Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
24


__ADS_3

"Rachel, sudah larut. Kamu masuklah, aku juga mau pergi," kata Jim setelah beberapa waktu ia latihan menari dengan musik yang berasal dari ear phone nya.


"Kamu mau kemana?" tanya Rachel yang merasa terusik karena ia menikmati tarian Jim.


"Aku? tentu saja pulang. Ini sudah larut, kamu baru sembuh kan? sebaiknya banyak istirahat," kata Jim menyeka keringatnya dengan sapu tangan dan meneguk air minumnya.


"Kamu tau aku sakit?" tanya Rachel. Ia mengangguk.


"Bundamu bercerita dengan gadis satu lagi, yang di rumah kamu,"


"Cecil?"


"Hu'um... sudah! ayo pulang, aku lelah sekali," Jim memijit bahunya dan berjalan beriringan dengan Rachel keluar taman.


"Besok kamu ke sini lagi?" tanya Rachel.


"Kalau tidak ada jadwal latihan lain, aku akan berlatih di sini. Oke aku buru-buru. Daaah!" ia melambai, Rachel membalasnya dan membuka pintu gerbang lalu masuk ke rumah.


Rachel berjalan pelan menuju kamarnya. Dan di sana berdiri Bram tepat di samping pintu kamarnya.


"Bram? kamu belum tidur?"


"Dari mana?" tanyanya.


"Aku dari luar,"


"Udah malem, masih pemyembuhan, bukannya istirahat tapi malah keluyuran nggak jelas,"


"Nggak jelas gimana? kamu kenapa sih?"


"Kamu yang kenapa? bukannya nemenin bunda, istirahat, ini malah keluyuran entah kemana,"


"Aku cuma ke taman depan, sewot banget, marah-marah nggak jelas!"


"Terserah!" Bram pergi meninggalkan Rachel yang segera masuk ke kamarnya dan membanting pintu.


Sejak Rachel pindah ke rumah ini, Rachel merasa Bram terlalu berlebihan. Entah alasannya karena ia tinggal sendiri dan jarak rumah mereka yang jauh atau karena kedekatannya dengan Andre. Padahal sejauh ini sikap Andre padanya tak berubah dan masih baik-baik saja.


Rachel menghempaskan tubuhnya di ranjang dan memainkan ponselnya. Hingga akhirnya ia tertidur dengan sendirinya.


***


Pagi itu suasana di meja makan terlihat suram. Bram dan Rachel saling diam. Cecil memandang mereka bergantian tapi keduanya tetap cuek.


"Kalian kenapa sih?" tanya Cecil saat ia membantu Rachel mencuci piring.


"Kenapa apanya?" tanya Rachel.


"Biasanya suka bercanda, ini malah diam-diaman. Lagi berantem?" tanya Cecil.


"Nggak kok, yuk!" ajak Rachel setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Jika tidak berangkat sekarang mereka akan terlambat.


"Yuk, aku antar!" Bram sudah siap. Mereka masuk ke mobil Bram dengan Rachel yang lebih dahulu memilih duduk di belakang sedangkan Bram dan Cecil di depan.


"Aku duluan ya! Ada perlu!" Rachel melesat berlari masuk ke kantornya.

__ADS_1


"Kalian kenapa? Berantem?" tanya Cecil.


"Nggak kok, jangan dipikirin. Udah sana kerja, ntar telat," kata Bram.


"Oh iya, aku masuk ya. Terimakasih udah dianter," kata Cecil. Bram mengangguk lalu mobilnya melesat meninggalkan Cecil.


Hari itu Rachel lebih banyak diam dan tak ceria seperti biasanya. Cecil menyerah untuk bertanya dan lebih memilih fokus pada kerjaannya.


Jam makan siang juga Rachel lebih dulu keluar dan hanya berpamitan pada Cecil.


"Ayo!" ajak Andre. Rachel mengikutinya, mereka akan makan siang bersama.


"Ndre!" panggil Rachel.


"Hmmm?"


"Aku mau nanya, kamu kenal Bram?" tanya Rachel.


"Kenal tapi kami nggak dekat, kenapa?" tanya Andre yang fokus ke jalanan.


"Nanya aja,"


"Yuk turun!" ajak Andre setelah sampai. Mereka masuk dan memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang mereka ngobrol.


"Hel... kamu dan Bram ada hubungan apa?" tanya Andre.


"Cuma temen, dari kecil jadi udah dianggap bunda kayak anak sendri,"


"Kamu nggak ada rasa sama dia?"


" Hmmm gitu... bisa dong,"


"Apanya?"


"Kita lebih dekat," Andre menjawab cepat.


"Hmmm... bukannya kita udah dekat?"


"Lebih dari itu,"


"Aku masih nyaman begini,"


"Gitu... gak apa, aku bakal nunggu kamu siap," kata Andre. Mereka lalu menyantap makanan yang sudah diantar pramusaji.


Setelah makan mereka kembali ke kantor.


"Hel... Aku serius soal yang tadi," ia menahan lengan Rachel saat akan membuka pintu mobil.


"Hmmm... aku pikir dulu, boleh?" tanya Rachel.


"Silahkan, tapi jangan buat aku menunggu terlalu lama," kata Andre.


"Ya, aku masuk dulu ya," kata Rachel.


"Hel...?"

__ADS_1


"Ya?"


"Nggak jadi, kamu masuklah duluan. Aku mau parkir," kata Andre, Rachel mengangguk dan segera keluar.


Rachel berjalan masuk ke kantornya sambil berpikir tentang Andre. Sejauh ini Andre memang sangat baik. Ia tak pernah melakukan sesuatu di luar batas kewajaran. Ia juga memikirkan bagaimana nanti bila Bram tahu. Pasti ia akan marah besar.


Saat ia sampai di mejanya, tak lama kemudian Cecil datang sambil tersenyum, berbanding terbalik dengan Rachel.


"Kusut amat mukanya," kata Cecil.


"Aaah pusing,"


"Kamu sakit?" tanya Cecil.


"Nggak kok, kamu seneng banget, berbagi dong," kata Rachel.


"Ini?" ia menyodorkan beberapa cemilan.


"Yeee bukan itu, lagi happy ya?" kata Rachel.


"Happy dong, tadi aku keluar nemu ini. Bagus banget dan baru lounching," kata Cecil mengeluarkan sebuah lipstik keluaran terbaru dari brand yang saat ini sedang trend.


"Ooh ini, bagus banget. Kok nggak beliin sih?" kata Rachel sambil melihat warnanya.


"Yeee aku nggak tau kalau kamu juga suka ini Lagian aku tu dibeliin Bram tadi... " kata Cecil tapi ia langsung menutup mulutnya saat melihat Rachel. Ia keceplosan.


"Oooh Bram, nih...!" Rachel menyerahkan lipstik milik Cecil dan kembali ke mejanya.


"Hel... kamu marah? Maaf aku..."


"Nggak kok, aku nggak marah. Beneran!" Rachel memberikan senyum terbaiknya.


"Bener? Aku nggak enak, tadi aku mau ngajak kamu makan siang bareng Bram. Tapi kamu keburu pergi,"


"Gak apa kok, aku tadi makan siang bareng pak Andre," kata Rachel.


"Serius?" tanya Cecil. Rachel mengangguk.


"Dia juga nembak tadi," kata Rachel.


"Wow... terus? terus?" tanya Cecil.


"Yaaaa... udah gitu aja, aku masih pikir-pikir,'


" Yaaah, kok gitu sih? terima aja kenapa. Orangnya baik, perhatian, lembut, idaman nggak sih," komentar Cecil.


"Ku pikir dulu deh," kata Rachel.


"Kalau aku sih langsung iyes kalau di tembak pak Andre," kata Cecil.


"Kalau Bram?" tanya Rachel. Gadis itu terdiam dan salah tingkah. Ia tak menjawab dan hanya tersenyum lalu kembali ke mejanya.


Rachel kembali kesal dengan Bram. Dia seenaknya melarang Rachel dekat dengan Andre, dia malah mendekati Cecil padahal dia udah pacaran dengan Tania. Sebenarnya siapa cowok yang nggak baik?


Rachel menghela napas dan menggelengkan kepalanya mengusir banyaknya pikiran yang memenuhi kepalanya. Apa ia harus menerima Andre? Sebenarnya ia tak mencintai Andre tapi memang ia sangat baik dan romantis menurut Rachel. Tapi hatinya biasa aja, tidak ada perasaan berdebar saat di dekatnya. Tapi memang berada di dekat Andre membuatnya nyaman.

__ADS_1


Akan ia pikirkan hal itu nanti. Sekarang fokus ke pekerjaannya dan segera pulang. Rachel rindu kamarnya dan pemandangan dari balkonnya. Akankah pria itu latihan lagi malam ini? Rachel tersenyum membayangkan akan bertemu Jim nanti malam. Semoga ia latihan malam ini.


__ADS_2