
Rachel masih menonton televisi bersama Cecil dan bunda malam itu. Beberapa kali mereka tertawa melihat tayangan komedi di televisi sampai akhirnya Cecil pamit akan tidur. Bunda pun dengan tegas menyuruh Rachel agar tidur dan beristirahat mengingat ia baru saja sembuh.
Rachel beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya. Ia segera berbaring dan menyelimuti dirinya dengan selimut lembut kesayangannya. Tiga puluh menit berlalu tapi tak juga ia mengantuk. Ia memikirkan buku kemarin. Rachel bangun dan meraih buku yang ditulis oleh orang yang tak diketahui siapa.
Mata Rachel membelalak saat melihat sebuah tulisan baru terukir di sana.
Selamat datang kembali. Aku rindu,
Bagaimana mungkin orang ini bisa tahu ia sudah pulang dari rumah sakit. Yang tahu ia sakit hanya teman kantor dan keluarga, selain itu tak ada yang tahu atau menjenguk. Apa salah satu diantara mereka yang menulis ini? Tapi mustahil, buku ini selalu ada di kamarnya.
Tulisan itu semakin membuatnya tak bisa tidur. Entah siapa yang iseng melakukan ini. Bila ia menemukan orangnya ia akan menanyakan banyak hal, apakah ia berniat baik atau buruk.
Karena tak bisa tidur, Rachel membuka pintu kamar. Ruangan lain sudah sepi, ia berjingkat menuju lantai atas. Entah ada hal apa dia tas sana tapi selalu menarik hatinya bila sedang memikirkan sesuatu. Ia seperti terhipnotis untuk datang ke lantai atas.
Rachel sampai di lantai atas. Ia membentangkan karpet di lantai dan duduk di sana sambil membuka akun sosmed nya. Saat sedang asyik membaca sebuah artikel, Andre menelponnya.
"Halo," sapa Rachel setelah menekan tombol hijau pada ponselnya.
"Halo, belum tidur? Apa aku ganggu?" tanya Andre di seberang sana.
"Nggak kok, aku nggak bisa tidur,"
"Kenapa? nanti sakit lagi, jangan begadang dulu,"
"Nggak kok, kayaknya karena kebanyakan istirahat dan tidur dari kemarin-kemarin. Ada apa nelpon Pak Andre?" goda Rachel.
"Formal banget! emang aku setua apa sih?"
"Hahaha tua banget!"
"Hmmmmh,"
"Marah nih?"
"Nggak kok,"
Sejenak Andre terdiam, begitu juga dengan Rachel sampai Rachel mengira bahwa sambungan telepon mereka terputus tapi ternyata masih nyambung.
"Ndre? Halo?"
"Ah ya, sorry tadi ngecek email bentar. Kamu kapan mulai masuk kerja?"
"Kenapa? Kangen?"
__ADS_1
"Iya,"
"Tadi kan udah ke rumah,"
"Masih kangen, boleh nggak kapan-kapan kita jalan?"
"Uhmmm boleh asal waktu senggang,"
"Oke deh, tidur gih, udah larut banget. Kamu jangan tidur malam-malam. Kan baru sembuh,"
"Iyaaaa, bawel!"
"Dih sama atasan begitu,"
"Biarin! Kan ini bukan di kantor," Rachel terkekeh.
"Ya udah, aku tutup ya, bye,"
"Bye," Rachel menekan tombol bertanda merah pada ponselnya. Ia meletakkan ponsel di lantai lalu berjalan ke jendela. Membuka tirainya dan berjalan menuju balkon.
Pandangannya tertuju pada taman di seberang sana. Sepi tapi ia kembali melihat pria itu menari. Kali ini ia menari dengan gerakan lincah kesana kemari. Rachel memperhatikan gerakannya dan takjub dengan tarian yang dibawakan oleh pria itu. Bila melihatnya seolah kita merasakan apa yang ia rasa. Sayang ia tak sempat kenalan.
Lama sekali pria itu menari hingga saat ia mengakhirinya Rachel tersenyum. Pria itu menyeka dahinya dan meminum air di botol yang di bawanya. Saat ia mendongak mau minum matanya melirik ke arah jendela dimana Rachel berdiri melihatnya. Pria itu mengangguk dan di balas Rachel dengan anggukan.
Pria itu duduk di salah satu ayunan dan memainkan botol di tangannya. Entah apa yang dipikirkannya tapi Rachel tak bisa melepas pandangannya dari pria itu. Pria yang terlihat seperti warga negara asing dan terdampar di daerah ini. Bukankah terlihat mencolok? Tapi Rachel tak pernah mendengar rumor apapun tentang pria berwajah ganteng dengan rambut keperakan. Dan bahkan jago nge-dance.
Lagi. Pria itu menoleh dan menatap Rachel sambil tersenyum. Lalu melambai. Rachel hanya mengangguk dan merasa kikuk karena ketahuan memperhatikan pria itu dari jauh. Rachel segera masuk ke kamarnya dan menutup jendela serta tirainya. Ia turun kembali ke kamarnya dan langsung berbaring.
Lama sekali ia baru bisa terpejam. Selalu terbayang wajah pria tadi. Pria dengan senyum manis dan bibir tipis dan merah khas warga asing. Akhirnya ia menguap dan memejamkan matanya lalu tertidur lelap.
***
Rachel bangun dari tidurnya dan melihat seseorang sedang duduk di sampingnya sambil menatap Rachel yang sedang tidur. Pria itu! Rachel langsung duduk di tempat tidurnya dan bergerak menjauh.
"Kamu! Ngapain di sini?" tanya Rachel.
"Tenanglah, aku hanya melihatmu sebentar. Sudah enakan?" tanyanya dengan bibir merah, berkulit putih dan rambut keperakan. Rachel hanya mengangguk meski takut.
"Kamu lewat dari mana?" tanya Rachel.
"Depan," jawabnya menunjuk pintu kamar.
"Apa... Apa bunda tahu kamu di sini? Cecil?" tanya Rachel.
__ADS_1
"Tenanglah, kalau kamu tidak berisik mereka tak akan tahu,"
"Ja... Jadi kamu?" tanya Rachel.
"Ssst... aku hanya melihatmu sebentar. Maaf aku tak bisa menjengukmu di rumah sakit,"
"Bagaimana kamu tahu aku di rumah sakit?" tanya Rachel.
"Oh ya, kalau kamu tak bisa tidur kamu bisa menemaniku menari di taman," katanya tak menggubris pertanyaan Rachel.
"Tidak!" jawab Rachel tegas.
"Apa kau takut? Bukankah kamu menikmati tarianku?" tanyanya lagi.
"Tidak juga, aku hanya heran kenapa kamu menari di malam hari,"
"Kenapa harus heran? Bukankah kamu juga melakukan pekerjaanmu di malam hari? Kita sama Rachel,"
"Ka... Kamu tahu namaku?"
"Tentu, bukankah semua orang di rumah ini menyebutmu begitu?"
"Kamu membuatku takut, pergi! Aku tak tahu siapa kamu!"
"Tidak, aku akan ada di sini selalu," jawabnya sambil tersenyum.
"Tidak...! Bundaaaaa! Bundaaaaa!"
"Mereka tidak akan mendengarmu,"
"Pergi kamu! Bundaaaaa, tolooooong! Cecil? Braaaam?" Rachel berteriak dan tak bisa lari. Entah kenapa kakinya seperti membatu dan tak bisa digerakkan. Ia hanya mampu menggerakkan kepalanya sambil memanggil orang yang ada di rumah.
"Tenanglah," pintanya.
"Tidaaaak! Bundaaaaaa! Cecil! Braaaam! Tolong!" air mata mengalir di kedua pipi Rachel. Pria itu mengusap air matanya dan tersenyum membuat Rachel semakin takut bila pria itu menyakitinya atau berbuat mesum.
"Sudah ku bilang, tenanglah. Aku hanya ingin berteman," katanya sambil berbisik di telinga Rachel.
"Bundaaaaa," panggil Rachel pelan.
"Please, jangan nangis. Aku tak berbuat yang salah padamu," katanya putus asa.
Apanya yang tak berbuat salah. Masuk tanpa izin dan mengganggu tidur Rachel di kamarnya. Bukankah itu melanggar privacy dan sesuatu yang salah?
__ADS_1
"Bundaaaaaaa! Bundaaaa! Bundaaaaa!" teriak Rachel setelah terdiam sejenak. Ia berharap bunda mendengarnya.
Pria itu berdiri dan melihat ke pintu, terdengar suara langkah kaki mendekat ke kamar Rachel. Ia melirik Rachel sejenak sebelum berlari melompati jendela kamar Rachel sedetik sebelum bunda masuk.