuatu?" tanya Jim.


"Tidak ada, aku ragu kamu percaya aku. Nae tidak sebaik yang kamu kira," kata Erik.


"Benarkah?" mata Jim menyipit.


"Hahaha sudah kuduga reaksimu, cari tahu sendiri. Dan saranku, jangan terlalu memanjakan Nae,"

__ADS_1


"Hei... Siapa yang memanjakannya!" bantah Jim.


"Ya... Ya... Semoga tidak! Ayo, kita latihan, bagaimana bahumu?" tanya Erik yang menarik kerah jaket Jim dan membawanya keluar ruangan untuk latihan.


__ADS_2