Dunia Tanpa Sekat

Dunia Tanpa Sekat
71


__ADS_3

Teman seruangan Rachel heboh saat melihat Rachel kembali ke kantor diantar seseorang menggunakan motor. Rachel hanya menunduk malu tapi tak merespon pertanyaan teman-temannya.


Akhirnya Rachel bisa menemukan semangatnya kembali setelah selama ini pikirannya dipenuhi tanda tanya dan masalah lain.


Ia mengabaikan tatapan mengiba dari Andre. Ia tahu Andre mungkin sudah terlanjur kecewa karena berharap pada Rachel. Rachel berkali-kali meminta maaf pada Andre.


Sejak Rachel dekat dengan Jim, Bram seperti memberi jarak antara dirinya dan Rachel. Ia tak mau menjadi penyebab jika Jim tak lagi mendekati Rachel. Ia mau Rachel bahagia dengan pilihannya. Apa Bram ada hati pada Rachel? Saat ini tidak.


Noey juga sedikit kecewa karena Rachel sudah jarang mengajaknya hangout atau sekedar duduk santai di cafe, menghabiskan senja bersama setelah bekerja lalu pulang. Noey rindu sosok kakak yang selalu diajaknya bercerita tentang banyak hal.


Beberapa kali Rachel pulang ke rumah bundanya dan menginap di sana. Tentunya ia diantar oleh Bram. Hal itu membuat bunda menjadi senang karena selalu dikunjungi Rachel dan Bram.


Suatu hari, saat ujung minggu. Rachel sedang bersantai di teras rumah seorang diri. Andre datang menemuinya tanpa mengabari terlebih dahulu. Mereka duduk di teras.


"Ada apa Ndre? Tumben kesini," kata Rachel sedikit canggung. Karena selama ini Andre terlihat menjaga jarak dengannya. Entah karena Andre tau kedekarannya dengan Jim atau karena penolakan tempo hari.


"Aku kangen..." ucapnya pelan.


"Ndre..."


"Aku tahu ini salah, tapi aku nggak bisa bohong. Aku sulit untuk tidak peduli dengan kamu," ucapnya. Rachel tidak tahu harus berkomentar apa, jadi dia diam saja memainkan bantalan kursi di pelukannya.


"Hel.. Bisa kasih aku satu kesempatan aja buat bisa buka hati kamu," pintanya.


"Maaf Ndre, tapi aku punya seseorang yang harus aku perjuangin,"


"Apa dia Jim?" tanya Andre. Rachel mengangguk.


"Sejujurnya aku dan dia udah lama jadian, tapi ada banyak hal yang bikin kami harus jaga jarak. Aku harap kamu ngerti Ndre, aku nggak bisa ninggalin dia," kata Rachel.


"Sama sekali tidak ada kesempatan untukku?" tanya Andre menatapnya dengan mata sedikit menyipit.


"Maaf Ndre, maaf banget tapi..."


"Hel... Kamu nggak liat perjuanganku selama ini?" ucapnya sambil meraih kedua tangan Rachel dan menggenggamnya.


"Ndre... Jangan gini. Maaf kalau aku pernah seolah memberi harapan, aku..."


"Kamu anggap aku pelarian?" tanya Andre yang menggenggam tangan Rachel. Rachel berusaja menarik tangannya tapi Andre menggenggamnya lebih kuat.

__ADS_1


"Bukan gitu Ndre, tapi..."


Sebuah mobil memasuki pelataran parkir. Lalu keluarlah Bram dan Noey menghampiri Rachel. Andre segera menarik tangannya kembali.


"Ngapain dia di sini?" tanya Bram ambil mengedikkan dagunya.


"Nggak ngapa-ngapain kok, ayo masuk!" ajak Rachel.


"Aku pamit aja Hel, ada janji ketemu seseorang. Aku permisi.." Andre berdiri lalu berjalan melewati Noey dan Bram.


"Kalau kamu nyakitin dia sedikit aja, kamu berurusan denganku!" bisik Bram saat menahan tangan Andre.


"Ngancam?" tanya Andre sambil tertawa sinis. Ia menghentakkan tangan Bram, lalu berjalan menuju halaman dan memundurkan mobilnya meninggalkan rumah Rachel.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bram.


"Nggak apa-apa, ayo masuk!" ajak Rachel.


"Ngapain dia di sini?" cecar Bram.


"Cuma main..."


"Lain kali, jangan biarkan dia main di sini kalo nggak ada aku atau Noey," ucap Bram dengan wajah memerah menahan marah.


"Aku nggak mau dibantah! Selama ini aku biarin dia deket dengan kamu, main ke sini. Tapi sekarang batasi itu!"


"Iya! Tapi sebelum itu aku harus tau kenapa?"


"Sudah! Pokoknya dengarkan aku. Kalau nggak, aku anter kamu pindah ke rumah bunda dan aku jual rumah ini!" ucap Bram.


"Kamu kelewatan!" ucap Rachel.


"Nggak! Ini demi kamu!"


"Nggak! Ini demi ego kamu! Ada hak apa kamu melarang aku soal ini dan itu?"


"Rachel!"


"Apa? Selama ini aku diam aja. Aku nggak bantah kamu. Aku tanya alasan kamu berkelit. Kalau memang kamu punya masalah dengan dia, selesaikan! Jangan libatkan aku!" ucap Rachel.

__ADS_1


"Ini bukan masalah aku sama dia doang Hel, ngerti dong!"


"Iyaaa, aku capek ikutin mau kamu. Kamu bukan siapa-siapa. Kamu cuma bantuin bunda jagain aku. Inget, aku bukan anak kecil yang harus dijaga dan harus ngelapor ke bunda!"


"Oke, jadi kamu nggak mau lagi aku ikut campur!"


"Iya!"


"Oke, kalau ada apa-apa jangan cari aku! Aku udah peringatin berkali-kali. Andre tidak sebaik yang kamu kira!" ucap Bram. Ia meraih topi di atas meja dan pergi meninggalkan mereka. Setelah Bram keluar, menstarter mobilnya dan pergi dari halaman rumah barulah air mata Rachel keluar. Ia duduk menangis, kesal. Bram selalu mengaturnya dan melarangnya tanpa alasan yang jelas. Rachel juga butuh alasan untuk menjauh dari Andre atau siapapun.


"Kak..." panggil Noey.


"Aku benci Bram, Noey! Kenapa sih dia itu lebay banget!"


"Udah... Mungkin memang ada alasan. Kakak tenang dulu, sama-sama emosi. Nanti kalau sudah nggak emosi, kalian bicarain,"


"Nggak Noey, males! Biarin aja dia! Aku males diatur ini itu,"


"Tapi kan maksud kak Bram baik. Toh dia nggak ngelarang kakak deket dengan kak Jim,"


"Belain aja kakak kamu!"


"Kak! Kok gitu sih! Noey nggak memihak siapapun," ucap Noey menggaruk kepalanya.


"Kakak mau istirahat dulu! Kamu juga, kalau mau makan itu ada di belakang. Kakak capek!" ucap Rachel, ia beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya.


Ia berbaring di kamarnya menatap langit-langit kamarnya sambil menangis. Dia benci jadi orang yang tidak berdaya. Dan ia juga benci dengan Bram yang terang-terangan melarangnya ini itu. Siapa Bram? Cuma teman dekat. Tidak lebih.


Andre mengiriminya pesan singkat.


Maaf kalau aku mengganggu kamu, maaf untuk kejadian tadi.


Hanya pesan singkat. Rachel sedang malas untuķ membalas. Ia mengabaikan pesan Andre.


Kenapa untuk dekat denganmu sesulit ini?


Lagi, ia mengirimi Rachel pesan singkat. Rachel mematikan ponselnya lalu berusaha untuk tidur siang. Perasaannya saat ini lebih sakit mengingat keributannya dengan Bram daripada mengingat Andre.


Rachel kesal Bram tidak mengerti yang sebenarnya terjadi dan memarahinya. Lau terang-terangan membenci Andre. Ada masalah apakah mereka di masa lalu? Sampai-sampai Bram sangat membenci Andre? Padahal dulu saat di sekolah mereka lumayan akur. Entah kenapa sekarang aura permusuhannya lebih dominan.

__ADS_1


Rachel tidur menghadap jendela yang mengarah ke taman bermain. Andai Jim tidak hilang ingatan. Andai ia bisa melihat Jim berlatih kembali di taman itu. Andai Jim ada untuknya, pasti Andre tidak akan ke sini dan tidak ada permusuhan diantara Bram dan Andre. Seandainya Jim... Tunggu! Jim... Dia...


Bersembeng aja...


__ADS_2