
"Hel... Itu di sana!" Andre menunjuk ke arah pagar di samping gedung. Rachel mengangkat wajahnya dan memperhatikan arah yang di sebutkan Andre. Di sana tampak seorang pemuda berambut keperakan sedang berjalan sambil merangkul seorang gadis. Amarah menguasai Rachel.
Gadis itu berjalan cepat agar tidak lagi kehilangan jejak Jim. Bahkan kini ia sedikit berlari diikuti oleh Andre yang masih bingung dengan sikap Rachel sore itu.
Rachel menarik tangan pria itu dan pria itu berbalik dengan wajah penuh tanda tanya.
"Jim!" panggil Rachel. Pria itu menatapnya keheranan.
"Maaf, saya bukan Jim," pria itu berkata mlirik gadis di sampingnya.
"Maaf, saya kira teman saya. Maaf sekali lagi. Saya salah orang," Rachel meminta maaf. Pasangan tadi kembali melanjutkan jalan. Rachel berbalik sambil wajahnya berkaca-kaca menatap Andre.
"It's okey, kamu mungkin salah lihat. Nanti aku bantu cari ok?" kata Andre memeluk Rachel. Rachel menangis dalam pelukan Andre. Tadinya ia yakin itu Jim, orang yang dia cari sekaligus ingin dia lupakan. Ternyata sosok Jim tidak ada di sana.
"Ayo, aku antar kamu pulang," Andre mengajak Rachel.
"Dia pulang denganku!" tiba-tiba satu suara di belakang mereka membuat Rachel berhenti menangis.
"Bram?" tanya Rachel tak percaya. Bram mengangguk dan mengajak Rachel pulang.
"Dia pulang denganku!" suara Andre yang tegas membuat Rachel mendongak, lalu tersadar ia di pelukan Andre dan segera mundur.
"Ayo Hel!" perintah Bram tegas, kali ini wajahnya mengeras. Menakutkan.
"Tapi..."
"Sekarang!" perintahnya lagi. Rachel segera meminta maaf pada Andre dan berjalan di belakang Bram. Andre mengumpat pelan sebelum ia kembali ke mobilnya dan berbalik arah pulang.
"Kamu itu kenapa sih susah banget di bilangiiiiin, jangan dekat-dekat dia. Dia itu nggak sebaik yang kamu kira,"
"Bram..."
"Susah banget jelasinnya. Kalo kenapa-kenapa dengan kamu, aku mau bilang apa ke bunda?"
"Tapi kan selama ini juga aku sendiri. Toh kamu juga sibuk dengan pacar-pacar kamu,"
"Iya oke! Aku memang selama ini lebih perhatiin mereka di banding kamu. Tapi aku nggak lepas tanggung jawab aku,"
__ADS_1
"Udah Bram, aku pusing!" Rachel berkata begitu sambil berurai air mata.
"Astaga Helllllll..." Bram menepikan mobilnya dan mengusap air mata di kedua pipi Rachel.
"Aku... " Rachel tak melanjutkan perkataannya, ia hanya menangis. Bram memeluknya dan mengusap rambut panjang Rachel.
"Ada apa? Apa ada yg kulewati?" tanya Bram. Rachel hanya menggeleng dan terus menangis. Butuh waktu 30 menit sampai Rachel benar-benar berhenti menangis.
"Maaf," bisik Rachel sambil mengambil tisu dan mengelap hidungnya yang semakin merah.
"Kita pulang dulu..."
"Nggak! Boleh nggak malam ini aku nginep di tempat lain selain di rumah?" tanya Rachel.
"Yaaa boleh, kita nginap di suatu tempat," kata Bram.
"Kita?" Rachel meyakinkan pendengarannya.
"Iya, memangnya aku bakal biarin kamu sendiri? Nanti kamu makin kacau, aneh-aneh dan nggak terkontrol," omelan Bram semakin panjang.
Malam itu Bram menjadi seorang yang sangat cerewet. Ia menemani Rachel, mengajaknya berkeliling mencari makanan di street food, mencicipi berbagai cemilan. Meski Rachel hanya makan dengn sedikit, Bram tidak putus asa. Ia membelikan banyak makanan. Bahkan ia membelikan sebuah balon Marsha untuknya. Rachel menerima dengan wajah seperti kepiting rebus. Merah.
Dia benar-benar malu, dia bukan seorang anak kecil yang bersedih, merengek meminta jajanan dan balon. Tapi Bram memperlakukannya begitu, hingga banyak orang tersenyum ke arah mereka.
"Thanks Bram," ucap Rachel sambil memainkan pemberat balon di tangannya. Saat itu mereka duduk di sebuah bangku menghadap ke kota. Bangku itu di sediakan untuk pengunjung perbukitan. Di sana ramai penjual juga pengunjung yang datang sekedar menikmati kerlip lampu kota.
"Untuk?" tanya Bram menyesap kopinya.
"Hari ini, semuanya. Penginapan termasuk balon ini," kata Rachel tersenyum sambil memainkan benangnya membuat balon itu naik turun.
"Hmmm..." Bram hanya mengangguk.
"Bram...!" panggil Rachel.
"Apa?" Bram menoleh melihat Rachel di sampingnya.
"Maaf sudah merepotkan,"
__ADS_1
"Nah itu tau," jawab Bram cuek.
"Ishhh...!" Rachel memukul pundak Bram. "Tapi serius Bram, aku kacau banget, thanks untuk semuanya," lanjut Rachel lagi.
"Emang ada apa sih? Ngapain tadi nangis di jalanan gitu? Mana mau-mau aja di peluk cowok itu," kata Bram.
"Cemburu pak?" goda Rachel.
"Mau ku tinggal di sini sendiri?" kata Bram cuek.
"Gitu aja marah!" sungut Rachel.
"Emang ada apa sih?"
"Entahlah, sejak kejadian di rumah sakit aku kehilangan sosok seseorang,"
"Siapa? Kamu udah punya pacar?" tanya Bram, Rachel mengangguk.
"Tapi hanya sehari," jawab Rachel. Bram mengernyitkan dahinya dan menatap Rachel heran.
"Kok bisa nggak move on?" tanya Bram sambil menghindar, karena Rachel kembali menghujaninya dengan pukulan di bahu.
"Nggak gitu, malam itu aku jadian. Tapi besoknya dia malah lupa," kata Rachel. Ia menoleh ke arah Bram yang menutup mulutnya dengan topi karena menahan tawa meski samar-samar terdengar kekehannya. Rachel bersiap memukul Bram segera menghindar dan tertawa puas.
"Hahahaha sorry, pacaran belom 24 jam udah lupa dia? Terus kamu nggak bisa move on? sejarah ini mah," kata Bram.
"Nggak gitu juga sih, aku penasaran juga kenapa dia bisa lupa. Padahal malam itu kami sempat jalan,dan anehnya ternyata dia baru bangun dari koma,"
"Bentar... Bentar... Bentar. Ini aku yang salah denger atau salah cerita. Malam itu kalian jalan, terus paginya dia koma dengan keadaan amnesia? Emang kenapa? Kecelakaan?" tanya Bram.
"Iya, paginya dia amnesia. Terus lupa semuanya tentang aku. Terakhir orangtuanya ngelarang aku ketemu dia sampai dia sembuh. Tapi ini sudah terlalu lama dan sore itu aku kayak ngeliat dia di lapangan. Pas turun dia udah nggak ada di sana. Aku yakin itu dia,"
"Masa? Yakin nggak salah liat? Atau kamunya yang kelewat kangen, malah ngebayangin dia," kata Bram.
"Mungkin juga," Rachel menjawab pelan. Saat ini ia tak mau menceritakan detil masalahnya pada Bram. Sudah bercerita seperti ini saja sudah membuatnya sedikit lega. Ia memag butuh teman cerita hari ini dan mencoba melupakan kenangannya bersama Jim di taman seberang rumahnya.
"Nanti aku bantu kamu nyari dia, dah nggak usah sedih. Kita kembali ke penginapan. Ini udah hampir tengah malam," kata Bram. Rachel mengangguk dan menghabiskan minumannya sebelum beranjak. Tak lupa ia membawa balon Marsha pemberian Bram. Meski sedikit malu tapi ia membawanya terus. Ia merasa Bram bisa sweet juga. Pantesan ceweknya banyak. Semoga Rachel bukan calon korban cinta dari playboy cap sendal jepit itu.
__ADS_1