
"Lalu, saat itu rasa lelahku memuncak. Aku merasa lemah bila berhadapan dengan keluarganya. Aku bicara pelan-pelan dengannya menjelaskan kedudukanku yang bukan apa-apa dibanding keluarganya. Dia menangis saat itu. Aku tahu dia sangat terluka sesudah apa yang dia perjuangkan selama ini," Jim berkata sambil menunduk, menyembunyikan rasa sedihnya.
"Pasti dia terluka... Kasihan," bisik Rachel memeluk Jim.
"Ya, dan akhirnya aku menyerah. Aku memutuskan hubungan kami saat itu. Karena jadwalku yang semakin padat juga tentang keluarganya yang tidak merestui. Satu-satunya hal terbaik saat itu adalah melepaskannya. Aku juga tidak punya waktu walaupun hanya untuk beberapa jam menikmati waktu berdua seperti orang pacaran lainnya. Setelah aku beri pengertian, akhirnya dia setuju meski terasa berat,"
"Kalian putus?" tanya Rachel.
"Ya, kami putus dengan cara baik-baik. Aku bahkan menemaninya hingga dia tenang kembali. Lalu dia meminta aku menemaninya jalan-jalan untuk yang terakhir kalinya. Namun siapa sangka, saat kami pergi, melewati persimpangan. Kami ditabrak oleh sebuah mobil. Kecelakaan beruntun. Aku tidak dapat merasakan apapun saat itu. Aku mencemaskan Leana, ia terbaring di pinggiran aspal bersimbah darah. Aku ingin menolongnya tapi saat itu aku terhimpit motor. Sulit sekali menggerakkan tubuh. Semua rasanya sakit bahkan untuk bernapas terasa perih,"
"Sesakit itu? Lalu apa yang terjadi?" tanya Rachel. Jim mengangguk sebelum menjawab.
"Kami dan korban lainnya dilarikan ke rumah sakit terdekat. Cuma karena peralatan kurang memadai kmi dipindahkan keesokan harinya. Dan disaat itu aku sempat sadar beberapa saat dan hanya mampu mendengar suara ribut disekitarku. Dan disitulah aku tahu keadaan Leana kritis, koma. Saat itu aku merasa marah. Akulah yang menyebabkan dia kehilangan kesadaran. Tak lama sesudah itu, Leana dibawa keluarganya dan sampai sekarang kami tidak tahu dimana dia. Kami kehilangan jejak. Aku merasa bersalah dan merasa tidak pantas. Sebagai laki-laki aku sudah sangat jahat padanya,"
"Ssst... Itu adalah takdir. Kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Itu kecelakaan, bukanya di sengaja," bisik Rachel membelai rambut Jim. Matanya memerah menahan tangis.
"Aku merasa duniaku memang tidak pantas untuk seorang wanita. Saat itulah yang kutahu dari keluargaku dan bibi, aku koma sangat lama. Hingga keluargaku merasa pasrah dan nyaris menyerah,"
"Maafkan aku yang membuat kamu jadi mengingat semuanya, kamu sudah mencari kira-kira dimana Leana?" tanyaRachel. Jim menggeleng pelan.
"Justru kamulah yang membuatku bersemangat lagi. Rasanya perkiraan semua tempat sudah dicari, termasuk rumah sakit. Semua nihil." kata Jim.
"Aku? Bagaimana bisa?" tanya Rachel penasaran.
"Suatu saat kamu akan tahu. Aku rasa kisahku dan Leana sudah kamu ketahui. Aku ceritakan semua apa adanya. Jadi jangan merasa bersalah lagi, saat ini hanya itu yang bisa kamu ketahui. Yang lainnya kamu akan tahu dengan sendirinya. Dan jangan menanyaiku" pinta Jim sambil tersenyum.
"Tapi, bagaimana dengan keluarganya?" tanya Rachel mengabaikan kalimat terakhir Jim.
"Uhmmm... itulah yang menjadi masalah sekarang. Sampai detik ini, tidak ada yang tahu bahwa kami sudah putus,"
__ADS_1
"Kenapa tidak memberitahu? Yaaa setidaknya keluargamu tahu," kata Rachel.
"Tidak mungkin aku berkoar-koar sudah putus disaat Leana koma. Semua akan menuduhku menghindari tanggung jawab. Atau mereka aan menganggap bahwa aku hanya ingin Leana disaat kondisi sempurna, bukan disaat koma,"
"Benar juga, kecuali dari mulutnya membenarkan bahwa kalian sudah putus. Semua akan beres," kata Rachel.
"Cerdas!" kata Jim memeluk Rachel.
"Tapi tunggu! Kalu memang begitu, keluargamu? Lalu pernikahan kita?" tanya Rachel. Itu artinya keluarga Jim sudah tahu bahwa Jim dan Leana sudah pisah dan memberikan restu untuk mereka berdua.
"Nanti... Kamu... bakal tahu...Aaaarrrrrrrrgggghhhhhhh!" Jim berteriak memegang kepalanya. Kepalanya berdenyut kuat seolah akan pecah.
"Jim! Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Rachel.
"Kepalaku...Aaaarrrrrrgggghhhhh... Sakiiiiittttt! Hentikaaaannnnnnn!" teriak Jim.
"Jim... Kumohon jangan sakit, apa yang harus aku lakukan? Jim? Tolooooooong! Toloooooong!" teriak Rachel. Tapi percuma, tidak ada seorangpun di perkebunan.
"Yaaa? Kenapa Jim?" Rachel menatap Jim dengan cemas, air mata tak berhenti bercucuran dari kedua matanya.
"Jangan menangissss...." pinta Jim.
"Nggaaak... Aku nggak nangis, kamu kenapa? Jim? Jim?" panggil Rachel.
"Kepalaku seperti dihentam palu besar... Rachel, aku mohon jangan lupakan aku, ingatlah setiap waktu bahkan setiap detik saat bersamaku,"
"Jim... Kamu ngomong apa? Aku janji akan ingat semuanya tapi jangan tinggalin aku. Aku mohon Jim. Aku harus apa agar kepalamu tidak sakit?" Rachel kembali menangis dan memeluk Jim dengan erat. Kesadaran Jim semakin menipis. Ia menggeleng saat melihat satu sosok bayangan di belakang Rachel. Wajah Jim semakin pucat. Ia menggeleng kuat.
"Tidak! Tidak sekarang!" Jim menggeram hingga Rachel sedikit takut melihat perubahan suaranya.
__ADS_1
"Jim! Hentikan! Kamu mau kemana?" tanya Rachel saat Jim sempoyongan menuruni saung dan berjalan menjauh. Rachel bergegas menyusul takut terjadi sesuatu.
Tak jauh dari saung, Jim berdiri memegang sebelah kepalanya dan melihat ke sekeliling. Rachel pun ikut melihat tapi ia tak menemukan apapun. Tidak ada yang bergerak. Bahkan dedaunan ikut diam. Hanya awan mendung yang kini mengelayut di langit. Sebentar lagi akan turun hujan.
"Jim... Kamu nggak apa-apa? Kamu cari siapa?" tanya Rachel.
"Tidak! Bukan siapa-siapa. Sudah mendung, ayo kita pulang," Jim menarik sebelah tangan Rachel, sebelah tangannya lagi masih memegang kepalanya.
"Jim! Apa yang terjadi? Berbahaya jika kita pulang sekarang!" kata Rachel.
"Tidak ada waktu, kita harus sudah di rumah secepatnya!" kata Jim menarik Rachel menaiki motor, ia memakai helm lalu menstarter motor.
"Tapi Jim... Kepalamu..." kata Rachel.
"Aku bisa menahannya. Berpeganganlah... Peluk aku," kata Jim sesaat sebelum menjalankan motornya menuruni perbukitan. Rintik hujan sudah mulai turun. Rachel mendongak dan melihat sambaran kilat beberapa kali disertai gemuruh petir. Perjalanan masih jauh tapi hujan tak mau tahu. Hujan turun dengan deras. Di sekitar mereka hanya ada tanaman teh. Tidak mungkin bisa untuk berteduh, kalaupun berteduh tentu jalanan sesudah hujan akan sulit dilewati karena basah dan lengket.
Jim melajukan motornya, beberapa kali ban belakang motor sedikit tergelincir membuat Rachel berpegangan semakin erat. Baju mereka sudah basah oleh air hujan. Rachel berdoa semoga mereka bisa selamat sampai ke rumah.
Akhirnya mereka sudah melewati jalan tanah dan memasuki jalan aspal. Jim melanjutkan perjalanan dengan hati-hati.
"Rachel...!" panggil Jim.
"Ya?" teriak Rachel diantara deru suara hujan dan angin.
"Aku cinta kamu, dan jangan pernah lupakan aku,"
"Aku juga cinta kamu, aku tidak akan lupain kamu. Dan berjanjilah untuk selalu setia," teriak Rachel, ia kembali mengeratkan pegangan di pinggang Jim. Jim meremas tangan Rachel sebentar lalu kembali menarik gas, melajukan motornya.
Tanpa mereka sadari, dari tadi di belakang mereka ada sebuah mobil berkali-kali membunyikan klakson. Rachel menoleh ke belakang sesaat. Mata Rachel membelalak melihat mobil di belakangnya, dia seperti mengenali siapa yang berada di balik kemudi. Saat Rachel mengingatnya, tiba-tiba....
__ADS_1
Yaaaa... Maafkan author yang bikin gantung lagi😅🙏 kabur weekend dulu ya, ntar crazy up sesuai permintaan😁👍