
Rachel menggeliat saat wajahnya tersentuh oleh sesuatu yang lunak. Rachel berusaha untuk mengusirnya ternyata sesuatu yang mengganggunya semakin terasa menyebalkan. Rachel memaksa membuka matanya dan melihat Jim yang jahil menggelitiki wajahnya dengan ujung-ujung jarinya.
"Jim! usil deh!"
"Hahahaha... Pulas banget tidurnya, yuk turun! Atau mau aku gendong?" goda Jim.
"Aku jalan aja," kata Rachel malu. Ia keluar dari mobil dan melihat ke sekeliling. Ternyata indah sekali. Mereka berhenti di sebuah halaman rumah berdinding papan, terlihat mungil dan elegan dengan berbagai tanaman gantung. Juga berbagai tanaman bunga terlihat seperti pagar mini.
"Ayo!" Jim menarik tangan Rachel dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Tak lama seorang laki-laki tua menghampiri mereka.
"Tuan Jim, selamat datang," ucapnya sambil menyalami Jim.
"Pak Seno, apa kabar?"
"Sehat, Tuan. Semua sudah saya dan bibi siapkan. Ayo masuk, Nyonya," ajaknya. Rachel dan Jim mengangguk.
Mereka masuk dan langsung menuju meja makan yang masih satu ruangan dengan dapur. Ruangan itu langsung menghadap ke taman belakang.
"Tuan, sudah lama tidak berkunjung. Ini bibi buatkan makanan kesukaan Tuan,"
"Terimakasih bibi, aku selalu merindukan masakan bibi,"
"Baiklah, kalau begitu nanti akan bibi buat kau gendut," ucapnya sambil menggembungkan pipinya.
"Jangaaaan bibi, ampuuuun!" ucap Jim. Rachel tertawa senang.
"Semoga nona betah disini ya," kata bibi. Rachel mengangguk.
"Curang, kenapa dia dipanggil nona?" protes Jim.
"Ya begitulah..." kata bibi sambil tertawa kembali ke dapur.
"Udah jangan cemberut, ayo makan," ajak Rachel. Mereka makan dalam diam, sepertinya perjalanan mereka yang jauh membuat mereka sangat kelaparan.
Setelah makan, Jim mengajak Rachel duduk di taman belakang. Di sana ada bangku dan ayunan. Jim berbaring di ayunan sambil terkantuk-kantuk dan Rachel duduk di bangku taman sambil memakan buah.
"Yank..." panggil Jim tapi matanya terpejam. Rachel berhenti mengunyah sejenak lalu melanjutkan makan.
"Ayang Rachel..." panggilnya manja.
"Apa sih!"
"Sini dong, baring sini!" ajak Jim.
"Nggak!"
"Enak loh di sini," Jim terus memaksa Rachel. Akhirnya setelah menghabiskan buah ia segera menaiki ayunan bergabung bersama Jim.
"Enak kan?" tanyanya sambil tersenyum.
"Hmmm" jawab Rachel ikut memejamkan matanya. Ia berbaring berbantal lengan Jim. Sementara tangan lainnya memeluk pinggang Rachel.
"Aku mau kita hidup kayak gini selamanya,"
"Hmmm..." jawab Rachel.
"Aku mau kamu selalu ada temani aku, mengingatku,"
__ADS_1
"Bukannya kita akan terus begini?" tanya Rachel.
"Aku takut..."
"Takut apa?"
"Suatu saat kita berpisah atau suatu saat kamu melupakanku,"
"Tidak akan,"
"Tidak ada yang menjamin itu semua Hel, bisa saja kenyataan akan terasa lebih menyakitkan,"
"Kamu ngomong apa sih?" Rachel membuka matanya dan menatap mata Jim yang menatapnya.
"Aku ingin kamu selalu mengingatku,"
"Aku selalu ingat kamu dan kita kan selalu seperti ini. Sesuai keinginanmu, kita selalu bersama,"
"Inginku begitu, cuma aku takut suatu waktu kamu meninggalkanku atau sebaliknya,"
"Kita pasrahkan pada Tuhan, bukankah Tuhan Maha segalanya? Dia tahu yang terbaik untuk kita. Kita jalani sebaik mungkin, aku percaya nanti kita akan dapatkan jalannya,"
"Tapi.."
"Apa kamu meragukanku?" tanya Rachel.
"Tidak! Hanya saja begitu banyak ketakutan dalam diri ini,"
"Tenanglah, kita pasrahkan semua pada Tuhan. Yang pasti aku akan selalu ada untukmu,"
Tak lama Jim tertawa saat Rachel menggelitikinya, hingga Jim tertawa sambil melonjakkan badannya. Rachel tak berhenti sampai di sana, ia terus menggelitiki pinggang Jim.
"Udah! Ampuun...! Udah! Jangaaaaan..."
Brrrukkkk
Akhirnya mereka berdua terjatuh karena tali penahan ayunannya terlepas. Rachel dan Jim terjatuh lalu mereka tertawa terbahak.
"Kamu sih nggak bisa diam!" omel Rachel.
"Kamu tuh usil banget," kata Jim sambil badannya berputar dan bertopang pada sikunya lalu menatap Rachel.
"Kenapa liatinnya begitu?" tanya Rachel.
"Cantik," gumam Jim.
"Hmmm... Kamu juga ganteng," kata Rachel tersenyum lalu menangkup kedua pipi Jim. Jim mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel. Semakin dekat, sedikit lagi nyaris menyentuh bi...
"Tuan nggak apa-apa?" tanya satu suara.
"Sh**!" Jim mengumpat pelan dan segera menegakkan diri.
"Nggak apa-apa pak," jawab Jim dengan senyum terpaksa.
"Loh? Ada nyonya rupanya, maaf saya mengganggu. Kirain tuan sendirian jatuhnya," pak Seno menggaruk telinganya.
"Ehehehe nggak apa pak, nggak ganggu kok,"
__ADS_1
"Boleh saya benerin ayunannya? Sepertinya ikatannya longgar, kemarin saya baru menukar talinya,"
"Oh ya, silahkan pak," Rachel segera bangun dan menepuk pakaiannya dari debu. Rachel dan Jim menyingkir selama pak Seno membenarkan tali ayunannya.
"Bapak menanam juga?" tanya Rachel.
"Iya nyonya, cuma tidak banyak,"
"Tanam apa pak?" tanya Rachel.
"Tanaman umbi, beberapa jenis sayur dan jamur,"
"Wah... Banyak juga ya,"
"Lumayan buat sehari-hari, nah... Sudah selesai ini, kuat ini buat berdua atau bertiga," senyum pak Seno mengembang sambil menatap pasangan di depannya. Jim dan Rachel jadi salah tingkah.
"Terima kasih pak,"
"Sama-sama, saya pamit dulu. Kalau butuh apa-apa, saya di sebelah sana," tunjuknya pada sisi kanan.
"Baik pak,"
Lalu pak Seno berjalan kembali ke kebun. Jim menaiki ayunan kembali dan mengajak Rachel.
"Nggak ah, aku mau istirahat di kamar aja,"
"Aaah... Aku mengerti," Jim mengangguk dan tersenyum menggoda Rachel.
"Apa maksudnya mengerti?" tanya Rachel.
"Aku mengerti kamu mau privasi, ayo ke kamar!" Jim menarik tangan Rachel.
"Tidak! Maksudku bukan begitu!" Rachel dengan wajah memerah terpaksa mengikuti Jim yang terus menarik tangannya menuju ke dalam rumah.
"Nah! Ini kamar kita, ayo kita berbaring!" Jim tersenyum dan melompat ke atas kasur lalu menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
"Hmmmh... Aku mau istirahat sebentar," kata Rachel.
"Ayo berbaringlah!" Jim menarik tangan Rachel lalu memeluknya saat Rachel telah berbaring.
"Jiiiiim,"
"Ssst... Tidurlah, aku menemanimu. Jangan usir aku, aku mau selalu begini," bisik Jim sambil matanya tetap terpejam.
"Baik, tapi jangan usil," kata Rachel.
"Percaya padaku, tidurlah!" Jim mengelus rambut Rachel hingga dengkuran halus terdengar. Jim membuka matanya dan membenarkan letak rambut Rachel. Lama ia menatap wajah Rachel lalu dengan perlahan membenarkan letak bantal di kepala Rachel. Ia bangkit dan berjalan mendekati jendela kamar.
Jim menatap halaman yang ditumbuhi rumput. Begitu terasa tenang dan damai. Ia tak ingin semua ini berakhir begitu saja. Ia ingin menciptakan banyak kenangan indah dengan Rachel agar tak mudah bagi Rachel melupakannya. Ia juga ingin ingatannya tentang Rachel tak akan sirna.
Ia mencintai Rachel. Entah bagaimana awalnya dan akhirnya dia bisa mendapatkan Rachel. Tidak sulit mendapatkan Rachel, karena Rachel juga mencintainya.
Cinta. Jim jadi tersenyum tapi air mata juga mengalir di pipinya.
'Maafkan aku!'
Jim berkata dalam hati sambil menatap Rachel. Lalu ia pergi keluar.
__ADS_1