
Di salah satu rumah sakit...
"Dokterrr! Tolong... Tolooong!" teriak seorang wanita paruh baya menangis memegangi tubuh anaknya yang tiba-tiba kejang. Seorang pria paruh baya berkali-kali memencet tombol panggilan yang terletak dibagian atas tempat tidur.
Tak lama perawat dan dokter berlarian mendorong troli memasuki ruangan tersebut. Kedua orangtua tersebut menunggu di luar sementara itu dokter sedang memeriksa. Rasa cemas terlihat pada wajah keduanya. Karena selama ini anak mereka yang di rawat begitu tenang, baru kali ini mengalami kejadian seperti ini. Kejang-kejang dan tak sadarkan diri.
Suara di dalam ruangan juga tidak membuat mereka tenang. Segala arahan dokter dilakukan bersama-sama perawat. Mereka masih berusaha menyelamatkan si anak yang selama ini koma. Butuh waktu sekitar satu jam hingga dokter dan perawat keluar ruangan dengan bercucuran keringat.
"Bagaimana dok?" tanya pria paruh baya itu.
"Syukurlah, keajaiban terjadi. Anak bapak dan ibu selamat. Sekarang sedang di dalam menunggu kedua orangtuanya. Ini benar-benar keajaiban, anak ibu dan bapak sadar sepenuhnya. Silahkan melihat tapi jangan membuatnya lelah. Kami masih mematau perkembangannya. Setelah itu temui saya di ruangan dokter sebelah sana," tunjuk sang dokter.
"Terimakasih dokter! Terimakasih!" berkali-kali si ibu mengucapkan terimakasih dengan berurai air mata bahkan sang ayah memeluk dokter tersebut.
Seelah dokter berlalu, keduanya bergegas masuk ke ruangan.
"Jim! Anak mama!" bisik sang ibu. Ya mereka adalah keluarga Jim.
"Ma..." bisik Jim pelan.
"Pa..." panggilnya. Keduanya mengangguk dan mengelus tangan anak mereka. Yang selama ini tidak merespon. Mata selalu tertutup. Kini mereka bisa saling menatap bahkan berbicara. Ucap syukur berkali-kali terucap dari kedua bibir mereka.
"Bagaimana kondisimu? Mama kangen..." bisik ibunya. Dia hanya tersenyum. Begitu juga dengan kedua orangtuanya. Bahagia, hanya itu yang mereka rasakan.
Setelah puas melihat anaknya, kedua orangtua Jim menemui dokter yang menangani anak merek.
"Begini bu, kondisi tubuh Jim sejauh ini sudah membaik. Tidak ada kerusakan fatal, semua sudah terlewati," ucap sang dokter.
"Syukurlah, terimakasih dokter," ucap ibu Jim tulus.
"Sama-sama bu, berkat doa ibu dan keluarga juga. Cuma ada sedikit catatan untuk Jim selama masa pemulihan. Karena terlalu lama koma, mungkin nanti Jim harus belajar menggerakkan anggota tubuhnya karena kaku. Tidak usah khawatir, semua akan membaik," dokter itu menambahkan karena melihat wajah cemas ibu dari pasiennya.
"Oooh baiklah, ada lagi dok?" tanya sang ayah. Dokter itu menggeleng.
"Sepertinya semua oke, cuma sambil menunggu masa observasi Jim masih kami tahan beberapa hari lagi untuk memastikan tidak ada keluhan lainnya," kata dokter.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih dokter!" kedua orangtua Jim pamit dan sekali lagi menyalami sang dokter.
Mereka berdua bergegas menuju ruangan Jim. Tak lama kemudian dokter dan perawat kembali datang untuk melepas beberapa alat yang tak lgi diperlukan dan akan memindahkan Jim ke ruang rawat inap biasa. Tidak lagi di ICU.
Senyum tak pernah lepas dari bibir ibunya dan tangannya selalu menggenggam tangan Jim. Begitu juga dengan Jim ia sangat merindukan kedua orangtuanya terlebih ibunya. Mereka berdua memang sangat dekat.
"Ada pengen sesuatu Jim?" tanya ayahnya.
"Tidak ada pa," jawab Jim.
"Kenapa mama terlihat banyak rambut putih? Kalian juga terlihat kurus," Jim melanjutkan.
"Mama sudah tua Jim,"
"Mama masih terlihat muda bagiku," jawab Jim.
"Jangan mengejek mama Jim!" ibunya terlihat galak. Jim tersenyum lebar melihat ibunya yang wajahny dibuat-buat galak.
"Tidak... Tidak... Serius ma, bagi Jim mama terlihat muda. Terimakasih sudah menjagaku selama ini dan bersabar dengan anak nakal ini," kata Jim. Ibunya memeluk Jim dan menangis keras.
"Sudah... Sudah... Jim baru saja sadar. Kita harus membuatnya bahagia dan makan yang banyak agar tubuhnya kembali berisi," ujar sang ayah yang memeluk bahu istrinya. Padahal matanya juga memerah.
"Tidak! Papa hanya kelilipan debu. Ruangan ini pasti belum dibersihkan!" ujarnya lalu berpura-pura mengambil minuman di kulkas mini yang tersedia di ruangan tersebut.
"Papamu selalu begitu, seolah-olah dia kuat. Padahal..." ibu Jim terkikik melihat suaminya yang mengusap matanya di balik pintu kulkas.
"Senang rasanya melihat kalian lagi, berapa lama aku pingsan ma?" tanya Jim. Kedua orangtuanya saling menatap lama.
"Cukup lama..." kata ibunya.
"Ya lumayan... kita bahas itu nanti saja. Fokuslah untuk sembuh. Teman-temanmu pasti senang mendengar berita ini," kata ayahnya.
"Baik komandan! Aaah rasanya aku ingin menari lagi..." kata Jim.
"Sembuh dulu, kita pulang dan kamu bisa aktivitas lagi. Kamu nggak kangen masakan mama?" goda ibunya.
__ADS_1
"Tentu saja aku kangen, pokoknya aku mau makan semua masakan mama," ungkap Jim.
Mereka masih mengobrol ringan. Sampai Jim meminta ijin untuk tidur sebentar. Radanya sedikit lelah, padahal baru saja mengobrol dan duduk. Mungkin tubuhnya belum terbiasa dengan aktivitas yang banyak.
Ibu Jim sedikit cemas saat anaknya tidur, ia takut bila anaknya kembali koma dan seperti orang tidur di waktu yang lama.
"Jangan cemas... Dia hanya tidur. Sebaiknya kamu istirahat. Aku mau membeli beberapa cemilan kesukaan Jim. Dan jangan berpikir yang negatif, semua akan baik-baik saja sekarang," kata ayah Jim sambil memeluk istrinya. Lalu ia keluar ruangan. Ia melihat sekelebat bayangan seseorang di balik pintu.
Ayah Jim segera menarik tas wanita itu. Ternyata dia adalah Noey.
"Maaf, saya kira siapa. Apa kamu mencuri dengar?" tanya ayah Jim.
"Maaf om, saya tadi lewat dan melihat bahwa Jim sudah sadar. Saya turut senang cuma tadi mau masuk dan menyapa rasanya sungkan,"
"Kamu masuk saja, ajak sekali temanmu itu, siapa namanya?"
"Rachel om,"
"Ya itu dia... Om juga ingin bicara dengan dia. Dimana dia?" tanya ayah Jim.
"Masih di IGD om. Tadi dia pingsan,"
"Apa dia baik-baik saja?"
"Baik om, hanya dia kurang istirahat dan anemianya sedang kambuh,"
"Oh begitu... Semoga lekas sembuh. Om mau keluar dulu membeli makanan untuk Jim dan ibunya,"
"Baik om, terimakasih. Maaf soal yang tadi saya mengintip," kata Noey sambil menggaruk kepalanya.
"Tidak apa-apa. Om mengerti," ayah Jim tertawa dan menepuk bahu Noey dua kali sebelum pergi. Noey bernapas lega dan segera ke IGD melihat keadaan Rachel. Untunglah gadis itu sudah sadar dan sedang berjalan keluar ruangan sambil merengut. Pasti karena ditinggal oleh Noey.
Noey segera mendekat dan memberi kabar tentang Jim. Rachel sangat senang mendengarnya. Kedua gadis itu segera ke ruang rawat inap dan menemui Jim.
Rupanya Jim baru akan duduk saat mereka masuk.
__ADS_1
"Jim! Syukurlah kamu udah sadar!" tiba-tiba Rachel mendekat dan akan memeluk Jim tapi Jim menolak sambil mengangkat tangannya.
"Maaf, kalian siapa...?"